
Mirah dengan cepat mengeringkan kedua tangan nya yang basah sehabis mencuci piring, langkahnya lalu mengikuti Darmi disebelah kanan. Matanya langsung tertuju pada Erlando yang sedikit menunduk pada sarapannya. Namun sudah hampir jarak dekat dari meja itu Mirah mengernyitkan kedua alisnya dalam benaknya sepertinya ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, bukan.
" lho bukankah dia pria yang waktu itu?"
Sampai di meja saat Sumirah dan Darmi sudah mendekat tebakan Sumirah benar ya! pria itu yang pernah menolongnya di apotik.
" Nak Erland dia yang akan bekerja di sini."
Erland pun lalu mengangkat wajahnya, dan terkejut ia pun sama pernah melihat wanita itu, dan langsung mengenalinya ia masih ingat dia adalah Ibu yang anaknya menangis meminta bermain mobil goyang, dan ia menolong Ibu itu.
Deg
" Eugh..bukan kah dia wanita itu yang antri di apotik? dia akan bekerja disini?' Ucapnya dalam hati.
Erland pun berdiri matanya langsung menatap wajah Mirah. Darmi mengenalkan Sumirah pada Erland.
" Nak Erland dia namanya Sumirah.."
Erland mengangguk hatinya tidak percaya kalau ia kembali bertemu lagi dengan Ibu muda yang cantik ini, Ibu muda yang sempat memikirkan Mirah sebelumnya. Namun sialnya Ibu ini yang akan bekerja di apartemen miliknya. apa tidak salah. Perasaan Erland langsung bergejolak ada rasa senang bisa bertemu kembali dengan Ibu muda yang cantik ini. Erland sejenak tertegun menatap Mirah.
__ADS_1
" Saya Sumirah Tuan."
" Eum Iyah..!" Erland menjadi gugup dan memutuskan tatapan pada Mirah tenggorokannya seketika susah menelan saliva.
Kemudian Sumirah spontan bibirnya bergerak berucap.
" Maaf sebelumnya..eum bukankah saya pernah bertemu dengan Tuan?"
Darmi yang posisinya berada di tengah menatap heran pada Erland dan Sumirah bergantian.
" Oh..kamu sudah pernah bertemu dengan Tuan Erland."
" Iya sepertinya Bu Darmi.." Sumirah mengganggukan kepala sedikit dengan wajah ekspresi ragu.
Tapi Erland tiba tiba hatinya tidak mau mengakui nya dulu. Ia akan berpura pura tidak pernah bertemu dengan Mirah untuk sementara ini, karena Erland takut Sumirah tidak akan mau bekerja di apartemennya nanti. Ia harus bersikap biasa saja dan demi citranya sebagai guru dan juga CEO, ia pun ingin tahu bagaimana cara kerja nya Sumirah. Ia harus jaga batasan antara majikan dan pembantu.
" Maaf mungkin kamu salah lihat, kamu pernah bertemu dengan saya di mana?"
" Eugh..beberapa Minggu lalu di apotik bukan?"
__ADS_1
" Di apotik..maaf saya sebulan di Singapur dan belum lama saya sudah kembali, jadi mana mungkin kita pernah bertemu.."
Jawaban dari Erland memuat hatinya jadi malu dan merasa tidak enak, tapi rasanya ingatan Sumirah tidak salah. Ia yakin kalau ia memang benar benar pernah bertemu dengan pria tampan ini.
" Eugh..oh maaf kalau begitu..saya salah..'
" Kamu ini percaya diri sekali, mana pernah Tuan Erland ke apotik?' Balas Darmi.
" I-iya Bu maaf tebakan saya salah." Jawab Mirah yang gugup.
Erland pun duduk dan kembali sarapan, wajah nya ia rubah menjadi dingin dan seolah olah tidak peduli pada Mirah yang masih berdiri di hadapannya.
" Tunggu apalagi, silahkan tinggalkan saya, saya mau sarapan dulu!'
" Ba- baik Tuan!'
" Oiya. Bu Darmi sudah beritahu cara bekerja dan apa saja perkejaan mu?"
" Sudah Tuan!"
__ADS_1
Erland mengangguk tanpa melihat Sumirah. Darmi segera mengajak Mirah ke kamar Erland untuk membereskan tempat tidur.
" Ayo Mirah!'