My Sexy Maid

My Sexy Maid
Jatuh Dari Tangga


__ADS_3

Setelah Erland dan Darmi keluar, Mirah lalu melanjutkan pekerjaannya mencuci pakaian kotor Erland. Tapi saat ia harus mencuci ****** ***** tangan Mirah agak ragu ragu walaupun ia sering mencuci dalaman Hendra tak bisa di pungkiri ada sedikit risih, beda dengan punya suami sendiri.


" Ihh..baru ini aku harus cuci ****** ***** pria lain."


Mirah dengan rasa canggung memegang ****** ***** Erland dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari lalu di masukkan ke dalam mesin cuci.


Sambil menunggu pakaian di mesin, Mirah menyambi mengerjakan bersih bersih di ruangan makan, di lap nya dengan kain lap khusus sampai meja itu kembali mengkilap, lalu menyapu kotoran. Memang ruangan makan itu walupun terlihat rapih dan bersih tapi setelah di sapu sudut sudut nya banyak juga debu debu halus di selipan. Mirah tahu mana yang jarang di bersih kan.


Pakaian sudah di cuci lalu di jemur, dalam benaknya orang kaya seperti Erland kenapa harus repot repot cuci sendiri padahal tinggal panggil jasa laundry kan tinggal terima beres.


Waktu sudah menunjukan jam 10 siang, seluruh ruangan apartemen Erland sudah sangat rapih tak ada debu dan bekas jejak jejak gelas atau pun jari jari yang tertinggal di kaca meja ruangan santai yang terdapat sebuah televisi ukuran besar. Majalah majalah bisnis sudah tersusun rapih, beberapa karpet bawah meja Mirah bersihkan dengan alat penyedot debu walupun ia agak kesulitan cara menggunakannya.


" Whuuff.." Mirah menarik nafas


Rasa haus tidak bisa ditahan lagi ia duduk di meja makan dan istirahat sejenak ia minum membasahi tenggorokan lumayan sangat haus, tidak terasa 3 jam ia bersih bersih tapi ia teringat putri nya yang harus ia tinggal seharian ini.


" Ahh..baru beberapa jam saja aku tinggal aku rindu dengan Intan, apakah dia menangis dan menanyakan ku?'


Wajah Mirah seketika murung memikirkan Intan, kalau saja nasib nya beruntung dan bahagia bersama Hendra mungkin dia tidak harus menjalani hidup yang berat ini, harus bekerja membawa anak dan sekarang dititipkan pada Darmi, bukan tidak mungkin Mirah bagaimana pun ada perasaan tidak enak sudah merepotkan orang di kediaman Wijaya. Bagaimana kalau anak itu nakal.


" Sebaiknya aku harus selesaikan secepatnya pekerjaan di sini dan cepat kembali."


Mirah lalu melihat jam sudah pukul 10 lewat, 20 menit, waktu terbuang karena merenung, bukan kah ia harus masak untuk makan siang Tuan Erland.


" Duh..sudah hampir setengah 11."


Mirah lalu bergerak cepat tangannya membuka lemari es sambil melihat lihat persediaan apa saja bahan bahan yang akan dia olah untuk memasak makan siang. Mirah kemudian mengambil daging ayam giling terdapat di freezer dan juga bumbu bumbu dapur yang seadanya saja. lalu sayuran hijau yang akan Mirah tumis. Tanpa kehabisan ide menu masakan, ia cukup oseng oseng saja daging giling itu dengan bawang Bombay lada sedikit garam dan kecap manis dan asin.

__ADS_1


Satu jam masakan itu selesai, kini Mirah tinggal membersihkan dapur saja dan kini menunggu Tuan Erland datang. Setelah ini ia akan meminta ijin pada Tuan Erland untuk kembali.


Erland sudah berada di depan pintu apartemen lalu mengakses kode nomor saat Erland masuk matanya mencari Mirah.


" Apa dia sudah kembali?"


Namun dihidungnya ia mencium harum masakan, langkah kakinya membawa ke meja makan di lihat hidangan makan siang untuknya sangat menggugah selera. Tapi ia masih penasaran kenapa Mirah tidak bilang padanya kalau ia sudah kembali.


Erland berdiri masih menatapi makanan di meja, namun tiba tiba telinganya mendengar suara teriakan.


" Aghh..!"


" Wanita itu masih di sini?'


Erland langkahnya buru buru mencari suara Mirah, suara Mirah berada di tempat khusus jemur pakaian.


" Aduhh..sakiit!'


" Kamu..ya ampun!"


Mirah seketika mendengar suara Tuan Erlando dan menoleh, Erland bergegas mendekati Mirah lalu ikut berjongkok.


" Ayo saya bantu berdiri!'


Kedua tangan Erland memegang kedua tangan Mirah membantunya berdiri.


" Lain kali hati hati ya!"

__ADS_1


" Iya maaf Tuan, saya tidak memperhatikan tangga terakhir saya gak sadar saya kira kaki saya sudah menapak lantai.."


Erland menarik nafas, matanya nya masih melihat wajah Mirah meringis sakit.


" Istirahat saja dulu, ayo! biar saya periksa kaki kamu."


Erland memapah tubuh Mirah agar bisa berjalan namun rupanya tiba tiba Mirah tidak sanggup kakinya untuk berjalan.


" Akkw..!'


Mirah menghentikan langkahnya karena terasa sangat sakit pada pergelangan kakinya.


" Kenapa..apa yang sakit?'


" Tuan sa-saya tidak sanggup jalan, tumit saya sakit.."


Erland langsung memperhatikan pergelangan kaki Mirah terlihat mulai membengkak, tanpa pikir panjang Erland langsung mengangkat tubuh Mirah ala bridal. Mirah yang di gendong seperti itu reflek wajahnya menunduk menahan malu.


" Tu-tuan turunkan saya! biar saya jalan saja!"


" Bagaimana kamu bisa berjalan lihat pergelangan kaki kamu sudah membengkak biar aku periksa bisa saja kaki kamu terkilir."


" Ta- tapi tidak usah di gendong juga kali, Tuan."


" Diamlah kamu berisik sekali, merepotkan saja!"


" Eugh..maaf kalau gitu." Ucapnya dengan kepala masih menunduk.

__ADS_1


Selama Mirah di gendong ala bridal, mata Erland sejenak melihat wajah Mirah yang terus menunduk. Ia tidak sanggup mengangkat kepala karena ia sangat malu, wajah malu nya tidak bisa di tutupi karena wajah nya sangat dekat dengan wajah Erland.


Erland tersenyum melihat raut wajah Mirah yang merah seperti kepiting rebus.


__ADS_2