
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama di pesawat dan menaiki kapal laut untuk sampai ke tujuan. Reya dan keluarganya tiba di tempat yang ditujukan untuk berlibur. Dia menghirup udara di sini yang terasa sangat berbeda dengan di kotanya.
Reya melirik Gara yang menenteng dua koper di belakang dirinya. Wajah cowo itu terlihat tidak bersahabat. Reya yang peka langsung mendekat. “Gue bawa sendiri aja kopernya ke dalam, lo cukup sampe di sini aja bawanya. Makasih banyak karena udah mau bantu gue, Adik. Muka lo kelihatan gak ikhlas tapi gue tetap berterima kasih.”
Gara menyerahkan koper tersebut kepada Reya. “Sebenarnya gue sama sekali gak masalah sekalipun harus bawa koper lo sampe dalam, cuma saran gue kalau bawa barang mikir-mikir. Koper lo dua kali lebih berat dibandingkan koper gue. Lo bawa batu apa gimana sih? Kok bisa koper berat kayak gini lolos seleksi di bandara.” Gara tidak habis pikir dengan keluarkan Reya.
Tangannya terasa sangat pegal hanya karena membawa koper tersebut.
“Namanya juga cewek, pasti banyak barang yang harus dibawa. Beda sama lo yang cuma isi kaos, satu kemeja, celana dan dalaman doang.”
“Ya udah sana masuk ke kamar terus simpan koper lo. Sebentar lagi kita bakalan dipanggil sama mama dan papa buat makan di luar.”
Mereka berpisah dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Selama liburan Reya akan tidur bersama dengan mamanya, begitu juga dengan Gara yang akan bersama papanya.
Reya memandang pemandangan indah ini dari dalam kamarnya, perlahan dia terpaku menggangumi ciptaan Tuhan yang sangat indah.
“Sama indahnya kayak Bali, pantesan rame banget bule yang datang kemari. Kayaknya gue bakalan balik lagi kapan-kapan. Gak akan cukup satu kali seumur hidup datang ke sini.” Reya berkata kepada dirinya sendiri:
Tidak ingin Gara akan kembali marah kepada dirinya. Reya berganti pakaian dan keluar dari kamar dan ternyata Gara sudah menunggu di depan penginapan.
Reya menepuk pundak cowok yang saat ini memakai kemeja putih dengan kancing terbuka menampakkan kaos hitam, juga celana jeans hitam selutut. Lalu Gara tidak memakai sepatu dan hanya memakai sandal santai.
“Keren juga penampilan lo kayak gini, gue yakin bakalan ada yang lirik lo. Mana tau lo dapat jodoh di Aceh.”
“Kejauhan, Re. Gak mungkin gue nikah sama orang sini.”
__ADS_1
“Gak ada yang enggak mungkin di dunia ini, semuanya bisa jadi mungkin. Mama sama Papa dimana?”
“Udah duluan ke restoran, ayo ke sana.”
Mereka berdua melangkah beriringan, melihat-lihat ke sekitar dan mencari dimana keberadaan kedua orang tuanya.
“Gar, cantik banget bajunya. Apa gue beli aja ya buat Renata, dia pasti bakalan terharu dapat kaos ini.”
“Terserah lo, tapi jangan nangis kalau tiba-tiba Renata gak mau anggap lo sebagai temannya lagi. Lo tau sendiri kalau cuma punya dia, gak ada teman yang lain.”
Reya menghembuskan nafas dan meniupkan rambutnya. Apa yang Gara katakan terdengar sangat sakit walaupun itu adalah fakta yang semua orang udah tau.
“Gak apa-apa punya satu, yang penting Renata gak munafik.”
“Ngerasa ya? Padahal gue sama sekali gak sebut lo, kegeeran banget jadi orang. Cuma saran gue ya lo jangan terlalu percaya sama orang, kalau salah satu dari teman lo ada yang jahat nanti lo merasa sangat sakit.“
Rupanya nasehat dari Reya hanya sebatas angin lalu saja, karena Gara sama sekali tidak mendengarkan juga tidak peduli.
“Jaman sekarang gak keren kalau disakiti tapi lo malah nangis, yang ada pihak jahat merasa semakin menang dari lo. Kalau ada salah satu dari teman gue yang jahat, ya gue bakalan langsung gak temenan lagi sama dia. Cut-off seseorang yang mengusik hidup gak pernah salah. Hal yang salah dilakukan adalah dengan beranggapan bahwa semua orang jahat dan semua orang bisa menyakiti. Itu pemikiran yang childish, karena semua orang di dunia ini beda dan gak ada yang sama.”
Ucapan Gara yang terdengar seperti orang dewasa tengah memberikan nasehat, membuat Reya agak tersindir. Apa Gara sengaja berkata seperti itu untuk menyindir dirinya walaupun tak langsung? Karena Reya memang sedang di fase tidak bisa percaya kepada siapapun di dunia ini.
“Itu Mama sama Papa di sana.”
Reya membalas lambaian tangan dari mama dan berjalan di belakang Gara, sembari menerka apa yang Gara maksudkan barusan tidak sepenuhnya tertuju kepada dirinya.
__ADS_1
“Lama banget kalian, makanannya udah datang daritadi. Habis ngapain emang di sana, mandi dulu?”
“Dia yang lama, Ma. Kalau Gara cuma ganti baju aja dan langsung keluar.”
Reya menyengir, karena memang dirinya yang salah. Siapa juga yang tidak terpesona ketika diajak ke tempat wisata seindah ini.
“Kalau pembicaraan ini dilanjutkan pasti kalian berdua akan bertengkar. Jadi Mama memutuskan untuk menyudahi pembicaraan barusan. Karena rugi udah jauh-jauh ke sini tapi kalian malah bertengkar satu sama lain.”
“Sudah-sudah jangan ngomong lagi, Papa udah lapar banget karena sedari tadi kalian lama banget datangnya. Sekarang kita makan sembari menatap pantai yang indah.”
Tidak ada lagi yang berbicara, sebab semua orang memang sudah lapar. Sekarang juga sudah pukul empat sore, telah lewat jam makan siang. Jadi mana mungkin ada yang sanggup berdebat untuk hal yang enggak penting.
“Re, jangan coba makan udang. Mama gak bawa obat buat kamu dan kita gak tau di sini ada yang jual obat alergi atau enggak.”
“Cuma satu aja gak akan bikin aku sampe sesak nafas, paling cuma bentol dikit dan gatal-gatal.”
“Kamu gak ingat terakhir kali juga makan satu doang dan berakhir gatal di sekujur tubuh sampe gak bisa tidur semalaman. Kamu mau hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya sekarang.”
Reya mengurungkan niatnya untuk mengambil udang. Dia benci dengan alergi yang dia derita, kenapa juga dia harus merasa alergi dengan makanan kesukaannya.
Gara meletakkan beberapa baby cumi di atas piring Reya. “Ini juga enak banget gak bohong, jangan karena lo gak bisa makan udang malah gak mau makan yang lain. Mama khawatir sama lo, karena kalau keras kepala yang akan menderita juga lo sendiri bukan orang lain. Jadi ayo berusaha buat sayang sama diri sendiri. Lo juga pasti gak mau sakit di saat liburan kayak gini.”
Reya menghela nafas, dia berusaha mengumpulkan nafsu makannya untuk kembali makan. Setelah di coba ternyata cumi sambal ijo ini beneran sangat enak.
Gara yang melihat Reya makan dengan lahap tersenyum, kemudian mamanya memberikan kedua jempol kepada Gara.
__ADS_1