
Mirah duduk bersimpuh di sisi jasad Hendra yang sudah berbalut kain kafan, kedua matanya belum sama sekali kering karena basah air mata yang terus mengalir. Mirah sedikitpun enggan menjauh dari sisi jasad Hendra dimana ia duduk selama Jasad almarhum belum di kuburkan.
" Mirah..istirahatlah dulu walau sebentar saja!" Ucap Warti.
" Tidak Bu, Mirah masih ingin menemani Mas Hendra.."
" Kamu dari kemarin belum istirahat sama sekali, makan pun juga belum, jangan sampai kamu sakit!"
Mirah mengangguk, memang dari setibanya ia pulang bekerja dan sampai saat ini Mirah belum istirahat, tapi ia memang enggan jauh jauh dari jasad Hendra, baginya ini adalah terakhir melayani Hendra. Tapi tidak ada salahnya ia rebahan sebentar masih ada waktu beberapa jam Hendra di kubur.
" Istirahatlah dulu..ya!" Desak Warti.
" Baiklah Bu..!"
Tapi baru saja Mirah ingin berdiri, Keluarga Wijaya datang melayat almarhum suami Mirah.
" Asallamualaikum..!" Ucap Erland.
__ADS_1
" Walaikumsalam..!" Balas Warti.
Mirah tidak tahu bila dari keluarga Majikannya datang untuk melayat, Mirah memang tidak sempat bahkan ia sendiri lupa memberi kabar pada Tuan Erland untuk ijin tidak bekerja, karena saking sibuk mengurus jasad Hendra.
Friska Damian dan Erland masuk lalu berkeliling salaman bersilahturahmi memberi ucapan belasungkawa dan penghormatan pada keluarga almarhum dan tetangga tetangga Mirah yang sedang duduk berkeliling melantunkan ayat ayat suci Alquran.
" Nyonya besar dan Tuan besar, trimakasih akan kedatangannya.." Ucap Mirah seraya tangannya silahturahmi.
" Kami sekeluarga mengucapkan turut berduka cita yang dalam, semoga almarhum diterima di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala.." Ujar Friska.
" Amiiin!" Balas ucap Mirah dan Warti bersamaan.
" Terimakasih Tuan Damian.." Balas Mirah.
Berikutnya Erland silahturahmi dengan Mirah dan Ibu Mirah.
" Mirah saya mengucapkan turut berduka cita yang dalam.." Ucap Erland menatap kedua mata Mirah yang sembab.
__ADS_1
" Terimakasih Tuan Erland..!"
Keluarga Wijaya pun kemudian ikut bergabung mendoakan jasad almarhum, Mereka mengambil tempat dengan duduk bersila dan mulai mengikuti yang lainnya melantunkan ayat ayat.
Selang beberapa menit kemudian mata Erland mengedari ruangan itu ia lalu tertuju pada sebuah foto almarhum berukuran 16 R itu. Erland menautkan kedua alisnya dirinya seperti pernah melihat foto almarhum Hendra.
" Kayaknya aku pernah melihat orangnya di foto itu, tapi dimana ya?" Ucap Erland dalam hati sambil mengingat ingat.
" Oh..i see..! Ya aku baru ingat, bukan kah dia adalah laki laki yang pernah bercumbu mesra didepan supermarket dengan seorang wanita.."
Erland tidak lupa dengan wajah laki laki itu, karena dalam satu hari yang sama ia dua kali melihat Hendra dengan seorang wanita yang sama yaitu kedua kalinya saat dia sedang makan di sebuah restoran bersama dengan anak murid muridnya. Tapi yang jelas wanita itu bukanlah Mirah, Erland sudah mencirinya. Sangat jauh berbeda dengan Mirah, perempuan itu ciri cirinya berambut pirang warna jagung, sedang kan Mirah berambut hitam legam.
Pria itu ternyata adalah suami Mirah, yang kini tubuhnya sudah menjadi jasad membeku di hadapan Erland.
Erland pun jadi teringat dengan cerita Ibu Lela yang menceritakan tentang Mirah, kini terjawab sudah kenapa Mirah tak bersama lagi dengan suaminya walupun status Mirah belum bercerai pada saat itu.
" Astaghfirullahalazim..ampuni hamba ya Allah!"
__ADS_1
Erland pun juga tidak mau dirinya menghakimi seseorang yang telah meninggal atas kesalahannya. Baginya ini semua sudah garis manusia dari yang maha kuasa, kematian jodoh dan rejeki Allah yang mengaturnya.