My Sexy Maid

My Sexy Maid
Suatu Kebetulan


__ADS_3

" Wuiihh..bagus bener sekolahan nya Om!"


Ucap Dion dengan ekspresi terkagum kagum kedua matanya membulat saat mobil yang di kemudikan pamannya memasuki halaman sekolah SMA bertaraf international yang terkenal di kota B dan tidak main main SPP nya 150 juta perbulan.


Sang paman hanya tersenyum mendengar ocehan keponakannya, pandangan nya tetap fokus memarkirkan mobil mewahnya yang di arahkan dengan seorang tukang parkir.


" Truss truss balas kiri dikit, oop!" Tukang parkir lalu mengacungkan jempolnya pada si kemudi pemilik mobil sedan hitam MB keluaran terbaru.


" Ini baru nampak dari depan, kita liat fasilitas nya sampai belakang sekolah ini, ok!"


" Atur saja Om!"


" Atur saja atur saja" Beo Zafran.


" Sekolah yang benar lu!, jangan pernah bikin ulah lagi sampai Om dengar elu bolos? Gue pindahin lu ke pesantren."


" Iyaaa dah! bolos sehari doang gak apa kale, Om, namanya juga anak mudir bukan anak tuwir!"


" Apa lu bilang? Gue kepret lu!"


" Hehehe..santai Om!"


Dion baru menyadari tembok sekolah ini sangat tinggi, ia berfikir bagaimana caranya kalau dirinya bisa kabur dari sekolah.


" Lagi mikir, elu bisa cabut dari sekolah?"


Dion nyengir pada Sang paman yang bisa membaca pikirannya.


" Hehehe..kok Om tau sih?"


" Ayo turun!"


Zafran sudah mendaftarkan Dion menjadi siswa SMA WIJAYA di kelas 11, kemudian guru wali kelas mengantarkan Zafran dan keponakannya menuju ke ruang kepala sekolah.


" Sekolah adalah tempat kedua di mana anak di didik dan di ajarkan dengan batas waktu, nomor satu adalah di rumah, di mana orang tua yang lebih bertanggung jawab mendidik dan memberikan kasih sayang yang mutlak pada anak."


" Saya paham Pak, tapi saya mohon saya titip dan saya percayakan keponakan saya di sekolah ini, agar bisa belajar dan didik dengan baik."

__ADS_1


" Baik Pak Zafran! semua murid yang bersekolah disini Insha Allah dapat terkendali dengan baik, kalaupun ada yang bikin ulah, ya..! kenakalan anak remaja wajar saja!"


" Terimakasih Pak!"


" Kalau begitu mari ikut saya! saya akan memperlihatkan fasilitas di sekolah ini."


Zafran dan Dion sedang di perkenalkan oleh semua guru dan staff kantor lainnya kemudian mereka mulai mengelilingi gedung di perlihatkan semua fasilitas sekolah.


" Bagaimana Dion? kamu siap dan bersedia di sekolah di sini? dan kamu bisa tunjukan bakat kamu kalau kamu menyukai seni dan olah raga basket atau olah raga lainnya salurkan saja!" Ucap Kepsek.


Bocah tengil itu tidak terlalu menanggapi, matanya hanya tertuju pada bola basket dan langsung di mainkan ia menunjukkan kebolehannya bermain basket, saat kepala sekolah sudah membawa mereka ke bagian lapangan basket.


" Keponakan saya sangat menyukai basket rupanya Pak?" Senyum Zafran.


" Sekolah kami sering mengadakan kompetisi Basket Pak Zafran, dan biasanya Bapak Erland lebih menggandrungi murid murid yang hobi olah raga basket."


Zafran mengangguk ia kenal dengan Erlando Wijaya putra pemilik sekolah ini.


" Oiya masih ada fasilitas lagi di sekolah ini yang belum terlewatkan, ruang perpustakaan. Mari saya tunjukkan!"


" Dion ayo!" ajak Zafran.


" Nah Pak Zafran, ini ruang perpustakaan kami, koleksi buku buku di sini terlengkap dan tersedia."


Zafran mengangguk anggukkan kepala nampak ruangan perpustakaan itu sangat memadai dan nyaman. Saat kepala sekolah sudah mengantar Zafran dan Dion tepat di pintu ruang perpustakaan.


" Boleh kami masuk Pak?"


" Oh boleh silahkan!, tapi maaf saat di dalam kita tidak boleh bersuara keras akan menggangu siswa sedang membaca."


Kepala sekolah lalu menuntun Zafran dan Dion sampai kedalam, Zafran benar benar terperangah dengan sarana perpustakaan sekolah Wijaya, mulai dari rak rak buku, meja baca, kursi baca, lemari buku sampai komputer memfasilitasi perpustakaan. Zafran mengakui Sekolah Wijaya ini pantaslah sangat mahal dan berkualitas.


Setelah cukup melihat lihat mereka keluar, Zafran akan datang kembali besok mengantar keponakanya siswa baru SMA WIJAYA


" Terimakasih Pak Zafran sudah mendaftarkan Dion di sekolah kami, dan mulai besok Dion akan menempati kelas baru dan mendapatkan teman baru tentunya."


" Kalau begitu KamI permisi dulu!"

__ADS_1


Mirah baru kembali menuju ruang perpustakaan sambil mendorong troley berisikan buku buku koleksi terbaru yang akan di susun di rak rak buku di ruang perpustakaan, saat pandangan nya memperhatikan jalan bola mata Mirah bergeser beralih pada sebuah mobil sport mewah, siapa lagi pemilik mobil itu adalah Erland kini sedang memarkirkan mobilnya.


" Tuan Erland?"


Erland baru datang dan akan mengajar di kelas 12, mata Mirah terus mengamati Erland keluar dan menutup pintu mobil, dan jalan yang Erland lalui searah dengannya, Mirah akan menghindari Erland entah sampai kapan.


" Lebih baik aku menghindar!" Ucapnya dalam hati


Saat Erland sudah menutup pintu mobil, langkah Mirah sedikit di percepat, tapi ini jalan yang harus Mirah lewati menuju ke ruang perpustakaan, demi apapun Mirah mengambil jalan lain meskipun jalan itu jauh untuk di lalui nya.


Erland sudah melihat Mirah dari kejauhan dan seperti nya ia akan berpapasan dengan ibu cantik itu, saat jarak mereka makin mendekat Erland menautkan alisnya, Mirah berbelok melewati lorong kelas, seketika Erland menyadari Mirah terus menghindar dari nya.


" Mirah?"


" Mas Zafran?"


Zafran tersenyum senang tidak di sangka ia bertemu Mirah kembali.


" Mas kok di sini?" Mata Mirah menatap bergantian Zafran dan juga pada Dion.


" Aku mendaftarkan keponakan ku di sekolah ini."


" Oya?" Mirah mengangguk mengerti.


" Dan kamu?"


".Aku memang bekerja di sini, di perpustakaan."


" Owh..begitu!"


Buat Zafran bukankah ini sebuah kebetulan, dirinya yang sudah jatuh hati pada Mirah sejak pertemuannya di acara tunangan Erland, wajah Mirah terus menghiasi di pikirannya, Zafran tidak bisa melupakan senyum Mirah, dan dirinya akan melakukan pendekatan dengan janda cantik beranak satu ini.


" Baik Mas Zafran aku ke ruang perpus dulu!"


" Oiya Mirah, boleh aku minta nomor mu?"


Mirah mengangguk lalu mengetik nomornya di ponsel Zafran.

__ADS_1


" Aku simpan nomor mu!"


Setelah mereka berpisah Zafran nampak begitu semangat sudah mendapatkan nomor Mirah, ia akan menelpon Mirah dan selanjutnya ia bisa bertemu dan mungkin akan berkencan dengannya.


__ADS_2