
Nyonya Friska memang sangat pecinta tanaman hias, semua tanaman tanaman itu dialah yang merawat nya selain hobi juga merupakan kegiatan yang menenangkan hatinya. Friska bisa berjam jam merawat tanaman hias memberi pupuk juga memindahkan tanaman dari pot kecil ke pot yang besar bila tanaman itu sudah tumbuh besar, bagi Nyonya besar itu menanam menambah awet muda karena bisa menghilangkan stress ia tidak suka berkumpul dengan Ibu Ibu yang istilahnya Ibu ibu sosialita.
Siang tadi Nyonya Friska mengajak Sumirah membeli tanaman hias tak tanggung tanggung tanaman mahal bila ia suka akan di belinya. Semua tanaman nampak subur ditanganinya. Sore itu Sumirah sibuk membantu Nyonya Friska menanam tanaman tanaman hias, Sumirah sangat hati hati mengingat tanaman tanaman itu bukan lah tanaman yang murah.
Selesai dengan merawat tanaman hias Nyonya Friska beralih ke kebun, banyak tanaman tanaman buah dan sayur yang di tanam di media pot atau di tanah rupanya, kagum Sumirah. Senang rasanya sangat memanjakan mata, rupa rupanya Nyonya Friska sangat ahli bercocok tanam, di kebun itu ada pohon anggur stroberry mangga kelengkeng, kentang timun selada bayam juga kangkung serta tanaman lainnya.
" Wah..ini semua Nyonya juga yang tanam?"
" Iya Mirah tentu, Ibu semua yang menanam tanaman di kebun ini, tapi juga dibantu Bu Darmi."
Sumirah mengangguk angguk matanya terpesona melihat kebun itu, dirinya juga sebenarnya senang bercocok tanam hanya saja ia tidak yakin bisa seulet Nyonya Friska apalagi sehari harinya ia harus mengurus Intan.
" Nyonya hebat, ini sih tidak usah beli sayur dan buah Nyonya..tinggal petik saja di kebun."
Friska tersenyum mendengarnya, mata Sumirah tertuju pada pohon buah di kebun itu ada durian Montong yang sangat besar besar.
" Ibu inikan besar di kampung Mirah, orang tua Ibu memang petani makanya Ibu bisa menanam.."
__ADS_1
" Memang Nyonya asli mana?"
" Bandung."
" Ohh.." Mirah mengangguk angguk kembali.
" Orang tua Ibu punya kebun yang luas banyak hasil kebun yang sebagian hasilnya untuk kebutuhan sehari hari sebagian lagi bila sudah panen hasil panennya di jual ke tengkulak buat biaya kuliah Ibu..Ibu itu lulusan pertanian, ehh baru juga kelar kuliah ada orang bule kesasar naksir sama ibu.."
" Siapa Nyonya bule kesasar..?"
" Mr Damian, Papa nya Erland.."
" Trus Nyonya..?'
' Ya..Mr Damian fallin in love sama Ibu, di lamar menikah langsung di boyong ke inggris.."
Sumirah semakin seru mendengar cerita Nyonya Friska, membawa nostalgia masa lalu Nyonya Friska. Nyonya Friska bercerita tanpa sadar logat Sunda nya keluar. Sumirah senang mendengar logat sunda Nyonya Friska.
__ADS_1
Sambil bercerita Sumirah dan Nyonya Friska membersihkan daun daun kering dan memangkas sedikit pucuk pucuk anggur agar berbuah lebat.
" Waw buah anggurnya lebat sekali Nyonya, besar besar lagi."
" Kamu mau coba rasa anggur ini?"
" Memang boleh di petik?"
" Tentu saja boleh anggur ini sudah masak kok!"
Ibu Friska lalu memetik anggur itu dengan gunting. lalu di berikan pada Sumirah.
" Eumm..manis sekali Nyonya."
" Karna ini sudah masak semua, kita petik nanti kita bagi bagikan pada tetangga tetangga."
Sumirah langsung antusias rasanya senang sekaligus gemas bisa panen buah anggur. Bak seperti di surga rasanya berada di kebun dengan macam macam buah dan sayur. Tak hanya anggur, Nyonya Friska panen sayur selada dan bayam itu juga akan di bagikan pada tetangga. Tak heran bertetangga dengan keluarga Wijaya sangat senang karena mereka selalu mendapat hasil panen sayur dan buah dari keluarga Damian.
__ADS_1
Setelah memanen hasil buah dan sayuran, Bu Darmi menghampiri Nyonya Friska memberikan ponsel, karena putranya Erlando ingin bicara pada Ibu nya.
Dalam percakapan Ibu dan anak itu di telpon, Erland ternyata membutuhkan seorang binatu sebab sudah hampir seminggu Erland selalu sibuk berangkat pagi pagi sekali hingga pulang malam Erland tidak punya waktu untuk membersihkan Apartemen yang di huninya.