My Lovely Brother

My Lovely Brother
33. Meminta Penjelasan


__ADS_3

"Reya."


Gadis itu kaget kala menemukan keberadaan Arkan di depan rumahnya, ini sudah satu minggu sejak dia menjauh dari cowok itu dan Arkan malah datang kemari.


Gara yang berjalan di belakang Reya juga ikut menghentikan langkahnya.


"Kalian ngobrol dulu aja, Mama sama Gara tunggu di mobil."


Mama meninggalkan Reya bersama Arkan dan menarik tangan Gara untuk masuk ke dalam mobil.


"Kok Kakak gak bilang-bilang mau ke sini? Untung aja aku lagi ada di rumah, kalau enggak gimana?"


"Aku cuma mau tanya, kenapa rasanya akhir-akhir ini kamu menjauh. Gak pernah balas chat dari Kakak ataupun jawab kalau ditelepon. Kakak ada salah makanya kamu jauhin kayak gini? Kalau ada coba dikasih tau, Re. Mungkin Kakak gak sadar saat melakukan itu semua."


Reya menggeleng, bingung harus berkata apa saat berhadapan kayak gini. "Kakak sama sekali gak ada salah sama aku."


"Terus kenapa menjauh tiba-tiba, padahal beberapa hari kemarin kita dekat terus. Atau jangan-jangan ada seseorang yang lagi kamu suka dan kalian PDKT sekarang?"


Reya menatap Arkan lekat-lekat, dia harus mengakhiri semuanya sekarang. Sayang juga jika terus menggantung Arkan dan menahan cowok itu di sini.


"Kak, kita gak punya hubungan apa-apa. Makanya aku rasa gak seharusnya kita bicara tiap hari dan sering ketemu. Soal perasaan kamu, aku benar-benar meminta maaf. Ternyata aku emang gak punya perasaan apa-apa lagi sama kamu. Perasaan aku udah berakhir sejak dua tahun lalu, jadi bisa jangan dekati aku lagi?"


Reya tau apa yang dikatakan memang terdengar sangat jahat, tapi satu minggu memang dihabiskan untuk mencerna apa yang sebenarnya dia rasakan.


Bahwa dia memang tidak menginginkan Arkan lagi, rasa itu sudah sepenuhnya hilang dan Reya tidak ingin kembali lagi.


"Jadi teman aja, apa enggak bisa juga?" Arkan tampak putus asa, matanya terlihat sedih namun Reya berusaha untuk tidak peduli.


"Selama hidup aku gak pernah bisa percaya sama yang namanya temenan antara perempuan dan laki-laki tanpa melibatkan rasa. Aku minta maaf sama kamu untuk itu, aku gak bisa. Banyak perempuan baik di luar sana, yang lebih pantas untuk aku."


"Tapi yang aku mau kamu, Re. Kakak menyesal karena nolak kamu dulu, makanya sekarang Kakak meminta izin untuk mengejar kamu."

__ADS_1


"Perasaan aku bukan buat kamu lagi, Kak. Rasa aku udah berhenti dan kita udah selesai sejak dua tahun lalu. Aku mau pergi sekarang, kasian Mama sama Gara udah tungguin. Hati-hati di jalan pas pulang."


Reya langsung berjalan dan masuk ke dalam mobil. Dia duduk di belakang sendirian dan menyadarkan tubuhnya. Reya yakin bahwa pilihannya kali ini tidak pernah salah.


****


"Reya baju ini untuk kamu."


Reya menerima gaun berwarna biru langit tersebut dan masuk ke ruang ganti. Mereka datang ke butik untuk mengambil pakaian yang akan dikenakan untuk pernikahan mama Gara.


Cowok itu juga sudah setuju untuk datang, entah apa yang Mama lakukan sampai Gara tidak lagi membantah dan mau ikut ke sana.


Reya menatap pantulan dirinya di cermin, gaun ini sangat indah dan pas di tubuhnya. Dia perlahan berusaha tersenyum agar tidak tampak menyedihkan.


"Ayolah Re, apa yang lo lakuin tadi sama sekali gak salah. Mana mungkin lo tetap nahan Kak Arkan, padahal gak punya rasa apa-apa sama dia."


Reya terus berbicara kepada dirinya sendiri, sebab merasa bersalah dan takut Arkan sakit hati.


"Gimana, gaunnya gak kelihatan berlebihan dan heboh 'kan?" tanya Reya meminta pendapat mamanya.


"Enggak, malah sangat cocok pas kamu pakai. Anak Mama terlihat sangat cantik. Gak salah kamu memilih warna dan menetapkan desain sendiri."


Reya beralih melirik ke arah Gara. "Jasnya juga cakep, jadi lo emang harus ke sana dengan senyuman. Supaya kelihatan makin ganteng, mana tau ketemu sama jodoh.”


Gara hanya berdehem saja, setelah itu melepaskan jas tersebut dengan alasan panas. Reya juga melakukan hal sama dan mamanya datang ke kasir untuk membayar.


Setelah selesai dengan urusan pakaian, mereka bertiga menyeberang menuju ke restoran. Mama bertemu dengan temannya, alhasil mereka berdua berbicara. Gara dan Reya langsung mencari posisi yang pas kemudian memesan.


"Bengong mulu lo daritadi, kalau emang masih suka sama Kak Arkan kenapa ditolak? Padahal sekarang giliran dia yang mau kejar lo."


"Gue enggak ada rasa apa-apa lagi sama dia. Kemarin pas gue pulang habis ketemu sama mama lo, gue ketemu sama dia yang lagi bareng cewek. Gue sama sekali gak merasa cemburu dan malah senang, itu tandanya kalau perasaan gue emang udah sepenuh berubah. Dia pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dan cantik di luar sana."

__ADS_1


"Mungkin karena perasaan lo udah sepenuhnya buat si bangsat Steven, makanya lo gak bisa jatuh cinta lagi sama Kak Arkan. Walaupun dulu lebih duluan suka sama Kak Arkan daripada Steven."


Steven? Entahlah, Reya sama sekali tidak merasakan apapun juga kepada cowok itu. Biasanya seseorang yang baru saja putus pasti akan merindukan momen-momen yang dilewati bersama sang mantan, tapi hal itu sama sekali tidak berlaku untuk Reya.


Saat melihat Steven bersama dengan Jesika saja, Reya tidak cemburu.


"Oh iya, karena lo menyinggung soal Steven. Gue mau kasih tau satu hal sama lo, sebelum lo kaget nanti."


"Soal apa?" tanya Gara santai, sama sekali tidak terlihat penasaran.


"Mama lo bakalan menikah sama om-nya Steven dan kalian bakalan ketemu di sana. Gue kasih tau dari sekarang, supaya lo gak kaget dan emosi. Tapi jangan setelah tau lo juga gak mau datang ke sana."


"Gue udah tau," kata Gara.


Reya membulatkan matanya. "Tau darimana? Gue pernah ngomong sama lo soal ini?"


"Kemarin gue ketemu sama Steven pas lagi bareng teman. Dia bahas soal itu sama gue dan berharap gue emosi, tapi santai aja gue. Lagian gue gak bakalan tinggal sama Mama, jadi gak akan ketemu sama dia ataupun keluarganya."


Reya merasa kurang puas karena Gara sudah terlanjur tau dari orang lain. Tapi bagus juga kalau Gara sudah tau, jadi Reya tidak perlu menanggung konsekuensinya.


"Katanya pertunangan Steven juga bakalan dilakuin sekalian. Lo tau gak soal itu?"


Niat membuat Gara kaget, kenapa malah Reya yang terkejut dengan fakta itu?


"Bukannya dia sama Jesika bakalan tunangan setelah selesai kuliah, kenapa malah sekarang."


"Suka-suka mereka lah, emang ada yang salah?"


"Ya enggak sih cuma kaget aja," kata Reya.


"Jadi lo mau tetap datang ke pernikahan mama gue dan melihat mantan lo tunangan sama mantan teman lo di sana?"

__ADS_1


__ADS_2