My Lovely Brother

My Lovely Brother
38. Resya menjauh


__ADS_3

Libur telah berakhir, walaupun masih ingin bermalas-malasan. Semua mahasiswa harus kembali masuk ke kampus untuk melaksanakan kewajiban tetap sebagai mahasiswa.


Gara keluar dari kamar, dia melangkah ke ruang makan yang sudah sepi. Mama dan papa memang pergi kala jam setengah tujuh tadi, sementara Reya? Kemana gadis itu pergi.


Gara mendekat ke arah asisten rumah tangga yang sedang mencuci piring. "Reya belum turun buat makan, Bi?"


"Neng Reya udah pergi sejak setengah jam yang lalu. Bibi juga enggak tau kenapa dia kelihatan buru-buru."


"Oh gitu, makasih ya. Aku kira dia belum bangun tidur."


Sekarang Gara paham apa yang sebenarnya terjadi. Cewek itu jelas sedang menghindar dari dirinya.


Sejak pulang berlibur Reya memang terlihat menjaga jarak dan enggan berbicara banyak hal dengan Gara.


Gara mengulum senyum, Reya selalu menjadi pihak pecundang yang ciut hanya karena dirinya berkata menyukai gadis itu.


”Oh iya tadi Ibu berpesan kepada saya, supaya Den Gara sama Neng Reya langsung pulang setelah kuliah selesai. Soalnya Bapak sama Ibu katanya akan pulang terlambat malam ini.”


”Reya udah tau soal ini, Bi?”


”Belum, Den. Tadi Neng Reya buru-buru banget, pas Bibi mau ngomong dia udah gak ada di sini.”


”Ya sudah biar saya saja yang sampaikan sama Reya nanti.”


Gara kembali melanjutkan makannya dengan senyuman yang tidak menghilang dari wajahnya. Saat pulang nanti dia akan berusaha mencari cara agar Reya banyak berbicara dengan dirinya.


****


Gara dan teman-temannya berada di kantin, sebab dosen yang mengajar ternyata tidak bisa datang hari ini. Alhasil daripada berada di kelas, mereka memutuskan untuk mengobrol di kantin saja.


Kantin masih sepi, mahasiswa yang lain jelas sedang berada di ruang kelas untuk mendengarkan basa-basi dosen di awal perkuliahan.

__ADS_1


”Tadi gue lihat Reya di akademik, dia lagi urus surat izin magang apa gimana?” tanya Gabriel.


”Kayaknya sih iya, semester ini emang udah jatah dia magang. Dari yang gue tau dia emang gak ada mata kuliah lagi. Cuma gue gak nyangka kalau Reya bakalan langsung ambil di awal semester.”


Mendengar itu semua Gabriel mendadak lesu. “Yah, gue gak ada alasan lagi buat main ke jurusan dia. Biasa gue ke sana buat lihat Reya, walaupun enggak ngomong.”


”Kapan lo ke sana?” tanya Gara yang tidak tau apa-apa soal ini. Apa gabriel memang berniat serius mendekati Reya?


”Sering, ngapain juga gue ajak lo buat lihat Reya. Lo udah ketemu sama Reya di rumah, yang ada bakalan larang gue buat ketemu sama dia.”


Gara manggut-manggut saja, ternyata diam-diam Gabriel berusaha tanpa sepengetahuan dirinya.


”Lain kali kasih tau sama gue, biar lo dapat restu.” Gara menaikkan kakinya ke atas meja kantin dengan sangat santai. “Cara tau cewek suka sama kita atau enggak gimana sih? Gue penasaran banget, karena cewek kelihatan susah banget buat ditebak. Kadang kelihatan suka tapi aslinya malah enggak. Ada yang biasa aja sikapnya padahal aslinya naksir berat.”


Atha dan Gabriel saling menatap. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari pertanyaan yang baru saja Gara ajukan. Hanya saja terasa berbeda karena Gara yang bertanya. Selama mereka berteman dan mengenal, Gara si paling jarang membahas perihal cewek dan sekarang cowok itu malah bertanya kepada temannya.


"Kok malah diem, gue butuh jawaban dari kalian berdua. Secara di antara kita bertiga emang gue yang paling minim ilmu soal menaklukkan cewek. Makanya gue meminta penjelasan dari kalian. Biar gue berhasil dan gak berakhir gagal di percobaan pertama.”


”Cewek mana yang berhasil bikin lo jatuh cinta?” tanya Atha masih susah mencerna semuanya.


"Gar, sebenarnya gue juga bingung harus kasih respon apa buat lo. Gue cuma senang karena akhirnya tau kalau lo normal dan suka sama cewek. Maaf karena beberapa kali gue sempat mikir kalau ada kemungkinan ternyata lo suka sama gue atau Atha. Secara lo paling dekat sama kita berdua.”


Respon yang terdengar dramatis dari Gabriel membuat Gara menjadi malas. "Skip deh, gue rasa salah menanyakan itu semua sama orang gak serius kayak kalian berdua. Rugi gue membuka pembahasan tapi gak dapat jawaban apa-apa.”


"Kok malah ngambek sih, gue senang karena lo minta pendapat. Tapi sebelum itu gue sama Atha jelas harus tau siapa cewek yang lo suka." Atha menyetujui apa yang Gabriel katakan.


"Harus banget tau orangnya dulu, buat apa emangnya? Gak bisa langsung lo kasih tau gerak-gerik dari cewek yang suka balik sama cowok. Gue cuma butuh itu, bukan mau kenalin cewek yang gue suka ke kalian berdua.”


"Harus, karena itu kunci utama demi kesuksesan misi lo. Karena sifat dan karakter semua cewek beda-beda dan berbeda juga cara mereka menunjukkan perasaannya. Jadi siapa cewek yang lo suka?" tanya Atha masih belum menyerah.


"Gue gak bisa sebut namanya karena kalian juga gak akan kenal. Jadi gue mau kasih tau ciri-cirinya aja sama kalian, gimana bisa gak kalau gitu? Kalau enggak bisa gak jadi deh gue tanya."

__ADS_1


"Takut banget kayaknya lo, gue sama Gabriel gak akan merebut cewek yang lo suka. Justru lebih bahaya gini, kita berdua gak tau siapa yang lo suka dan bisa jadi malah suka sama satu orang yang sama. Hayo, gimana kalau kejadiannya malah gitu?”


Gara menggeleng. "Lo berdua gak mungkin suka ataupun kenal sama dia. Karena dia bukan mahasiswa di sini dan dia kenalan gue waktu SMA. Jadi gue bakalan sebut langsung ciri-cirinya, dia cantik, tapi gengsian. Terus ceweknya sederhana, gak feminim banget dan gak tomboi. Sifatnya cuek banget, suka emosian dan dekat banget sama ayahnya. Kalau cewek kayak gitu, gue harus apa supaya bisa mendapatkan hatinya?"


"Itu cewek umur berapa sekarang? Karakter sifat ayahnya gimana?" Pertanyaan Gabriel seperti detektif yang sedang memecahkan suatu kasus.


"Dia seumuran sama kita lah kurang lebih. Gue gak tau karakter ayahnya karena beliau udah meninggal. Tapi kata dia ayahnya adalah sosok paling baik, lembut, juga perhatian. Dia lebih dekat sama ayahnya dibandingkan sama mamanya.”


"Sorry-sorry deh, gue gak tau. Kalau ayahnya udah meninggal berarti lo harus bersikap lebih dewasa dan gentle di depan dia. Secara kalau anak perempuan yang dekat sama ayahnya, pasti bakalan mencari duplikat ayahnya di diri orang lain." Artha memberikan nasehat.


"Karena kalau dia dekat banget sama ayahnya, standar cowok yang dia sukai ya tipe yang mirip sama ayahnya. Jadi lo jangan coba-coba menjadi bocah egois yang menyebalkan di depan dia. Lo harus bisa menjadi sosok pendengar yang baik untuk dia bercerita. Bukan malah menjadi sumber emosi. Selama ini dia selalu menceritakan apapun sama ayahnya, gue yakin akan itu. Ayah adalah sandaran dia di dunia ini, jadi gue harap lo bisa menggantikan posisi itu.”


Gara seakan tertampar dengan semua yang Atha katakan. Selama ini dia memang bersikap terlalu kekanak-kanakan di depan Reya. Selalu ingin menang dari cewek itu. Gara lupa kalau Reya adalah anak perempuan pertama dan satu-satunya, dia pasti ingin dimanja bukan dibuat emosi.


Reya banyak kehilangan kasih sayang setelah ayahnya meninggal. Tidak dihargai di keluarga besarnya dan mamanya juga sudah menikah dengan lelaki lain yang merupakan ayah kandung Gara.


"Paham enggak apa yang gue bilang, kenapa malah diam aja? Apa terlalu berat sampe lo merasa gak sanggup untuk melakukan itu semua?”


"Apa yang lo bilang emang terdengar masuk akal. Selama ini gue selalu melakukan hal kebalikannya, mungkin karena itu juga dia gak pernah bisa suka sama gue. Selalu emosi kalau berhadapan sama gue, walaupun terkadang gue lagi gak buat salah. Kayaknya lihat muka gue aja bisa bikin darah tinggi naik.”


"Kok gue kayak familiar sama sosok yang lagi lo bilang ya. Seakan gue kenal sama karakter perempuan yang baru aja dibahas." Gabriel mulai berpikir keras.


Atha hanya tersenyum tipis karena dia juga menyadari siapa gadis yang Gara maksud. Namun dia tidak usil seperti Gabriel dan membiarkan Gara melanjutkan berbohong.


"Udah gue bilang kalian gak kenal sama dia. Gak usah sok kenal gitu deh lo. Mungkin sifatnya emang mirip seseorang tapi beda orang kok.” Gara mendadak terlihat panik, padahal tidak ada yang menyudutkan.


"Emang lo sering ketemu sama dia? Selama ini lo selalu sibuk sama tugas kuliah, ngumpul sama kita dan pulang ke rumah untuk usilin Kakak tiri. Jadi kapan waktu lo buat dia ada?" Gabriel rupanya masih belum paham, atau hanya sedang berpura-pura bodoh sekarang.


"Kapanpun gue ketemu sama dia bukan urusan lo, ngapain juga gue kasih tau sama lo kalau kita berdua mau ketemu."


"Udah-udah jangan dibahas, pokoknya kalau perasaan lo mau dibalas. Lo ikuti semua yang gue bilang barusan. Gue yakin seratus persen kalau dia gak bakalan gengsi lagi dan akan menunjukkan perasaan yang sebenarnya."

__ADS_1


Gara berterima kasih kepada Atha untuk nasehat yang diberikan. Ternyata tidak salah berbagi masalah kepadamu orang lain. Karena pikiran Gara lebih terbuka dan menjadi terarah sekarang.


Saatnya mengejar Reya dengan versi baru, semoga saja gadis itu akan terpikat.


__ADS_2