
Satu Minggu berlalu Mirah dan Zafran saling kontak, Mirah mulai sedikit terhanyut hati nya pada Zafran akan perhatian Zafran pada Mirah. Zafran memang sosok yang humoris Mirah selalu terhibur dengan banyolan banyolan yang selalu membuatnya tertawa. Hingga di jam istirahat Zafran datang ke sekolah, Mirah di beritahukan Zafran meminta Mirah bertemu didepan sekolah. Tak cuma itu Zafran memang sengaja datang harus menemui kepala sekolah karena mendapat laporan keponakan nya Dion telah berbuat ulah.
" Dioon Om malu, elu bolos dari sekolah? bener bener elu ya!" Greget Zafran.
" Dion bosen Om, mendingan nongkrong!"
" Astagfirullah..Om udah capek ngurusin elu bandel elu ga ketulungan.."
" Ya udah gak usah ngurusin Dion!"
Zafran menggelengkan kepala.
" Mama Papa kamu udah tua, kamu anak laki satu satunya yang di harapkan untuk jadi penerus perusahaan keluarga, Om di beri amanat jadi Om harus bertanggung jawab kamu!"
Dion terdiam.
" Kalau bukan kamu, siapa lagi Dion..? orang tua kamu kasih harapan sama kamu."
Dion masih terdiam mendengar nasehat Om nya. Sampai Zafran kehabisan kata, belum bersuara kembali hingga satu menit.
,
,
,
" Trus Om ngapain kesini?"
Plak
Zafran menyendul kepala Dion.
" Pake nanya lagi? Om menghadap kepala sekolah, Om lagi meeting di kantor sampe harus datang menghadap kepala sekolah cuma untuk dengerin laporan kamu bolos dari sekolah."
" Elu mau sekolah dimana lagi? mau, Om kirim lagi elu ke Singapore?"
" Gak mau ah Om..!" Dion dengan cepat menolak.
" Kalau gak? Om bawa elu ke Bandung tinggal sama Nenek lagi!, atau di Jogya tinggal dengan Eyang heum." Zafran membuat pilihan.
__ADS_1
Dion sendiri enggan memilih keduanya, ia lebih memilih tinggal bersama Om nya yang menurutnya lebih asik dan gaul orang nya.
" Di Nenek lagi..Nenek cerewet Om, dikit dikit
Dion..sholat! Dion ngaji! Dion tong hilap bere jukut kambing Nenek!" ( jangan lupa kasih rumput kambing Nenek). Cerocos Dion yang menirukan gaya Neneknya mengunyah sirih.
" Lantas kalau sama Eyang di Jogya?"
" Eyang mah ribet Om, makan gak boleh berisik, gak boleh makan di ruang tv, gak boleh tidur terlalu malam, trus masa lagi enak enak nongkrong sama temen di bawain sapu di samperin suruh pulang, kan, Dion jadi malu, emang Dion anak kecil."
Zafran sontak ingin tertawa namun ia tahan, ocehan keponakan nya yang terlihat lucu.
" Maka nya nurut sama Om! Sekolah yang bener aja lu, di sini!"
" Iya iyaa, Om!"
" Jangan iya iya aja! Janji sama Om!"
" Iya Om. Dion janji!"
" Ya sudah sana, balik ke kelas! nanti Pak Emen yang jemput kamu pulang!"
Erlando Wijaya
Zafran
Setelah Dion keluar dari dalam mobil,.Mirah muncul menuju mobil Zafran. Zafran masih berada dalam mobil sudah melihat Mirah.ia pun langsung turun dari mobil.
" Hai.." Sapa Zafran tersenyum.
Zafran terlihat salah tingkah ketika Mirah sudah berhadapan dengan dirinya yang berdiri di sisi pintu.
" Mas Zafran, ada apa?"
" Eum..pingin liat kamu." Ucapnya terus terang.
__ADS_1
" Eugh..owh begitu."
" Iya..eum ya..aku datang kesini tadi menemui kepala sekolah."
" Oya?"
" Biasa lah ada pengaduan, keponakan ku bikin ulah."
" Ya namanya juga anak masih remaja belasan tahun, masih labil Mas, tapi kalau aku lihat anak itu pintar."
" Terimakasih!"
" Mas maaf aku tidak bisa lama lama berada disini!"
" Iya maaf, terus terang saja aku kangen, gak apakan?"
Mirah terdiam tidak tahu harus berbuat apa, Zafran memang orangnya begitu entah sedang ngegombal atau membual tapi sebisa mungkin hati Mirah tidak lantas hanyut begitu saja.
Zafran sendiri menilai Mirah masih menutup hatinya, Zafran sadari Mirah belum membuka hati untuk nya, bisa jadi karena ia masih teringat mendiang suaminya.
" Aku hanya berharap kau membuka hati mu untuk ku." Ucap nya sambil menatap lekat wajah Mirah.
Mirah bergeming ucapan Zafran bisa menjadi pikiran nya, Zafran laki laki yang menurut memang gentle.
" Maaf Mirah aku berkata apa adanya di hati terserah kamu menilainya."
Mirah mengangguk.
" Kalau begitu aku masuk dulu ya Mas!"
" Mirah."
" Iya Mas."
" Aku mau kita jalan berdua ya?"
" Kemana Mas?"
" Besok aku jemput di rumah mu."
__ADS_1
" Baiklah!"