
Sesuai permintaan Erland, Mirah sengaja tidak sarapan bersama Ibunya ia sudah rapih dengan seragam binatu.
" Mirah berangkat dulu ya, Bu."
" Lho kamu tidak sarapan dulu!"
" Tidak Bu, teman Mirah ngajak sarapan di luar."
" Kamu tidak terlambat nanti kalau sarapan dulu dengan teman mu."
" Tidak Bu masih ada waktu kok."
Mirah lalu pamit kepada Endang yang hari ini sepupunya akan bekerja.
" Dek, Mba berangkat duluan ya!"
" Iya Mba, hati hati di jalan!"
" Iya kamu juga hari ini mau intervieuw kan? semoga kamu diterima bekerja. jangan sampai terlambat!"
" Iya Mba aku habiskan sarapan dulu lalu berangkat."
Mirah kemudian Salim pada Ibunya dan juga kepada Intan.
" Intan Mama berangkat bekerja dulu ya!"
" He'em..hati hati Mama."
" Makasih sayangnya Mama."
__ADS_1
Sesuai janjinya Erlando sudah menunggu Sumirah didepan apartemen, mata Erland sudah menangkap Ibu muda cantik itu turun dari angkutan umum. Nampak mata Mirah mencari keberadaan Tuannya yang katanya menunggu di depan apartemen.
TiNN
Erland menurunkan kaca mobil dan mengklakson memberi tanda pada Mirah bahwa ia menunggu didalam mobil. Mata Mirah mengerjap melihat Tuannya didalam mobil yang mewah, Mirah segera menghampiri Erland.
" Selamat pagi Tuan."
" Hhm pagi, masuklah !"
" Pake mobil Tuan, bukannya dekat bubur ayam langganan Tuan, tinggal jalan kaki saja."
" Bawel, cepat masuk saya sudah lapar.!"
" Iya iya Tuan!"
Mirah lalu membuka pintu belakang ia tidak mungkin duduk didepan.
" Eugh..tapi kan?"
" Tapi kan saya bukan supir kamu!"
Mirah mau tidak mau dengan perasaan canggung duduk didepan.
" Memang ya kalau orang kaya begitu, ketimbang mau makan bubur ayam aja pake mobil padahal dekat." Bathin Mirah.
Setelah Mirah duduk didepan Erland tersenyum samar samar, suasana pagi hari yang dingin jalanan masih lenggang suasana hati Erland bahagia ia mengajak Mirah sarapan diluar. Mobil sudah melaju pelan hanya beberapa meter mobil Erland putar balik di jalan u-turn.
Hanya lima menit mobil sudah sampai tujuan tempat jual bubur ayam langganan Erland di sebuah jejeran ruko. Nampak ramai penyantap bubur ayam Chinese. Erland dan Mirah turun lalu mencari meja yang masih kosong.
__ADS_1
" Pak buburnya 2 mangkok ya!"
" Siap Pak, silahkan duduk dulu Pak!"
Erland dan Mirah setelah menempati meja, masih harus menunggu bubur yang sedang disiapkan.
" Ramai sekali Tuan di sini."
" Bubur Ayam ini sudah lama disini bubur nya sangat enak nanti kamu coba pasti nagih."
5 menit bubur ayam dua mangkok sudah di antar ke meja Erland dan Mirah, mata Mirah membulat melihat bubur ayam yang porsi nya banyak terlihat penuh munjung dengan toping cakue ayam suwir daun bawang sampai menutupi bubur.
" Tuan ini banyak sekali porsinya, apa saya sanggup menghabisi bubur ini!"
" Makan saja pelan pelan!" Balas Erland senyum.
Mirah dan Erland mulai menyantap bubur ayam, Mirah mengakui bubur ayam langganan Tuannya benar benar sedap.
" Oiya Tuan, apa Tuan tidak terlambat ke kantor?"
Mirah mulai membuka pembicaraan sambil menikmati bubur yang sudah sisa setengah.
" Saya berangkat agak siang.."
" Apa Boss Tuan tidak marah, kalau Tuan berangkat sudah siang?"
Erland tersenyum Mirah belum tahu kedudukan Erland adalah CEO yang Mirah tahu dirinya adalah guru disekolah milik Orang tuanya
" Paling di pecat sama Boss saya!" Erland menoleh pada Mirah dengan senyum meledek Mirah
__ADS_1
" Ya kalau Tuan di pecat tapi masih bisa ngajar di sekolah. Tuan kenapa tidak menetap mengajar disekolah saja?"
" Saya masih sibuk saja dikantor, setelah selesai saya akan mengajar."