
"Aku benci sama kamu, tapi karena kamu juga aku sadar. Kalau aku berharga dan pantas mendapatkan lebih banyak kasih sayang di dunia ini."
***
Suara ketukan pintu mengganggu tidur cantik Reya, dia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Matanya terasa sangat perih karena menangis semalaman dan baru bisa tidur di jam dua pagi.
Reya ingin kembali memejamkan mata, tapi ketukan tersebut tak kunjung berhenti. Dengan segala rasa malas bercampur kesal, dia turun dari tempat tidur dan membukakan pintu.
“Akhirnya tuan putri bangun juga, selamat pagi." Gara menyapa dengan tersenyum tapi di mata Reya malah tampak menyebalkan.
"Ini masih jam enam pagi, bisa jangan selalu mengusik gue. Hari ini kelas gue nanti siang, jadi gue mau tidur dalam waktu yang lama."
Gara memajukan wajahnya untuk melihat Reya lebih dekat, sebab kondisi di sini gelap karena lampu yang tidak dinyalakan.
"Lo nangis semalaman sampe mata lo bengkak banget?" tanyanya.
"Kelihatan banget?" tanya Reya karena dirinya tidak sempat bercermin dan langsung membukakan pintu kepada Gara.
Gara menganggukkan kepalanya. "Semua orang juga tau kalau lo habis nangis semalaman, kalau lihat lo dalam kondisi kayak gini. Makanya sekarang gue mau ajakin lo olahraga pagi, supaya badan jadi lebih fresh."
Reya langsung menolak karena itu bukan pilihan yang bagus. "Gue mau tidur bukan olahraga, jadi tolong jangan ganggu gue lagi."
Gara sama sekali tidak menyerah dan menarik tangan Reya yang hendak menutup pintu kembali demi kabur dari dirinya.
"Olahraga dua jam doang, Re. Sekalian cari makan di luar, setelah itu lo bisa lanjut tidur sebelum kuliah. Lagian emang lo mau ketahuan sama Mama habis nangis gara-gara Steven? Yang ada Mama lo bakalan semakin benci sama dia dan gak akan pernah setuju sama hubungan kalian berdua.”
Reya lupa akan hal itu, semalam saat pulang dia langsung berpamitan untuk tidur dan matanya belum bengkak seperti sekarang. Jadi, apa dia memang harus mengikuti saran dari Gara walaupun terdengar menyebalkan?
"Hmm, ya udah gue siap-siap dulu sepuluh menit. Lo turun di bawah sekalian mantau Mama sama papa udah bangun atau belum."
Senyum Gara langsung mengembang, idenya berhasil. "Gue tunggu sepuluh menit, awas aja kalau tidur lagi. Gue bakalan datang ke sini buat seret lo ke bawah."
"Iya, bawel banget ah kayak ibu-ibu. Gue ganti baju sama cuci muka dulu." Reya langsung menutup pintu kamarnya dan Gara berjalan ke bawah dengan langkah riang.
****
Reya benar-benar menepati janjinya dan mereka berdua sedang berlari pagi di komplek. Selama bertahun-tahun tinggal di sini, Reya baru tau bahwa suasana di pagi hari sangat ramai dan jauh dari kata sepi.
Dia pikir semua orang lebih memilih bermalas-malasan di rumah, tapi ternyata hal itu hanya berlaku kepada dirinya saja.
"Mau lari sampe depan gak? Sekalian kita muter satu komplek biar lo tau kondisi di sini seluruhnya.”
“Boleh aja, walaupun gue jarang olahraga tapi gue kuat kok." Reya berkata dengan sangat percaya diri.
Gara tersenyum lagi, dia merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Reya selain hanya untuk bertengkar dan berdebat tentang hal yang tidak penting.
__ADS_1
Selama berlari Gara selalu menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Reya tidak kenapa-kenapa. Sesekali cowok itu bertanya. "Masih kuat gak?"
"Masih kok."
Keduanya akhirnya mengakhiri lari pagi tersebut dan duduk di tempat penjual nasi goreng. Padahal Gara mengajak Reya untuk memakan bubur ayam, namun gadis itu menolak dan berkata dia tidak pernah suka makan bubur sejak dulu.
Hari ini Gara sedikit lebih tau tentang hal yang tidak Reya sukai.
"Kenapa lo tiba-tiba baik banget sama gue, Gar? Jangan bilang lo lagi menyusun rencana buat balas dendam sama gue lagi.” Reya bertanya dengan tatapan penuh selidik.
Gara terkejut dan meneguk air mineral yang baru saja dia beli. "Kenapa lo selalu berpikiran negatif tentang gue? Padahal gue sama sekali gak punya niat seperti yang lo pikirkan. Gue cuma mau jadi adik yang baik buat lo, Re."
Reya tidak akan pernah percaya dengan apa yang Gara katakan. Dia akan selalu menganggap apapun yang keluar dari bibir cowok itu adalah sebuah kebohongan.
"Emang lo gak mau akur sama gue?" tanya Gara karena Reya terlihat tidak yakin.
Reya menoleh dengan tangan yang sibuk menyeka keringat di dahinya. "Lo akan selalu gue benci dan gue anggap sebagai musuh. Meskipun sekarang lo baik, tapi gue gak bakalan baik sama lo."
Gara tertawa, ternyata Reya memang sangat ingin memancarkan aura permusuhan di antara mereka berdua. "Lo gak suka gue jadi adik lo, kalau gue jadi seseorang yang dianggap bukan sebagai adik gimana?"
"Maksud lo gimana?" tanya Reya tidak mengerti.
Gara terdiam beberapa saat lalu menoleh untuk menatap Reya yang sangat cantik walaupun sedang berkeringat seperti sekarang. "Jadi pacar lo misalnya, apa boleh?"
Reya hampir saja menyemburkan minumannya ke wajah Gara jika tidak bisa menahan. Dia mendorong pipi Gara dengan botol minuman dingin di tangannya. "Lo gila!"
****
Jam setengah dua siang Reya sampai ke kampus dan lagi-lagi dia harus berangkat dengan Gara karena malas membawa mobil sendiri.
Sebenarnya Gara tidak ada jadwal kuliah hari ini dan Reya tau akan itu. Tapi cowok itu berbohong dengan berkata ada keperluan organisasi dan mengharusnya untuk datang ke kampus.
Dasar budak cinta. Rela melakukan apa saja demi bisa bersama dengan seseorang yang dia suka.
"Nanti kalau lo mau pulang, ya duluan aja. Jangan tunggu sampe kelas gue selesai."
"Gak mau pulang duluan, lo pergi sama gue yang artinya pulang juga harus sama gue. Lagian kalau urusan gue udah selesai, gue bisa ke warung kopi sambil tungguin di sana."
"Ya udah terserah lo, gue mau masuk kelas dulu." Reya melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dari Gara.
Cowok itu juga membalas lambaian tangan Reya sembari bergumam. "Lucu."
Reya berjalan menyusuri koridor yang tidak begitu ramai, maklum saja sangat sedikit mahasiswa yang punya kelas di siang hari apalagi di hari Jumat seperti sekarang.
"Re, kamu ke kampus sama siapa?" tanya Steven yang entah darimana datangnya dan langsung berjalan di sisi Reya.
__ADS_1
Gadis itu hanya diam dan seolah tidak bisa mendengarkan suaranya. Steven menarik tangan Reya. "Kenapa diam aja, kamu gak dengar aku barusan ngomong apa?"
Reya melepaskan tangannya dari genggaman Steven, cowok itu agak terkejut melihat apa yang baru saja Reya lakukan. Tidak seperti biasanya Reya menolak dirinya.
"Kamu kenapa, kayak kesal gitu. Gara bikin kamu kesal?"
Reya menghentikan langkah kakinya karena nama Gara tiba-tiba disebut padahal cowok itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya. "Ini bukan soal Gara, aku bisa kesal bukan cuma karena dia doang."
"Terus kenapa? Kamu kasih tau dong supaya aku enggak bingung."
"Tanya aja sama diri kamu sendiri," ujar Reya sangat ketus.
"Re, aku gak suka kamu diam gini dan bikin aku bingung. Kalau ada masalah kita bicarakan dulu, jangan menghindar kayak anak kecil."
Reya kembali berhenti, dia menemukan raut wajah Steven yang tampak sangat emosi. Reya sering melihatnya dan biasanya dia akan merasa takut. Tapi sekarang rasa marah dan kesalnya jauh lebih besar, jadi dia sama sekali tidak takut kepada Steven.
"Gimana perasaan kamu saat melihat pacar kamu ciuman sama orang lain?"
"Maksud kamu? Tiba-tiba banget kamu tanya hal ini dan gak nyambung sama pembicaraan kita?"
Reya tertawa, tepatnya menertawai Steven yang masih bisa berakting pura-pura bodoh dan seolah tidak tau apa-apa.
"Kalau enggak nyambung, gak mungkin aku bahas sekarang. Aku gak sebodoh itu untuk menarik topik lain ke dalam masalah kita. Kamu masih gak ngerti juga kenapa aku tiba-tiba bahas ini?"
Steven menganggukkan kepalanya dan masih terlihat bodoh. Reya merasa capek tapi dia juga harus menyelesaikan sebelum cowok ini kembali mengatakan dirinya bertingkah seperti anak-anak.
"Aku enggak tau tadi malam kamu mabuk atau gimana, makanya berakhir lupa kayak sekarang. Tapi yang jelas saat aku mau datang ke rumah kamu, aku melihat kamu sama Jesika lagi ciuman di depan teras. Apa aku salah lihat? Tapi jelas enggak mungkin, karena aku sangat mengenal pacar aku sendiri walaupun cuma lihat bayangannya aja."
Detik itu juga setelah Reya selesai mengucapkan kalimatnya, dia menemukan raut wajah Steven yang kaget dan berubah. "Kamu salah paham, Jesika yang cium aku duluan."
Reya mengangkat tangannya, memberikan kode agar Steven berhenti berbicara. "Kalau emang Jesika yang cium kamu duluan, seharusnya kamu menolak. Tapi sayangnya kamu sama sekali gak melakukan itu dan aku gak bodoh. Aku udah sering gak dihargai sama kamu, makanya sekarang aku marah karena kamu udah sangat kelewatan. Kamu bilang gak cinta sama dia, gak ada rasa apa-apa sama dia. Tapi kalian ciuman? Jangan buat aku pengen ketawa kencang di depan muka kamu dong."
Steven meraih tangan Reya. "Aku minta maaf sama kamu, aku khilaf dan gak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kamu bisa maafin kesalahan aku 'kan? Aku cuma cinta sama kamu, Re."
Reya menepis tangan Steven, entah kenapa hari ini dia merasa sangat muak dan tidak ingin melihat wajah Steven lama-lama. Padahal biasanya dia selalu senang dengan kehadiran cowok itu.
"Sekarang aku capek dan gak mau ngomong sama kamu dulu. Mending kamu introspeksi kesalahan kamu sendiri. Mulai sekarang aku mau kamu tau kalau aku bukan cewek lemah yang bisa kamu bodohi. Aku bisa melawan kamu kalau udah kelewatan kayak tadi malam."
Sebelum melangkah pergi, Reya kembali berbalik badan untuk berbicara dengan Steven yang terdiam dan kaget dengan perubahan Reya hari ini.
"Oh iya satu lagi, dengan kesalahan yang lebih fatal nantinya. Aku juga bisa meninggalkan kamu, jadi jangan main-main sama perasaan aku."
Reya langsung melangkah untuk melanjutkan niatnya ke kelas. Benar juga apa yang Gara katakan, untuk apa dirinya harus fokus kepada satu cowok yang hanya tau cara menyakiti dirinya.
Mulai sekarang Reya memang harus membuka mata dan melihat, orang-orang yang menginginkan dirinya melebihi Steven.
__ADS_1
Jika Steven kembali berulah dan menginjak-injak harga dirinya. Maka tanpa berpikir panjang lagi, Reya akan langsung meninggalkan cowok itu.