
3 tahun kemudian.
Reya sudah lulus dan bekerja di perusahaan tempat dirinya magang selama tiga bulan. Setelah lulus Reya langsung mendapatkan tawaran kerja di sana.
Arkan sudah menikah satu tahun yang lalu bersama dengan seorang model yang naik daun.
Soal Steven dan Jesica pada akhirnya mereka tidak jadi bersama. Steven memutuskan lanjut S2 di luar negeri, sementara Jesica sudah menikah dengan seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuk dirinya.
"Re, masih aja sibuk kerja lo. Ingat kalau dua hari lagi lo bakalan nikah sama Gara, jangan kebanyakan kerja. Mending pulang ke rumah dan santai-santai aja. Lo dikasih waktu cuti banyak juga malah nolak, aneh banget heran gue.”
Reya tersenyum mendengarkan ucapan Renata.
"Gak apa-apa, Re. Supaya gue bisa mendapatkan jatah cuti dengan aman. Kalau pekerjaan gue ada yang tinggal, gue gak bisa menikmati jatah cuti gue. Cuti terlalu banyak juga rasanya gak adil sama karyawan lain. Gue gak mau kalau sampe diomongin di belakang cuma karena itu.”
"Hmm, gue bakalan kasih kado paling mewah untuk cewek pekerja keras ini. Supaya dia bahagia menjalani kehidupan pernikahan dengan seseorang yang dicintai.”
Renata dan Reya sekarang bekerja di perusahaan yang sama. Karena Renata tidak menerima penawaran kerja dari perusahaan dimana dirinya melakukan magang. Renata hanya ingin menghindari cowok berengsek yang semakin terlihat berengsek itu.
"Lo lembur ya malam ini?" tanya Reya.
"Iya nih, sampe jam sembilan malam aja. Kenapa nanya, mau temenin gue lembur emangnya?" tanya Renata dengan menambahkan sedikit candaan.
"Enggak lah, masih ada banyak hal yang harus gue urus dan gue harus pulang tepat waktu."
"Tau, gue cuma bercanda aja buat ngetes lo. Gara malam ini balik dari luar kota kan?"
"Iya, dia udah naik pesawat sejak jam tiga tadi. Kemungkinan jam tujuh malam sampe rumah. Makanya gue harus pulang cepat supaya bisa menyambut dia."
"Senang banget nih yang bentar lagi mau sah. Gak ada yang nyangka kalau lo sama Gara bakalan tiba di fase ini ya."
__ADS_1
"Gue sendiri juga gak nyangka dan semuanya kerasa kayak mimpi. Dulu gue sama Gara susah banget memperjuangkan ini semua. Jadi saat gue dan dia pada akhirnya berhasil menyebarkan undangan pernikahan, itu rasanya benar-benar diluar dugaan."
"Ini namanya buah perjuangan dari semua proses yang udah kalian berdua lalui. Ya udah gue mau lanjut kerja dulu, kalau pekerjaan gue cepat siap gue bakalan pulang lebih cepat."
Renata pergi dan Reya kembali sibuk melakukan pekerjaannya.
"Re, ini kado dari Mbak. Kamu tau sendiri kalau Mbak bakalan keluar kota besok 'kan? Makanya Mbak titip kado dari sekarang." Joa memberikan sebuah paper bag besar yang berisikan sesuatu hal istimewa untuk Reya. Bagaimanapun Joa adalah orang paling dekat dengan Reya di kantor ini sebelum Renata datang.
"Ya ampun, Mbak. Padahal gak ada kado juga gak apa-apa. Terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga perjalanan bisnis Mbak berjalan dengan lancar."
"Pernikahan kamu juga semoga berjalan dengan lancar ya."
"Iya, Mbak. Terima kasih untuk doanya."
Reya merasa sangat senang karena kehidupannya selalu dikelilingi oleh orang-orang baik dan dia sangat bersyukur untuk semua hal yang sudah berhasil dicapai hingga sekarang.
Jam enam sore Reya sampai ke rumah, langsung mandi dan melaksanakan ibadah. Setelah itu dia bersama dengan mama dan papanya berada di ruang keluarga.
Beberapa keluarga memang datang kemari untuk memberikan kado dan menemani Reya. Sebab mulai besok Reya sudah tidak berangkat bekerja lagi dan akan cuti selama satu minggu ke depan.
"Gara udah dalam perjalanan pulang ke rumah dari bandara. Kalian gak boleh bertemu terlalu lama. Setelah saling tau kabar masing-masing, Gara harus segera pergi dari rumah ini. Ingat kalau mau nikah, jadi harus dipisah dulu. Setelah itu mau bareng tiap detik juga gak akan ada yang larang.”
"Iya, Ma. Reya gak akan lupa sama itu semua. Reya cuma mau memastikan kondisi Gara baik-baik aja karena udah seminggu kita berdua gak ketemu. Reya kangen sama dia dan mau ngomong sebentar."
Satu jam kemudian sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Gara terlihat kelelahan tapi tetap tersenyum lebar ke arah Reya.
Mereka berdua saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindu. Mengabaikan orang-orang yang masih ada di sini dan melihat keduanya bermesraan. Gara merasa lelah tapi setelah bertemu dengan Reya, semua rasa tidak nyaman itu langsung menghilang entah kemana. Memang Reya bisa menjadi obat paling ampuh untuk Gara.
"Kamu kelihatan capek banget, selama di sana pasti kurang tidur kan? Kamu terlalu fokus sama proyek sampe lupa menjaga kesehatan."
__ADS_1
"Aku tidur dan makan dengan teratur kok, Re. Cuma di pesawat aja aku gak bisa tidur karena terlalu kangen sama kamu dan mau langsung ketemu. Kabar kamu baik-baik aja selama aku pergi 'kan?"
"Baik seperti yang kamu lihat. Aku sibuk kerja dan beberapa kali berkomunikasi untuk persiapan pernikahan kita. Besok kita udah bisa lihat gedungnya, katanya udah 90 persen siap."
"Maaf ya, karena ada projek di luar kota. Jadinya kamu harus cek semua persiapan sendirian. Aku bangga sama kamu karena bisa mengurus ini semua. Aku merasa bersalah karena meninggalkan semuanya sama kamu.”
"Aku sama sekali gak merasa capek kok, malahan aku senang bisa melihat proses itu dengan kedua mataku. Jangan minta maaf, karena ini bukan salah kamu.”
Gara kemudian baru teringat belum bersalaman dan memeluk papanya mamanya. Memang kehadiran Reya selalu berhasil membuatnya lupa akan keadaan sekitar.
"Ya udah kamu makan dulu, kamu pasti gak makan selama di pesawat."
"Gak selera makan sebelum ketemu sama kamu."
"Dasar bucin," ucap Mama yang merasa geregetan dengan tingkah Gara.
Gara tertawa mendengarnya. "Gak apa-apa bucin sama calon istri sendiri, Ma. Gara mau makan dulu sama Reya, setelah ini kita ngobrol-ngobrol lagi ya."
"Iya makan yang banyak kamu, Mama ada buatkan makanan kesukaan kamu supaya makannya lahap."
"Mama memang yang terbaik dan paling mengerti aku. Gara bakalan makan semua makanan yang udah disiapkan. Makasih banyak karena udah ingat menyiapkan makanan kesukaan Gara.”
Gara dan Reya melangkah ke dapur dengan raut wajah bahagia. Mama dan Papa memperhatikan mereka berdua dengan senyuman.
"Mereka berdua sudah sangat dewasa dan mau menikah. Semoga saja pernikahan keduanya adalah pilihan yang tepat dan akan selalu bahagia. Padahal awalnya saling berantem, gak nyanyka bakalan saling jatuh cinta.”
"Mereka akan bahagia selagi bersama, makanya kita berdua jangan pernah memisahkan keduanya."
Lalu keduanya tersenyum dengan harapan terbaik untuk putra dan putri mereka.
__ADS_1