My Sexy Maid

My Sexy Maid
Pelukan Tiba Tiba


__ADS_3

Saat kehadiran keluarga Wijaya datang melayat kerumah duka, mereka sungguh menjadi pusat perhatian para tamu di rumah Mirah, mereka seperti berbisik bisik membicarakan ada hubungan apa antara Mirah dengan keluarga Wijaya, pengusaha kaya dan pemilik sekolah ternama itu sangat di segani dan sungguh di hormati ketika mereka baru turun dari mobil mewah semua mata memandang kagum kearah keluarga Wijaya bak seperti kedatangan selebritis terkenal orang orang langsung menyambut memberikan jalan untuk keluarga Wijaya, mereka pun menerima sambut balik sangat ramah rupanya. Bukti mereka mau datang memberi penghormatan tanpa memandang status.


Tak cuma itu keluarga Damian Wijaya sangat menghormati mau membalas uluran jabatan tangan para tamu lainnya satu persatu. Para pejabat tinggi dari perusahaan Hendra bekerja, sangat senang bisa bertemu secara langsung karena kedatangan dari pengusaha terkaya di kota B yang mereka tidak sangka sangka mau menghadiri kerumah duka. RT dan RW setempat spontan secara langsung memberikan pelayanan terbaik pada keluarga Wijaya.


Kembali didalam ruang tamu Erland matanya mencari Mirah.


" Dia kemana ya?" Erland celingak celingukan.


" Kamu mencari siapa?" Tanya Mamih Erland berbisik.


" Euh..tidak Mih!"


" Kamu mencari Mirah, dia tadi masuk kedalam.."


" Owh..!" Erland mengangguk.


Rasanya Erland ingin menghampiri Mirah, tapi masih tertahan karena banyak tamu.


" Pih.."


" Heum..?"


" Apa kita di sini sampai selesai, dan ikut ke pemakaman?"


" Sepertinya tidak Mih, kerena Papih harus kembali ke kantor ada klien menunggu Papih.."


" Ya sudah, kita pamit dulu dengan keluarga di sini.."


" He'uh.." Angguk Damian.


" Nak kita pulang ya!" Ucap Friska pada Erland.


" Iya Mih..!"


Erland seperti nya ragu untuk pulang, tapi mengingat pekerjaan di kantor menumpuk ia terpaksa ikut kedua orang tuanya, padahal ia masih ingin menemani Mirah yang sedang sedih.


Keluarga Wijaya beranjak berdiri sebelum pulang Friska pamit pada Warti. Friska menghampiri Ibu Mirah.


" Ibu mohon maaf kami tidak bisa ikut ke pemakaman kami ijin pamit..!"

__ADS_1


" lho kok sudah mau pulang Nyonya?" Ucap Warti sungkan bicara pada Nyonya besar Wijaya.


" Iya Bu..suami dan anak saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan lama lama."


Warti mengangguk mengerti mereka memang orang yang sangat sibuk tapi Warti bersyukur karena keluarga Wijaya masih meluangkan waktunya untuk melayat.


" Saya sangat berterimakasih sekali atas waktunya sudah mau hadir melayat almarhum mantu saya."


" Iya Bu, sama sama..dan ini mohon di terima ya..!" Ucap Friska ramah kemudian memberikan amplop tebal berisikan uang takziah ke tangan Warti.


" Terimakasih Nyonya Tuan dan Tuan Erland."


Erland dan Damian mengangguk, namun lagi lagi Erland masih menunggu sosok pujaan hatinya yang belum saja keluar padahal ia dan kedua orang tuanya sesaat lagi akan pulang.


" Bu Mirahnya mana? kami mau pamit.." Sela Erland.


" Owh sebentar! dia sedang di kamar, biar saya panggilkan dulu..!"


Warti lalu bergegas menuju kamar ia terpaksa membangunkan Mirah yang sedang beristirahat, namun Erland sepertinya terdesak hatinya ingin menemui Mirah sebelum pulang rasanya belum lega saja kalau tidak pamit dengan Mirah, tiba tiba saja Erland mengikuti Warti dari belakang.


" Erland arek kamana?" Sergah Friska pada Erland.


Friska hanya menggelengkan kepala, dengan kelakuan Erland yang membuatnya gemas pada putranya, kenapa juga harus mengikuti Warti sampai kedalam hanya untuk pamit pada Mirah.


" Haduuhh Pih, aya aya wae si Erland Ihh..!"


Damian hanya diam menahan tawa, memang tingkah putranya itu benar benar sudah jatuh hati pada Mirah.


" Ya sudah kita tunggu saja dulu!"


" Ngerakeun si Erland, Pih!"


Damian hanya mengangkat kedua bahunya saja, Damian pasrah pasti di dalam mobil istrinya akan mencubit habis putranya.


Sampai di depan pintu kamar Warti mengetuk pintu sedangkan Erland sudah berdiri di belakang Warti


Tok tok tok


" Mir..Mirah!"

__ADS_1


" Iya Bu.." Balas Mirah di dalam kamar.


Mirah didalam kamar langsung hilang seketika rasa kantuk dan lelah nya, ia merasa sudah tertidur 30 menit bagi Mirah sudah cukup, Mirah terbangun karena suara ketukan pintu.


" Nyonya Friska mau pamit pulang."


Masih didalam kamar itu Mirah sedikit terkejut mendengar keluarga Wijaya mau pamit pulang, rasa tidak enak di hati Mirah mulai menggelayuti.


" Ya ampun, aku sampai tidak menemani Nyonya Friska.."


Buru Buru Mirah bangun lalu membasuh wajahnya dengan air agar tidak terlihat wajah baru bangun tidurnya walau matanya masih sembab. Mirah bergegas ingin keluar menemui keluarga Wijaya sebelum pamit pulang.


Saat Mirah membuka daun pintu kamar, Warti berdiri di depan pintu bersama Erland yang sudah berdiri di belakang Ibunya, Mirah sampai menautkan kedua alisnya melihat Tuan Erland berada di depan pintu kamar. Erland menatap Mirah yang baru bangun tidur dengan sorotan matanya yang tajam


" Euh Tuan Erland..?" Gumamnya pelan.


" Mirah keluar dulu Nyonya Friska ingin pamit.."


" Iya Bu, Mirah temui beliau..!"


Warti pun Lalu meninggalkan Mirah dan Erland di ruangan itu.


" Maaf Tuan Erland saya tadi sangat lelah sekali, saya ketiduran..!"


" Tidak perlu meminta maaf, saya mengerti kamu pasti sangat lelah, saya mau pulang maaf juga saya dan Mamih Papih tidak ikut ke makam, saya harus kembali ke kantor.."


" Iya Tuan, saya antar ya! sekalian saya mau mengucapkan terima kasih kepada beliau.."


" Tidak usah..saya saja yang mewakili .."


" Tapi Tuan saya tidak eenak ahh..!"


Ucapan Mirah terhenti tiba tiba saja Erland meraih pinggang Mirah dan memeluk Mirah erat membuat Mirah membulatkan kedua matanya tidak percaya dan sungguh terkejut dengan perlakuan Erland.


" Tu-tuan!!" Ucap Mirah minta dilepaskan.


Erland lalu melepaskan pelukan nya, entah kenapa juga tiba tiba ia terdorong ingin memeluk Mirah. Mirah dadanya sampai berdegup kencang bukan tidak mungkin bisa saja ada yang melihat mereka berpelukan apalagi banyak tamu.


" Maaf! saya sampai memeluk mu, karena saya tidak mau kamu berlarut dalam kesedihan.." Erland beralasan.

__ADS_1


Mirah mengangguk cepat dan Erland lalu melangkah keluar dan di ikuti Mirah di belakang nya.


__ADS_2