My Lovely Brother

My Lovely Brother
14. Bersama Arkan


__ADS_3

Beberapa menit perjalanan terasa hening. Karena kedua orang di dalam mobil ini memutuskan untuk diam. Mungkin masih terlalu canggung karena belum terbiasa bertemu.


"Itu yang tadi adik tiri kamu?" tanya Arkan. Walaupun dia dan Reya tidak pernah berhubungan semenjak Reya menjauh dari dirinya. Tapi Arkan lumayan tau tentang kehidupan gadis itu dari beberapa sumber.


"Iya, dia Gara adik aku. Mungkin udah sebulan dia jadi adik aku. Kamu kenal sama dia sebelumnya?"


Arkan menggeleng, tapi dia merasa tidak asing dengan sosok itu. "Tadi kali pertama Kakak lihat dia, kalian kelihatan akrab untuk ukuran satu bulan baru tinggal bareng."


"Gak akrab banget kok, Kak. Karena aku bakalan selalu benci sama dia. Mungkin lagi agak akur aja."


Iya kah? Tapi di mata Arkan apa yang dia lihat sangat berbanding terbalik dengan kata-kata Reya barusan.


Mungkin memang iya juga, lagian baru pertama kali Arkan melihat mereka berdua. Reya jelas lebih tau bagaimana hubungan dirinya dengan Gara.


Mereka masuk ke sebuah cafe yang menjual aneka jenis cake dan minuman manis dengan desain imut.


Reya lumayan menyukai tempat ini, dia juga tidak menyangka kalau Arkan akan mengajaknya ke sini.


"Aku kira kamu bakalan ajakin aku ke tempat yang membosankan."


"Kenapa mikir gitu?" tanya Arkan. "Karena Kakak udah tua, jadi gak boleh datang ke tempat lucu gini?"


Reya terkekeh, padahal bukan seperti itu maksudnya. Mereka memang belum pernah jalan berdua sebelumnya, jadi dia tidak tau bagaimana selera Arkan.


"Lupain aja yang tadi. Oh iya, ini jaket kamu."


Arkan menerima dengan raut wajah yang terlihat kurang senang. "Kalau Kakak ajakin kamu keluar bukan untuk kembalikan jaket, apa kamu bakalan mau?"


Reya merasa jantungnya berdegup kencang, yang Renata bilang tentang Arkan apa benar? Bahwa cowok ini mulai menaruh rasa kepada Reya.


"Kalau kamu enggak sibuk aja, Re. Kalau lagi sibuk enggak usah dipaksa."


Reya menggeleng. "Aku jarang banget sibuk, kamu kali yang sibuk. Secara kamu udah kerja dan sering lembur. Kalau aku cuma mahasiswa biasa, yang kadang ada tugas dan kadang enggak."


"Berarti bisa kalau Kakak ajak keluar?" tanya Arkan lagi, memastikan bahwa dia tidak salah mengartikan maksud Reya barusan.


"Boleh-boleh aja aku."


Arkan tersenyum, kemudian memesankan cake dan minuman untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Rumah kamu tadi sepi banget, pada kemana?"


"Oh, Mama sama Papa udah dua hari di luar kota. Mungkin bakalan balik lusa, makanya aku minta keluar jam segini. Karena kalau malam aku harus sama Gara, dia gak suka makan malam sendiri. Katanya sepi dan bikin gak selera makan."


"Kamu katanya benci sama dia, tapi aslinya peduli banget."


"Enggak kok, aku emang benci sama dia." Reya langsung membantah dan memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.


Arkan terkekeh. "Kamu gak benci sama Gara, Re. Tapi kamu cuma gengsi menunjukkan rasa peduli kamu sama dia. Karena pada awalnya kamu emang benci, tapi setelah mengenal Gara kamu gak bisa membenci dia lagi."


Entahlah, Reya juga tidak tau apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia juga tidak memikirkan, namun Reya tidak berbohong kalau dia kaget dengan sifat Gara yang ternyata baik.


"Kak, jangan bahas Gara. Rugi aja kita keluar dari cari tempat kalau cuma mau bahas aku sama Gara. Kamu katanya mau banyak ngomong sama aku."


Arkan mendadak terlihat serius dan menatap Reya lekat-lekat.


"Kakak mau minta maaf untuk kejadian di masa lalu. Seharusnya Kakak gak menolak kamu di depan umum kayak gitu. Kakak terlalu kekanak-kanakan dan gak bisa menghargai kamu. Semenjak hari itu rasa bersalah selalu menghantui Kakak, tapi Kakak malah menjadi pengecut yang gak berani ngomong sama kamu lagi. Hingga bertahun-tahun berlalu dan kita bisa ketemu lagi. Kakak kira kamu bakalan menghindar, tapi ternyata kamu masih ramah dan baik seperti dulu.”


Ah, ternyata perihal di masa lalu. Padahal Reya sudah berusaha keras untuk melupakan itu semua. Namun mau bagaimana lagi karena Arkan yang membahasnya terlebih dulu.


"Santai aja, Kak. Aku bakalan lebih sakit kalau kamu terima aku di depan banyak orang, tapi di belakang kamu langsung putusin aku. Jangan merasa bersalah, semuanya juga udah berlalu. Lagian aku yang salah karena terlalu buru-buru ungkapin perasaan padahal kita baru kenal dua bulan. Maaf ya, kamu pasti gak nyaman waktu itu."


Hah? Jika begini ceritanya, kemungkinan Arkan memang ada rasa kepada dirinya dulu?


"Jadi Kakak selama kuliah gak pernah pacaran?"


"Sampe sekarang juga gak pernah. Jadi kalau kamu berpikir Kakak menolak kamu karena alasan lain, itu salah besar. Karena setelah melihat kamu sama yang lain, aku merasa agak sakit."


Reya menatap Arkan lekat-lekat, dia mencari kebohongan di mata itu tapi sama sekali tidak menemukannya.


"Steven beruntung bisa sama kamu. Sebenarnya waktu itu aku merasa kamu adalah orang yang tepat, tapi waktunya yang salah."


Arkan berhasil membungkam Reya dengan semua pengakuan yang selama ini Reya ingin tau jawabannya.


Ternyata butuh waktu selama dua tahun untuk Reya tau, apa alasan dirinya mendapatkan penolakan.


"Kamu jangan menjauh dari Kakak setelah tau semuanya ya. Kakak cuma mau mengungkapkan karena gak bisa memendam itu semua. Sekarang waktu yang pas, maaf sekali lagi Reya."


****

__ADS_1


Reya pulang ke rumah dengan sebuah paper bag di tangannya. Dia mencari keberadaan Gara di lantai satu, tapi cowok itu tidak ada.


Dia langsung menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Gara. "Masuk aja gak dikunci."


Reya melihat Gara yang masih berkutat dengan tugas. "Gue bawain lo cemilan, mana tau makan yang manis bikin lo makin semangat buat kerjain tugas."


Gara melihat ada beberapa jenis kue yang Reya beli. "Lo udah pergi dari pagi dan baru pulang pas mau magrib, emang kemana aja sama Kak Arkan? Senang banget pasti seharian sama dia terus.”


"Oh, tadi abis dari cake cafe. Aku sama dia makan siang bareng, terus nongkrong di taman dekat alun-alun."


"Udah puas lah ya, melepas rindu sama mantan gebetan." Gara meletakkan paper bag tersebut di atas meja.


"Ih kok malah disimpan lagi kuenya, makan dong. Lo pasti butuh cemilan dan gue udah beliin khusus buat lo.”


"Gak selera karena lo belinya sama Arkan, pasti dia yang bayar."


"Enggak, gue beli pake uang gue sendiri. Lihat aja struck nya."


Gara menerima dan membaca bahwa pembayaran memang melalui rekening Reya. Dia tidak bisa menahan dan berakhir dengan tersenyum.


"Makasih ya Kakak, lo masih ingat sama adik pas lagi makan enak sama gebetan."


"Berhenti bilang gebetan, karena itu cuma bagian dari wisata masa lalu. Gue sama dia gak akan ada hubungan apa-apa lagi sekarang."


”Iya, gak ada hubungan apa-apa lagi.” Gara sengaja meniru karena berniat mengejek Reya.


Gara mencoba kue yang Reya belikan dan ternyata rasanya sangat enak.


"Belum aja kalau sekarang, nanti juga cinta lama bersemi kembali. Gue udah hafal sama siklus kayak gitu. Digombal dikit sama Kak Arkan aja, move on lo langsung goyah dan perasaan lo buat dia balik lagi."


Reya mendorong tubuh Gara. "Gue gak semurahan itu kali. Ya udah gue mau mandi dulu, karena nanti malam bakalan keluar sama adik yang paling gue benci."


Gara hanya terkekeh saja, Reya benar-benar pergi.


Setelah itu Gara duduk terdiam dengan perasaan takut. Apa Reya benar akan jatuh cinta lagi kepada Arkan?


Re, tolong jangan lirik cowok lain terus. Gue ada di sini dan beneran tulus sama lo.


Gara ingin mengatakan itu semua di depan Reya. Tapi dia malas karena Reya pasti akan mengira dirinya hanya bercanda saja.

__ADS_1


Jika begini terus, kapan dia bisa memiliki Reya?


__ADS_2