My Lovely Brother

My Lovely Brother
37. Day 2


__ADS_3

Hari kedua berliburan tiba, rencana mereka akan melakukan snorkeling dan melihat pemandangan di bawah laut. Reya tidak menyangka bahwa sebentar lagi dia akan bisa melihat pemandangan tersebut dengan matanya sendiri, bukan sebatas dari hasil jepretan orang lain.


Saat ini Reya dan Gara sedang dibantu memakai pakaian menyelam beserta alat-alatnya, sementara mama dan papa jelas tidak ikut dan memutuskan menunggu mereka di daratan saja.


"Lo beneran gak takut 'kan? Bisa berenang dikit-dikit juga 'kan? Buat jaga-jaga aja sih sebenarnya.”


"Bisa lah, tenang aja karena gue sama sekali gak cemen. Kenapa juga gue harus takut saat sebentar lagi bisa melihat pemandangan yang paling gue suka."


"Jangan jauh-jauh dari gue ya, takutnya lo malah kenapa-kenapa gak ada yang bisa tolongin. Ini laut bukan kolam renang biasa soalnya.” Gara masih merasa khawatir dengan Reya yang memang sangat santai.


"Iya aman, gak akan jauh. Lo kali ya takut makanya gak mau jauh dari gue?" tanya Reya dengan senyuman meledek. “Cuma mengalihkan ketakutan lo dengan mencurigai kalau gue yang takut di sini.”


"Ini bukan kali pertama gue nyelam, jadi kenapa juga harus takut. Gue mah santai banget, mama juga berpesan supaya gue jagain lo. Makanya gue peduli, dibandingkan lo kenapa-kenapa."


Reya manggut-manggut saja, berusaha percaya dengan apa yang Gara katakan walaupun dia tidak sepenuhnya yakin. Kalau Gara melakukan ini semua hanya karena perintah dari mamanya.


Setelah mendapatkan oksigen, Gara dab Reya mulai menyelam. Ternyata pemandangan di bawah laut memang sangat indah, bahkan lebih indah dibandingkan foto-foto yang beredar di dunia maya.


Reya menarik tangan Gara, meminta kode agar memfotokan dirinya. Intinya kalau bisa dia ingin menghabiskan memorinya demi mengabadikan momen di sini.


Gara jelas menuruti apapun yang membuat Reya senang. Mereka menghabiskan waktu besama, kemudian kembali ke darat dengan perasaan yang bahagia.


"Gimana, udah puas karena salah satu keinginan kamu akhirnya bisa tercapai?" tanya Mama kepada Reya yang sama sekali tidak menghilangkan senyuman dari wajahnya.


"Senang banget, aku jelas gak akan lupa sama pengalaman yang aku dapatkan di sini. Terima kasih banyak untuk mama sama papa karena liburannya terlalu istimewa.”


"Ya sudah sekarang cepat kalian ganti baju. Sebentar lagi sunset bakalan terlihat, jangan menyesal kalau kalian berdua terlambat."

__ADS_1


Mengingat itu Reya langsung berlari dengan membawakan tas pakaian gantinya. Kemarin mereka gagal mendapatkan sunset sebab cuaca yang mendadak mendung. Jadi Reya jelas tidak mau kehilangan kesempatan tersebut untuk kedua kalinya.


Setelah berganti pakaian, benar saja perlahan sinar berwarna jingga tersebut langsung terlihat di langit.


"Gar, pinjam HP lo bentar. HP gue kehabisan baterai karena kebanyakan foto di sana tadi."


Gara menyerahkan, Reya mengabadikan beberapa foto dengan estetik.


"Mau gue fotoin gak? Lumayan sunset lagi bagus banget."


Reya jelas tidak menolak ketika Gara mode peka seperti sekarang. Gadis itu bergaya seakan-akan sedang mencium matahari yang hampir terbenam. Sementara Gara terkekeh dengan gaya Reya yang bisa dibilang antimainstream.


"Sini mama fotoin kalian berdua."


Keduanya saling menatap, kemudian tanpa ragu Gara merangkul bahu Reya dengan jarak keduanya yang terasa sangat dekat.


Mungkin juga foto itu akan menjadi foto favorit Gara sejak hari ini.


****


Udara malam terasa sangat dingin, namun kedua manusia tersebut tidak ingin hanya berdiam diri di penginapan dan memutuskan berjalan di tepi pantai.


Walaupun sudah malam hari masih sangat banyak orang-orang yang berada di sini, tepatnya dibeberapa tempat makan yang masih buka.


Reya melihat ke arah bulan yang bersinar indah, entah mengapa semua yang ada di sini terlihat sangat menawan di mata Reya.


"Gimana soal perasaan lo buat Arkan, beneran berakhir atau lo mulai merasa kangen sama dia?"

__ADS_1


Reya menggeleng, mereka sedang berjalan dengan posisi Reya yang berada di depan sementara Gara di belakang perempuan tersebut.


"Gak merasa kangen sama sekali, Gar. Gue udah sepenuhnya lupa, keputusan gue sama sekali gak salah. Untung juga gue langsung mengakhiri semuanya dibandingkan menahan Kak Arkan."


"Dia sama sekali gak berusaha menghubungi lo lagi?" tanya Gara yang merasa sangat penasaran. Karena sejak hari itu Reya memang tidak pernah menceritakan soal cowok itu lagi. “Gak mungkin dia langsung menyerah gitu aja.”


"Sampai hari ini dia masih rutin kirim pesan dan berusaha telepon gue. Itu rasanya mengganggu karena gue tau dia belum bisa melepas gue. Berada di posisi dia yang sekarang juga rasanya gak enak, karena gue juga sempat mengemis setelah mendapatkan penolakan waktu itu."


"Dunianya lagi terbalik, Re. Dunia adil banget sama lo, karena orang yang pernah lo suka sekarang berada di posisi yang sama dengan lo dulu."


Keduanya berdiri berhadapan setelah Gara mengatakan itu semua. "Emang dunia kerasa gak adil sama lo?"


"Enggak, gue gak punya mama yang sayang banget sama gue. Selain gak beruntung di masalah keluarga, gue juga gak beruntung di masalah percintaan."


"Tapi lo beruntung di masalah pertemanan, Gar. Punya banyak teman dibandingkan punya pacar, rasanya lebih seru kalau punya banyak teman. Soal percintaan bukannya lo beruntung ya? Banyak yang suka sama lo termasuk Renata sama Jessi, lo aja yang enggak bisa suka sama salah satu dari mereka.”


"Karena gue suka sama seseorang yang enggak akan pernah bisa suka sama gue." Gara menatap dalam-dalam ke mata Reya. Gadis itu juga hanya terdiam di hadapannya.


"Gue rasa setelah kita sering berantem terus gak ngomong satu sama lain, perasaan gue buat lo bakalan hilang sepenuhnya. Sifat lo yang menyebalkan itu juga gak berhasil menghapus apa yang gue rasain. Gue udah keras mencari kekurangan lo, tapi ternyata gue salah Reya, perasaan itu semakin tumbuh setiap harinya. Gue beneran suka sama lo, Re. Sampe kapan lo terus beranggapan kalau gue bercanda dan cuma bisa lihat gue sebagai adik tiri lo? Gue bosan dan gue gak suka dengan status kita yang sekarang." Gara meluapkan semua emosinya di hadapan Reya malam ini.


"Terus gue harus apa untuk semua hal yang lo rasakan sekarang? Gue juga gak tau harus ngapain, Gar. Gak mungkin juga gue melanggar Mama dan papa 'kan? Sejak pertama ketemu gue cuma melihat lo sebagai saingan dan adik tiri yang hanya mengusik hidup gue dan merebut mama dari gue."


Gara meraih kedua tangan Reya yang terasa sangat dingin, matanya sama sekali tidak terlepas untuk menatap Reya yang sangat cantik sekarang.


"Gue gak minta banyak sama lo, Re. Tapi coba ingat dan pastikan sekali aja, apa pernah lo punya rasa sama gue? Sekali aja, gue cuma butuh jawaban yang jujur."


"Gue gak tau, karena gue gak pernah mikir ke sana."

__ADS_1


"Re, bisa jadi alasan lo gak mau balik lagi sama Kak Arkan karena lo merasakan sesuatu buat gue. Apa pernah lo mikir ke sana?"


__ADS_2