
Erland mulai melajukan mobilnya mengantar Mirah pulang, sedangkan Mirah masih terasa ngantuk ia masih saja menguap beberapa kali.
" Tuan nanti kalau sudah sampai tolong bangunin ya, saya mau tidur lagi.."
Mirah tidak peduli pada Majikannya sendiri, Mirah hanya perlu tidur.
" Hem iya..!"
Mirah begitu memejamkan mata langsung masuk ke alam tidurnya padahal Erland mau mengajak Mirah makan diluar sebelum sampai di rumah Mirah, Erland melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang itu yang membuat Mirah makin nyenyak tidurnya. Erland sampai menggelengkan kepala maid nya ini benar benar lelah.
" Tidurlah!" Ucapnya pelan.
45 menit mobil sudah sampai Mirah lalu dibangunkan Erland setelah mobil berhenti.
" Mirah bangun kita sudah sampai."
Tangan Mirah mengucek matanya yang terasa masih lengket.
" Tidak terasa sudah sampai cepat sekali.."
" Itu karena kamu nyenyak tidurnya, jangan tidur terlalu malam!"
" Iya Tuan, terimakasih ya Tuan sudah mau mengantar saya"
" Hhem.."
" Eum apa Tuan mau mampir dulu?" Tawar Mirah basa basi.
" Boleh, saya mau ngobrol ngobrol dengan Ibu kamu."
" Eugh..?"
Mirah terkejut ia tidak menduga pikirnya Erland tentu saja tidak mau mampir, padahal ia cuma sekedar basa basi saja.
" Kenapa? kamu menawarkan saya untuk mampir dulu, kamu keberatan?"
" Euh..emm ti-tidak sama sekali Tuan, cuma saja masih ada saudara saudara saya dari kampung Tuan..hehehe.." Balas nya cengengesan sambil menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal.
" Tidak masalah Ayo turun! tidak usah cengengesan begitu, siapa suruh menawarkan saya.." Ucap Erland santai.
__ADS_1
" Baiklah Tuan!" Balas Mirah pasrah.
Saat Mirah turun pikirannya berkecamuk, kalau Erland singgah dirumahnya yang dia diami saat masih bersama Hendra. Mirah merasa tidak enak pada tetangga dan juga pada saudara saudaranya. Pasti ia menjadi guncingan orang orang, apalagi situasi dirumahnya saat ini sedang berkumpul saudara saudara Mirah.
" Asalamualaikum selamat malam!"
Ucap Erland ketika mereka sudah sampai teras.
Warti Ibu Mirah yang sedang berbincang di ruang tamu beranjak keluar lalu terkejut melihat Mirah datang bersama Erland.
" Waalaikumsalam..! ehh Tuan Erland."
" Saya mengantarkan Mirah pulang, maaf Bu saya menahan Mirah untuk menunggu saya dulu saya baru pulang dari luar kota.."
Erland beralasan pada Ibu Mirah yang sudah ia siapkan sebelumnya alasannya agar keluarga Mirah tidak curiga dan bertanya macam macam.
" Iya Bu, Mirah jadi harus lembur.."
" Ohh tidak apa apa, Ibu terimakasih Tuan Erland sudah mau mengantar Mirah pulang."
Mirah lalu Salim pada Ibunya dan juga Erland memberi tangannya untuk salaman pada Ibu Mirah juga pada saudara saudaranya.
" Silahkan uduk dulu Tuan Erland..!"
" Mir..buatkan minuman untuk Tuan Erland!"
" Iya Bu..! Tuan sebentar ya! Saya buatkan minum dulu.."
Erland nampak begitu nyaman ngobrol bareng bersama keluarga dan saudara saudara Mirah. Di ruang tamu itu ada Eyang Mirah yang sudah berumur 80 tahun, Eyang Mirah walupun dari kampung tapi cara bicara dan cara duduknya sangat elegan. Saat Eyang Mirah bertatapan langsung dengan Erland, Eyang Mirah bisa membaca sikap Erland, bahwa pria tampan ini menyukai Mirah cucunya.
" Warti.." Panggilnya lembut
" Dalem Bu..?"
" Iki wong ganteng ndelok apik.."
Warti tersenyum mengangguk dengan ucapan Eyang Mirah.
" Sopo jenenge..?"
__ADS_1
" Erland Bu!"
Eyang Mirah mengangguk angguk pelan, mata Eyang Mirah menelusuri wajah Erland seperti menscan Erland, diamnya Eyang Mirah sedang menilai sosok Erland.
" Seneng sama Mirah.."
" Aku durung Bu, ora ngerti terserah Mirah saja.."
Erland hanya diam karena tidak jelas dengan percakapan Ibu Mirah dan Eyang Mirah yang bicaranya sangat pelan.
" Tuan Erland silahkan di minum, Mirah sedang mandi."
" Iya Bu Terimakasih."
Setelah berbincang bincang cukup lama Erland kemudian pamit pulang, Erland sudah pergi. Mirah siap menunggu pertanyaan dari Ibu dan Eyangnya.
" Mirah.."
" Iya Bu?"
" Seperti nya Tuan Erland ada perasaan dengan kamu.."
" Maksud Ibu?"
" Kalau Tuan Erland sampai mengantar mu pulang dan mau bertemu dengan keluarga itu tandanya Tuan Erland ingin mengenalmu lebih jauh ia juga perhatian pada mu dan Ibu lihat Tuan Erland sepertinya menyukai mu."
Mirah hanya tersenyum menanggapi ucapannya Ibunya, mungkin ada benarnya Erland menyukainya tapi Mirah sejauh ini tidak mau baper dan tidak sama sekali untuk menanggapinya kalau memang Erland ada perasaan suka dan perhatian padanya.
" Aku tidak tahu Bu, selama Mirah mengenal Tuan Erland beliau memang orangnya sangat perhatian dan menurut ku itu sudah biasa Tuan Erland perhatian pada siapa saja." Jawab Mirah ngeles.
" Tapi Tuan Erland kelihatannya pria yang baik."
" Mas Hendra juga dulu seperti Itu Bu, baik awalnya tapi setelah menikah..-"
Mirah tidak mau melanjutkannya, sama saja Mirah akan mengingat ingat lagi bagaimana Hendra perlakukan Mirah sangat menderita ia tidak mau kepancing, karena kenangan pahit itu masih sangat melekat di pelupuk matanya.
" Mirah tidak berani Bu, untuk berfikir terlalu jauh pada Tuan Erland, Tuan Erland itu tampan dan sangat kaya Bu, Mirah tidak mau bermimpi, apalah dibanding dengan keluarga kita ini, Bu, tidak ada apa apanya...Tuan Erland akan lebih pantas dengan wanita yang sama dengan derajatnya.."
Mendengar penuturan Mirah, Warti dan Eyang Mirah saling pandang sesaat, Warti dan Eyang Mirah mengangguk setuju.
__ADS_1
" Ya sudah kamu istirahat, Ibu sama Eyang mu masih mau di sini dulu, ngobrol."
" Eyang..Mirah tinggal dulu mau pamit tidur duluan!"