
Mirah rasanya sudah ingin cepat pulang mengganti kebaya dengan dasternya, belum lagi tumit dan betisnya terasa kencang ototnya, lama berdiri berjalan mondar mandir melayani tamu kini terasa sangat pegal kakinya maklum saja Mirah dari kemarin sore sampai malam lalu lanjut pagi pagi lagi sudah datang. Namun mengingat masih diminta tolong mana mungkin Mirah selesai acara ini ia langsung pulang, Nyonya Friska masih menahannya untuk bantu bantu membereskan semua bekas acara putranya.
Sejak Zafran datang Mirah menjadi pusat perhatiannya, matanya tak lepas memandangi seorang wanita berparas ayu sibuk melayani para tamu, Zafran jadi ingin sekali mendekati dan berkenalan dengan Mirah, Zafran menunggu kesempatan dan saat waktu yang tepat Mirah duduk dan kebetulan ada kursi disebelahnya sudah kosong.
Mirah diam saja ia menghiraukan pria yang duduk di sebelahnya sambil meneguk minuman dingin membuat terasa segar kerongkongannya, sementara Zafran yang duduk di samping Mirah matanya sebentar sebentar melirik pada Mirah sambil minum dengan minuman yang sama dengan Mirah.
Wanita disebelahnya ini sepertinya kalau tidak duluan di ajak ngobrol tidak akan dia bicara, Zafran akan memulainya.
" Sendirian saja, Dek?"
" Eugh..?" Mirah menoleh sesaat.
" Tidak..berdua sama Mas Zafran, kan!" lanjut Mirah.
Zafran jadi tersenyum, tak di duga baru kenal Mirah bisa bercanda.
" Maksud ku..tidak bersama suaminya."
Mirah hanya menggeleng.
Mirah kembali mode diam saja, Zafran menjadi kikuk. Mirah sendiri karakternya memang tidak bisa langsung akrab pada orang yang baru kenal, jadi menurut Zafran Mirah terkesan cuek dan acuh.
Zafran merhatikan Mirah seperti yang kelelahan memijit mijit bahunya sendiri.
" Capek ya, Dek?"
Mirah menoleh pada Zafran dan hanya tersenyum.
" Iya..Mas." Balasnya pelan lalu melanjutkan ucapannya.
" Dari kemarin sore saya bantu bantu di sini."
" Oh..pantas saja, jelas kamu capek."
" Tapi saya sudah biasa, namanya juga cari uang."
Zafran yang terus mengajak ngobrol Mirah Lala lama tidak canggung lagi, walaupun Mirah hanya sekali sekali menimpalinya. Sampai ada sepasang mata rupanya sedang memperhatikan mereka yang terlihat akrab.
Erland matanya terus memperhatikan Mirah yang duduk bersama teman dari kerabat Papihnya, padahal Erland sedang bersama Sarah ingin rasanya Erland beranjak meninggalkan tamu tamunya dan menghampiri mereka berdua, tapi Erland masih harus menemani para tamu tamu di ruangan itu.
Hari sudah semakin sore, tamu tamu sudah meninggalkan rumah Wijaya, orang tua Sarah pun sudah kembali pulang, Tapi yang membuat Erland bertanya tanya Zafran masih berbincang dengan Papihnya. Para pekerja keluarga Wijaya masih sibuk membersihkan semua sisa sisa acara pertunangan Erland, Mirah dan Darmi juga masih di dapur membersihkan perabot perabotan yang kotor.
" Mirah.."
" Iya Bu Darmi?"
" Kalau sudah selesai sebelum pulang Nyonya Friska menunggu mu, temui Nyonya dulu!"
" Baik Bu."
__ADS_1
" Ibu mau sapu halaman belakang."
Mirah mengangguk.
Di dapur itu tinggal Mirah sendirian membersihkan peralatan dapur lainnya, tanpa di sadari Erland telah berdiri di belakang Mirah.
" Mirah..!"
Mirah kaget mendengar suara Tuannya,lalu memutar badan menghadap Erland.
" Tu- tuan..ada yang Tuan butuhkan!"
" Kenapa kamu masih di sini..?"
" Euh..sa-saya masih harus merapihkan ini dulu Tuan."
Mirah lalu menunduk, Erland terus menatap dingin kearahnya.
" Apa kamu sengaja?"
Mirah mendongak menautkan kedua alisnya tidak mengerti maksud pertanyaan Erland.
" Eugh, sengaja..ma-maksud Tuan apa?"
" Hhm." Erland menarik sebelah sudut bibirnya.
" Kau sengaja biar bisa akrab dengan tamu saya, sepertinya tamu sedang menunggu kamu."
" Tamu Tuan, saya tidak mengerti?"
" Tidak usah berpura pura!"
" Saya masih berada di sini memang Nyonya masih membutuhkan sa- akhh!"
Erland tiba tiba menarik kasar pinggang Mirah sampai dada Mirah menempel pada dada Erland. Mirah kaget jantungnya berdebar kepalanya dicondongkan sedikit kebelakang kedua tangan Mirah menahan dada bidang Erland saking terlalu dekat jarak wajah mereka hingga hembusan nafas berat Erland terasa menerpa pada wajah Mirah.
" Zafran..dia tamu saya."
" Lalu maksud Tuan apa?"
Mirah sadar ini tidak benar dengan posisi mereka. Mirah minta dilepaskan tangan Tuannya ini yang terlalu kencang menahan pinggangnya.
" Tuan lepaskan?"
Erland belum mau melepaskan namun matanya melihat Bu Darmi, dengan cepat tangan nya di turunkan.
" Aku akan mengantar mu pulang!"
" Tidak Tuan saya bisa pulang sendi-"
__ADS_1
" Jangan bantah! Saya tunggu di mobil!"
Erland lalu bergegas meninggalkan Mirah, jangan sampai Darmi mendapati mereka sedang berdekatan akan menaruh curiga nantinya, Mirah Lemas lalu bersandar di sisi washtofel sambil menekan dadanya mengambil nafas dalam dalam, perlakuan Erland membuat jantung nya hampir saja copot. Erland nampak sedang marah padanya, tapi Mirah tidak mengerti atas perlakuan Erland pada dirinya, ia sedang menebak nebak apa maksud Tuannya ini, apa mungkin Tuan Erland sedang cemburu.
" Mirah kau belum selesai?"
Suara Darmi mengagetkan Mirah. Mirah langsung melanjutkan mencuci.
" Sudah mau selesai.."
" Jangan lupa temui Nyonya!"
" Iya Bu."
Sampai di luar Mirah kepalanya menoleh ke kanan ke kiri, hingga terdengar suara klakson mobil.
TiNN
Erland memberi tanda pada Mirah, Mirah matanya menangkap mobil Tuannya di parkir agak sedikit jauh. Mirah agak ragu menghampiri mobil Erland sampai langkah agak melambat, Erland kembali mengklakson lalu langkahnya di agak di percepat Mirah takut Erland tidak sabar menunggunya. Setelah mendekat ke mobil Erland, Erland membuka pintu depan.
" Cepat masuk!" Titah Erland.
Mirah masuk lalu menutup pintu Erland langsung melajukan mobilnya.
Selama di perjalanan Mirah hanya diam saja, Erland sambil menyetir matanya sebentar menoleh ke Mirah yang masih berpaling kaca jendela
" Kenapa diam saja?"
Mirah menoleh lalu menggeleng.
" Tidak apa apa, saya hanya merasa seharusnya Tuan tidak perlu mengantar saya pulang."
Erland sudah bertunangan tidak pantas saja Erland memaksa dirinya mengantarnya pulang, Mirah memikirkan perasaan Sarah tunangan nya kalau sampai ada yang melihatnya.
" Jadi kamu mau Zafran yang mengantar mu pulang, begitu?"
" Euh, tidak Tuan, saya tidak mengerti maksud Tuan?"
" Hhm..Tidak usah pura pura."
" Saya hanya kasihan dengan Nona Sarah Tuan."
" Dia sudah pulang dan tidak mau diantar." Ucap Erland dengan wajah dingin.
Sarah memang sudah pulang, tapi tidak bersama dengan orang tuanya bahkan Sarah menolak tidak mau di antarnya, Erland sedikit curiga. Erland tiba tiba melajukan mobilnya dengan cepat membuat Mirah tegang.
" Tuan pelankan sedikit, ini terlalu cepat."
" Santai saja, Mirah!"
__ADS_1
Erland nampak suasana hatinya sedang tidak baik baik saja, Erland sedang cemburu pada temannya Zafran sepertinya menyukai Mirah, sekaligus ada kecurigaan pada Sarah. Tapi ia tidak peduli pada Sarah yang menolak di antar pulang, Erland lebih mencondongkan hatinya pada Mirah jangan sampai Mirah di antar Zafran pulang.