
"Saya Ibunya, Gara." Kata-kata itu seakan berhasil membuat telinga Reya berdengung. Dia menatap Gara yang hanya diam, masih menundukkan kepalanya dengan tangan menggenggam erat tangan Reya.
"Saya udah pernah dengar soal kamu dari papanya Gara, ternyata kamu sangat cantik jika dilihat secara langsung.”
Reya tersenyum kaku, tidak tau harus bagaimana apalagi Gara hanya diam seakan meminta Reya mencari jalan keluar sendirian untuk semua yang terjadi sekarang.
Reya memandang ke sekitar untuk mencari cara agar bisa segera pergi dari sini.
"Tante kayaknya lagi sibuk, banyak juga fans Tante yang udah nunggu. Gak enak juga kalau mereka lihat kita lagi ngobrol kayak gini. Saya dan Gara juga gak mau ganggu, kedatangan kita ke sini murni untuk makan. Gak nyangka bakalan ketemu sama Tante.”
Mama Gara melirik jam tangannya. "Gak apa-apa kok, bisa ditunda untuk beberapa menit. Tante mau ngobrol banyak sama kamu. Lagian Tante bisa memberi tanda tangan sembari duduk di sini sama kalian."
Reya mengigit bibir bawahnya, tidak mungkin juga dia mengusir ibu Gara dari sini secara terang-terangan. Karena ada banyak wartawan dan kamera yang merekam interaksi mereka berdua.
Seandainya Reya sadar dari awal kalau perempuan yang sedang ditunggu oleh banyak orang adalah Ibu Gara, dia jelas akan membawa Gara segera pergi dari sini. Reya tidak terlalu mengenali Mama Gara secara langsung walaupun pernah melihat sekali fotonya di kamar Gara.
"Gar, gimana sama kuliah kamu. Semuanya berjalan dengan lancar dan gak ada hambatan 'kan?"
"Kenapa Mama peduli, Gara jelas baik-baik aja sama Papa. Mama jangan ikut campur apapun urusan hidup aku, sejak Mama memutuskan untuk pergi. Maka dari hari itu Mama gak ada hak lagi untuk datang ke kehidupan aku seperti sekarang. Apa yang terjadi dalam hidup aku itu urusan aku.”
"Gar," tegur Reya. "Jangan ngomong kayak gitu sama Mama lo sendiri, apalagi di sini banyak kamera yang merekam."
"Kenapa gue gak boleh ngomong? Beliau sendiri yang gak pernah mau mengakui punya anak, terus sekarang tiba-tiba datang buat sapa kita berdua. Lo pikir itu semua masuk akal? Di sini banyak kamera, gak takut kalau rahasia yang susah payah disimpan selama ini akan terbongkar?”
Wajah Gara terlihat memerah, Gara juga melepaskan genggaman tangannya dari Reya. "Mama gak pernah ada lagi dalam bagian hidup Gara. Sekarang kita punya jalan hidup masing-masing, gak seharusnya Mama bersikap sok akrab dengan menyapa aku di sini."
Tangan Reya ditarik oleh Gara, tetapi gadis itu tidak mau bangun dari posisi duduknya sebab merasa tidak enak dengan mamanya Gara.
__ADS_1
"Gue mau bayar, gue tunggu lo di parkiran. Kita udah selesai makan dan gak seharusnya masih di sini. Jangan lama atau gue bakalan langsung pulang.”
Gara langsung pergi begitu saja, meninggalkan banyak tanda tanya dari fans mamanya yang masih ada di sini.
"Tante, maaf kalau Gara keliatan kasar gitu. Mungkin dia cuma kaget dan gak nyangka kalau bakalan ketemu sama Tante di sini. Biasanya dia selalu baik dan sopan kok, situasinya aja yang kurang mendukung."
Mama Gara tersenyum tipis kemudian memegang tangan Reya. "Sama sekali gak masalah, karena emang Tante yang salah di sini. Wajar banget kalau Gara gak mau ketemu sama Tante. Gara baik-baik saja sejak tinggal di rumah kamu 'kan?"
"Baik, Tan."
"Tante titip Gara sama kamu ya, tolong kasih tau Tante kabar dari dia. Entah Gara lagi senang ataupun sedih, kamu bisa menghubungi Tante ke sini."
Reya menerima kartu nama pemberian Mama Gara. "Reya pamit pulang ya, Tan. Takutnya Gara gak mau nunggu dan malah tinggalin aku sendirian di sini."
"Iya Reya, lain kali kalau Tante ajak kamu buat makan bareng boleh 'kan?"
"Kalau Reya ada waktu, Reya pasti akan menerima ajakan Tante. Reya pergi dulu, selamat malam."
Reya keluar dari restoran dan menemukan keberadaan mobil Gara yang masih ada di parkiran. Reya menghela nafas lega, syukurlah kalau Gara memang tidak langsung pulang dan meninggalkan dirinya di sini.
Reya langsung masuk dan duduk di samping Gara. Suasana hening sebab tidak ada suara musik.
"Mama ngomong apa aja sama lo?"
"Tanyain kabar lo lah yang pasti, terus dia ajak gue ketemu lagi kalau ada waktu. Lagian lo jutek banget sama ibu sendiri, padahal mama lo kelihatan kangen banget dan mau ngobrol banyak sama lo."
"Lo gak tau apa-apa, makanya mengira gue yang salah di sini. Siapa juga yang mau ketemu sama seseorang yang udah sengaja meninggalkan lo demi karirnya."
__ADS_1
"Mama lo punya alasan dan itu semua pasti gak mudah untuk dilakuin." Reya berusaha membela, sebab dari pandangannya Mama Gara terlihat sangat baik dan berhati lembut.
"Alasannya karena dia lebih memprioritaskan karir dibandingkan keluarganya, gak ada alasan lain kecuali itu. Sekarang gue gak mau ada hubungan apa-apa lagi sama dia, kalaupun mama gue ajak lo ketemu jangan mau."
"Kenapa? Gue yang ketemu sama mama lo, kecuali kalau dia minta supaya gue bawa lo baru gak boleh."
Mobil yang sudah berada di setengah perjalanan di berhentikan oleh Gara.
"Sekali aja lo nurut sama gue apa enggak bisa? Tolong jangan keras kepala dan selalu membantah apa yang gue bilang. Mama minta ketemu sama lo, jelas bakalan membahas tentang gue atau basa-basi tanyain kabar gue gimana. Pokoknya kalau gue bilang jangan ya jangan, gue gak mau ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Paham?"
"Gar, gue tau lo marah atau bahkan benci. Tapi dia bakalan selalu jadi Mama lo sampai kapanpun, karena dia lo ada di dunia ini. Mungkin kedatangan dia sekarang memang supaya kalian bisa berdamai dengan luka di masa lalu. Gak ada salahnya lo mencoba menerima dia kembali."
Gara memegang setir kemudi dengan erat. "Gue gak mau kasih kesempatan lagi, karena gue pernah memberikan kesempatan tapi di sia-siakan gitu aja. Gue udah dewasa dan gak bodoh lagi, jadi jangan coba-coba paksa gue."
"Gar, dengan lo membenci Mama lo kayak gini gak akan bikin hidup lo jauh lebih baik dan bahagia. Lo cuma buang-buang waktu untuk menyakiti diri sendiri."
"Diam!" Gara membentak, matanya menatap Reya dengan penuh amarah. "Berhenti ikut campur tentang apapun yang menyangkut keluarga gue! Lo cuma tau sekilas dan gak akan paham sekalipun gue cerita keseluruhan.”
"Kalau gue gak mau berhenti, apa yang bakalan lo lakuin."
Tanpa aba-aba Gara membuka pintu mobil dan keluar. Reya langsung berpegangan di kursinya ketika Gara menariknya. "Keluar dari mobil gue sekarang, gue gak ada waktu buat berantem sama lo."
"Lo gila, di sini sepi dan gue bisa kenapa-kenapa."
Gara sama sekali tidak peduli dengan protesan yang Reya katakan, karena usahanya menarik Reya tidak membuahkan hasil. Gara memutuskan menggendong gadis itu, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu. "Cari taksi dan pulang ke rumah, gue gak akan pulang malam ini."
Gara masuk ke dalam mobil dan benar saja meninggalkan Reya sendirian tanpa perasaan.
__ADS_1
Reya meluapkan emosi dengan berteriak keras. "Gara, lo gila!"