My Sexy Maid

My Sexy Maid
Benar Benar Menuruti


__ADS_3

Mirah pasrah lebih baik ia diam dari pada ia mengulang kata lagi meminta Erland jangan terlalu cepat akan semakin emosi nanti Tuannya, Wajah Mirah tegang tapi dalam hatinya ia merapalkan doa doa semoga selamat sampai rumah.


Hanya 20 menit Erland menepuk perjalanan sampai komplek perumahan kediaman Mirah, Mirah akhirnya bisa menarik nafas lega Tuannya benar benar sudah gila melajukan mobilnya.


" Sudah sampai turunlah!"


Mirah mengangguk dengan wajah pucat.


" Terimakasih Tuan."


Namun sebelum Mirah turun Erland mengatakan sesuatu yang membuat hati Mirah sedih mendengar nya.


" Mirah.."


" Iya Tuan!"


" Saya harap kamu jangan menampakan diri kamu lagi di hadapan saya."


Deg


Mirah mengangkat wajahnya menatap Erland yang tidak menatapnya, Mirah tersenyum kecut lalu mengangguk


" Baiklah Tuan!"


Setalah Mirah turun dan menutup pintu, Erland langsung melajukan mobilnya. Mata Erland melihat Mirah dari kaca spion berjalan pelan sambil menunduk.


" Maafkan aku Mirah!" Ucap Erland dalam hati.


Sungguh ini menyiksa diri nya menyukai seorang yang tak bisa di gapai untuk di miliki, menjauh malah semakin rindu mendekat ada tali yang sudah mengikat dan itu harus di jaga. Apa yang di harapkan lagi selain meminta Mirah untuk menjauhinya dengan begitu Erland bisa melupakan Mirah, bukan tidak mungkin bisa terjadi saat tadi ia mendekap Mirah rasanya ia ingin ******* habis bibir Mirah dan mencurahkan rasa rindunya pada Mirah.


Setelah kembali mengantar Mirah pulang, Zafran baru hendak keluar dan bertemu Erland


" Lho Pak Zafran sudah mau pulang, kenapa buru buru?"


" Maaf Pak Erland sudah sore lain waktu saya akan singgah."


" Oh..ok baiklah,.terima kasih atas kehadirannya."


" Sama sama Pak Erland..oiya Pak Erland boleh saya bertanya?"


" Apa itu Pak Zafran?"

__ADS_1


Wajah Zafran terlihat merona malu ingin menanyakan wanita yang tadi ia ajak bicara.


" Ahh saya sebenarnya."


Ucapan Zafran menggantung dan membuat Erland sedikit penasaran.


" Tidak usah ragu katakan saja!"


" Saya mau bertanya dengan wanita yang bernama Mirah."


Deg


" Mirah?" Erland tersenyum kecut


" Iya, apa dia masih di dalam? sebenarnya saya menunggu dia."


Erland tanggap tubuhnya bersedekap melipat kedua tangan di depan dada, rupanya benar tebakannya, Zafran menunggu Mirah.


" Maaf saya tidak memperhatikan itu, lagi pula banyak pekerja di rumah saya tapi sepertinya dia sudah pulang."


Zafran mengangguk anggukan kepala.


" Ah sayang sekali."


" Pak Erland bukan begitu..saya ingin menawarkan dia pulang bersama saya."


" Katakan! apa Pak Zafran menyukai salah satu pekerja di rumah saya?" Goda Erland.


Erland sebenarnya bukan sekedar menggoda temannya tapi menelisik merasa tersaingi jika Zafran mulai tertarik dengan Mirah.


" Ya saya tertarik dengannya, dia cantik, ok Pak Erland saya permisi pulang."


" Baiklah!"


Saat Zafran menuju mobilnya di balik itu senyum Erland hilang seketika berubah menjadi dingin. Erland jadi terusik atas pengakuan Zafran.


Mirah sudah mengganti kebaya dengan daster favoritnya terasa plong dan adem, tubuh lelahnya sudah tidak bisa di tahan Mirah rebahan di kasur ranjang tempat peraduannya bersama almarhum suaminya. Pikirannya kini tertuju dengan ucapan Erland mengapa terasa sesak di dada. Lagi lagi Mirah merasa bodoh tentu ia sadari Erland tak seperti dulu yang selalu mencari perhatian dan curi curi pandang padanya kini meminta dirinya untuk jangan pernah lagi dia muncul di hadapannya. Apa mungkin Erland juga menyadari kalau dirinya juga sudah merindukannya. Mirah tidak mengerti semua itu.


lelah memikirkan perkataan Erland tak terasa Mirah mulai mengantuk dan perlahan memejamkan kedua, namun detik kemudian perlakuan Erland terbayang dalam pejaman matanya kenapa Erland menarik pinggangnya dan mendekapnya begitu erat, mata Mirah terbuka lebar rasa kantuk pun jadi hilang.


" Tunggu..! kenapa Tuan mendekap ku dan sorot matanya, dan Tuan tadi juga mengatakan temannya sedang menunggunya, Mas Zafran?"

__ADS_1


Mirah mulai menyusun sikap dan tuduhan Erland, menuduhnya sengaja akrab dengan tamunya Zafran.


" Apa Tuan Erland tidak suka aku berteman dangan tamunya, lalu apa urusannya?"


Mirah pusing di buatnya, dan menambah lelah otak dan tubuhnya. Mirah kembali memejamkan matanya.


Sudah satu bulan ini Mirah benar benar menuruti permintaan Erland, ia tidak pernah bahkan tidak berani muncul di hadapan Tuannya lagi, walaupun Mirah tahu keberadaan Erland di sekolah dan sedang mengajar. Seperti sekarang ini Mirah membutuhkan tanda tangan kepala sekolah tapi karena di ruangan kepsek Erland sedang berada di sana, Mirah pun terpaksa menitipkan saja pada Lela.


" Selamat siang Pak kepsek, Pak Erland!"


" Oh kamu Lela ada apa?" Ucap Kepsek.


" Ini Pak kepsek tolong di tanda tangani di sini !"


" lho bukan kah ini biasanya pekerjaan Bu Mirah?"


Lela hanya tersenyum dirinya juga tidak tahu kenapa alasan temannya sekaligus sahabatnya meminta tolong pada dirinya. Erland diam bincang bincang nya dengan kepsek terjeda saat Lela datang, namun mendengar nama Mirah di sebutkan kepsek Erland sempat menengok pada pintu masuk mungkin saja Mirah menunggu di luar dan enggan masuk karena keberadaannya tapi ia tidak melihatnya.


" Maaf Pak Kepsek Mirah menitipkan pada saya karena sedang tidak enak badan." Lela beralasan.


Erland mengernyitkan dahinya Lela mengatakan Mirah sedang tidak enak badan apa memang benar Mirah sedang sakit. Selesai mendapat tanda tangan Lela dengan hormat keluar dari ruangan kepsek.


" Terimakasih Pak Kepsek, permisi!" Lela membungkuk hormat pada Kepsek dan juga pada Erland.


Sampai di luar saat Lela berjalan Erland memanggil Lela, Lela menghentikan langkahnya.


" Bu Lela!"


Lela menoleh memutar badan.


" Iya Pak Erland?"


" Apa benar Mirah sedang sakit?"


" Maaf Pak Erland sebenarnya Mirah ada di ruang perpus dan sedang baik baik saja, tapi saya tidak tahu alasan kenapa Mirah menitipkan ini pada saya, ya..saya hanya di minta dan membantunya."


Lela tidak mungkin menutupi dari Erland yang adalah putra pemilik sekolah Wijaya, karna bagaimana pun Lela harus patuh.


Erland mengangguk dalam benak nya Mirah benar benar menuruti permintaannya, dan benar benar sudah satu bulan ini Erland sama sekali tidak melihat di sekolah.


" Baik terimakasih Bu Lela."

__ADS_1


" Sama sama Pak Erland."


Hari terus berganti waktu pulalah yang menjadikan Mirah mulai menerima keadaan dan sosok wajah dan rupa Erland sedikit mulai terkikis bayang bayang Erland. Tapi tidak dengan Erland, Erland masih suka memandangi Mirah walau dari kejauhan.


__ADS_2