
" Sayang tidak usah kita hampiri mereka..!"
Hendra menolak raut wajahnya terlihat takut.
" Kenapa kamu takut?"
" Bu-bukan begi-"
" Hah..sudah lah!" Ratna langsung menarik tangan Hendra,
Kemudian mereka melangkah tangan Ratna berpindah sengaja di lingkarkan pada lengan Hendra, mereka mulai mendekat ke meja Mirah. Warti dan Endang berusaha menenangkan Mirah, ketika Hendra dan istri barunya sudah mendekat berhenti di hadapan mereka yang masih mengisi meja itu.
" Hai..kita bisa bertemu ya disini..waow kebetulan sekali.."
Deg
Jantung Mirah berdetak mendengar Ratna menyapa, tidak di kira juga oleh Warti dan Endang kalau Hendra dan Ratna berhenti di meja mereka.
Hendra sendiri merasa tidak nyaman saat bertemu dengan mertua nya, di mal. Warti matanya langsung bersirobrok pada menantunya.
" Apa kabar Nak Hendra?" Ucap Warti sambil berdiri.
" Ba-baik Bu.."
Kedua bola mata Warti bergerak berpindah menatap Hendra dan juga wanita di samping hendra, Warti tersenyum ramah, ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada Hendra, yang jelas sebagai Ibu ia pun sangat kecewa pada kelakuan Hendra.
" Mas..Ibu ini siapa?" Tanya Ratna.
" Eum..di-dia.."
Hendra ingin menjawab tapi kenapa lidah nya terasa keluh ketika berhadapan dengan mertuanya, benar benar sudah terpojok. Namun Warti tiba tiba langsung memotong.
" Saya Warti Ibunya Mirah! masih mertuanya Hendra, bukan begitu Nak Hendra?" Ucapnya tenang.
Hendra mengangguk kecil ia langsung menunduk tidak berani lama lama menatap mertuanya. Warti teringat bagaimana dulu Hendra datang pada Ayah dan Ibu Mirah meminta putrinya untuk dipinang oleh Hendra, terus terang saja saat itu Warti sangat begitu berat untuk melepas Mirah menikah dengan Hendra. Hendra ingin serius dengan Mirah, tapi apa mau dikata Warti dan suaminya tidak bisa menolak karena Mirah sendiri sangat begitu mencintai Hendra yang adalah cinta pertamanya.
Sebagai seorang Ibu apa yang telah terjadi dengan anak kandungnya, Mirah yang sudah tersakiti oleh Hendra hatinya Warti pun sangatlah kecewa. Warti sudah melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri, hari itu Warti meminta Hendra ingin segera putuskan perceraian dengan putrinya.
" Owh..Ibu nya Mirah..."
Ratna matanya menatap Warti dari rambut sampai kaki, melihat penampilan Warti yang sangat sangat ndeso sekali, Ratna sedikit mentertawakan penampilan Ibu Mirah yang memakai kebaya.
__ADS_1
foto Warti.
Warti sekilas melirik pada Ratna, ia tidak suka dengan sikap Ratna seperti mentertawakan dirinya entah apa maksudnya, dirinya pun malas menanggapi wanita ular ini. Ia hanya ingin menilai Hendra saja yang terlihat tubuhnya menurun.
" Nak Hendra kau sehat sehat saja?"
" Iya Bu.."
" Kenapa tubuh mu terlihat kurus, apa istri baru mu tidak mengurus mu dengan benar?" Ucapnya sambil melirik pada Ratna.
Hendra tidak bisa menjawab, memang benar dirinya sering mengeluh sakit pada lambungnya beberapa terakhir ini.
" Jaga kesehatan jangan telat makan..! masa sudah punya istri baru malah kurusan."
" Hendra hanya capek bekerja saja, Bu."
" Ibu sebenarnya ingin bicara sama kamu, tapi kebetulan sekali kita ketemu di sini, tak apalah! Ibu hanya meminta segera ceraikan Mirah!"
Deg
" Lepaskan Mirah! biar Mirah juga bisa bahagia.."
Hendra terdiam lalu kepalanya mengangguk.
Warti setelah bicara lalu mengajak Mirah dan Endang pulang. Namun mata Ratna beralih pada belanjaan Mirah di bawah meja.
" Sepertinya kamu sudah mendapatkan uang, bisa belanja dan makan di sini.."
Warti lalu mengedipkan mata pada Mirah maksudnya supaya jangan di ladenin pertanyaan Ratna.
" Sayang ayo kita pergi saja dari sini.." Ajak Hendra pada Ratna.
Tapi Ratna sepertinya tidak puas ingin mencela Mirah yang tidak menanggapinya.
" Hei perempuan kampung, aku bicara pada mu!"
Mirah tidak mau menanggapi Ratna, ia hanya fokus pada Intan saja. Warti dan Endang juga sama sama siap meninggalkan Hendra dan Ratna beranjak berdiri tangan mereka masing masing sudah menenteng tas belanja.
Ratna sempatkan menghina dan menuduh Mirah sebelum menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
" Kau melacur..aohh aku tahu, kalian bisa belanja dan makan di sini dari hasil uang mencuri uang suami ku bukan?"
Deg.
Mirah langkahnya terhenti, telinganya terasa panas dengarnya ia tidak terima dengan tuduhan hinaan Ratna. Mirah berbalik menghadap Ratna dan mendekat.
Plakk
" Awhh..!" Pekik Ratna sambil memegang pipi.
" Jaga mulut mu, perempuan sialan! aku tidak serendah itu, berkaca lah, apa kamu sendiri sudah benar hidup mu?"
Masih di tempat itu, Warti Endang juga Hendra tersentak, Mirah menampar pipi Ratna. Sontak semua mata para pengunjung mal yang makan di area foodcourt memandang ke arah mereka yang jadi tontonan. Karena suara Mirah dan suara tamparan itu begitu kencang dan menggelegar. Sampai para pengunjung masih di meja terpaku menyaksikan mereka ada yang langsung berdiri, ada yang lagi melintas di hadapan merekapun berhenti.
" Sayang..ayo kita pergi dari sini!"
" Tidak Mas, dia sudah menampar ku!"
Hendra jadi serba salah tapi malah membela Ratna.
" Mirah..kau ?"
" Apa Mas..? dia yang lebih dulu, jadi pantas aku harus menampar dia.."
Ratna yang licik langsung membaca situasi di area foodcourt itu. Ratna yang malu di tampar Mirah didapan umum, berbalik mempermalukan Mirah.
" Dengar ya kalian semua yang ada di sini..wanita ini..!" Tunjuknya pada Mirah.
" Dia bisa makan dan belanja karena hasil mencuri uang suami saya..!"
Ratna mengucapnya dengan keras dan lantang matanya sambil mengedar pada orang orang pengunjung mal.
" Wah parah tuh..mau makan enak, nyolong kerja woy!!"
Ucap salah satu pengunjung mal. Mirah segera menggendong Intan lalu mengajak Ibu nya dan Endang untuk cepat pergi dari tempat itu.
" Huuuuuhh pencuri!!!"
" Dasar garong..!"
Hinaan dan celaan dari beberapa mulut pengunjung mal menjadi kepuasan Ratna mempermalukan Mirah. Warti dan Endang dan Mirah sambil menggendong Intan diam tidak bisa berbuat apa apa, mereka hanya terus melangkah lebar dan cepat melewati meja meja area foodcourt itu sampai hilang dari pandangan.
__ADS_1