
Kabar Erland dan Sarah akan bertunangan semakin santer beritanya, dari keluarga dua belah pihak mulai mempersiapkan acara pertunangan Erland dan Sarah yang akan di laksanakan satu Minggu lagi.
" Mirah..!" Panggil Lela sudah berdiri di ambang pintu perpustakaan, namun suaranya Lela sedikit kencang.
" Ssutt..!" Mirah menoleh seraya menempelkan jari telunjuk di mulutnya memberi peringatan pada temannya yang lupa bahwa di perpustakaan tidak dibolehkan bersuara keras karena akan menganggu siswa yang sedang membaca.
Lela sambil menutup mulutnya menghampiri ke meja Mirah, tujuan Lela ingin mengajak makan siang bersama di luar kantin sekolah.
" Maaf aku tidak sadar..!"
Dalam ruang perpustakaan begitu hening sedikit pun tak terdengar suara, bila ada siswa yang bicara nya dengan suara keras Mirah selalu menegur, karena peraturan dalam ruang perpustakaan. Mirah dan Lela pun hanya bisa bicara dengan suara yang sangat begitu pelan.
" Ada apa?"
" Kita makan di luar yuk!"
" Boleh..!"
" Ok gue tunggu!"
Dua piring nasi putih hangat dengan telur asin yang di belah dua di sajikan pelayan warteg yang sudah jadi langganan Mirah dan Lela letaknya tidak jauh masih sekitaran depan gedung sekolah. Nasi rawon merupakan makanan favorit mereka.
" Matur nuwun Bu!" Ujar Mirah.
" Sama sama Mba Mirah!"
Semangkuk kuah Rawon mulai di sendoki lalu di siram ke nasi, sebelum menyantap tak lupa kerupuk putih sebagai pelengkap makan siang mereka. Mirah dan Lela mulai menyantap makanan kuah hitam itu.
" Emmm..enak banget nasi rawon di sini."
__ADS_1
" Setuju, sama enaknya nasi rawon buatan nyokap lu."
Lela mematahkan krupuk putih menjadi dua dan di berikan pada Mirah.
" Oiya Mir..elu udah tau belum kabarnya Pak Erland?"
" Kabar apa la?"
" Pak Erland kan mau tunangan!"
" Uhuk egrhm egrhm
Mirah seketika memegang lehernya, keselek kuah rawon yang di sruput dengan sendok hingga perih di tenggorokkan nya, begitu mendengar kabar Erland akan bertunangan.
" Kenapa Mir?"
" Pelan pelan sruput kuahnya!, minum dulu!"
Mirah meraih gelas minumnya yang di sodorkan Lela, air putih itu di minum sampai kandas, rasa perih di tenggorokkan nya sedikit berkurang.
" Ehgrmm.." Mirah berdehem lagi membenarkan tenggorokkan nya.
" Elu tadi ngomong apa? Pak Erland mau tunangan?"
" Iya, emang elu belum tau?"
Mirah menggeleng.
" Udah santer banget beritanya di mana mana..!"
__ADS_1
" Ouw..."
Mirah jadi terdiam pikirannya jadi teringat beberapa hari lalu saat bertemu dengan Erland yang nampak berubah sikapnya tidak sehangat dulu. Mirah jadi mengerti penyebab Erland menjauh darinya. Mirah merasa bodoh mana mungkin Erland bisa menyukai dirinya yang hanya orang biasa saja, Erland mantan majikanya yang diam diam sering memandangnya, sudah menemukan wanita tambatan hatinya yang lebih pantas.
Lela menyentuh tangan Mirah membuat dirinya berhenti dari lamunan
" Mir elu diem aja, kenapa?"
Mirah menggeleng.
" Gak apa apa, gue udah selesai makannya, yuk ahh balik!" Balas Mirah langsung berdiri.
Esok harinya Mirah yang sudah melupakan sikap manis Erland, merasa sosok Erland yang sudah tak terjangkau lagi. Mirah yang sedang bekerja mendengar suara getar ponselnya. Nyonya Friska menelpon Mirah.
" Nyonya Friska?"
Mirah langsung menggeser gambar gagang telepon dan menjawab telpon Nyonya besar Wijaya.
" Halo Nyonya."
" Apa kabar kamu Mirah?"
" Alhamdulillah baik Nyonya."
Friska rupanya menelpon Mirah untuk meminta bantuannya, yaitu ikut bantu bantu bersama Darmi menyiapkan keperluan pada saat acara pertunangan putranya itu.
" Kamu bisa kan memasak yang enak buat tamu tamu nanti di rumah."
" Bisa Nyonya dengan senang hati saya siap membantu."
__ADS_1