
Sampai di apartemen Erland menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur, Erland sedang malas bila langsung membersihkan tubuhnya dulu walau sudah terasa lengket karena keringat yang sudah mengering di badan ia merasa lelah pikiran nya dengan urusan pekerjaan di perusahaan dan belum lagi masalah ia harus menerima perjodohannya dengan Sarah.
" Mereka sungguh egois tidak memikirkan perasaan ku, aku ini udah duda bangkotan..bisa bisanya mengatur untuk pilihan ku sendiri, Tidak bisakah menghargai perasaan ku?"
Erland juga memikirkan perkataan Ibunya, alangkah baiknya Mirah tidak lagi bekerja di apartemen tidak perlu sampai satu bulan, ucap Mamihnya.
" Ahh sial.." Cicit Erland gelisah.
Pikiran Erland lalu melayang membayangkan Mirah, rasanya ia tidak bisa jauh dari Mirah tapi Erland masih punya banyak kesempatan bertemu dengan Mirah di sekolah mengingat Mirah akan bekerja di perpustakaan menggantikan staff yang resign. Erland akan secepat nya menyelesaikan urusan pekerjaan di perusahaan dan akan mulai menyambi mengajar di sekolah dengan begitu ia masih bisa mendekati Mirah.
Pukul 6 pagi Mirah sudah datang di apartemen Erland, Mirah sekaligus akan mengatakan bahwa hari ini ia tidak lagi bekerja di apartemen Erland. Tadi malam Nyonya Friska menelponnya.
" Selamat pagi Tuan!"
" Pagi Mirah..!"
" Maaf Tuan boleh saya duduk ada hal yang ingin saya sampaikan."
" Silahkan, ada hal apa yang ingin kau sampaikan?"
" Maaf Tuan mulai hari ini saya di perintahkan Nyonya untuk tidak tugas bekerja di sini lagi.."
Erland sudah menebak hal yang akan di sampaikan Mirah, tapi itu sudah keputusan Mamih nya yang tidak bisa Erland tolak, buat Erland tidak masalah.
" Iya saya sudah tahu itu, kamu akan bekerja di sekolah."
" Iya Tuan, jadi saya mau mengucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf apabila saya pernah melakukan kesalahan dalam bekerja."
" Tidak perlu meminta maaf, kamu bekerja di sini sangat baik membantu saya."
" Baik kalau begitu saya permisi Tuan, dan hari Senin saya sudah mulai bekerja di sekolah."
__ADS_1
Mirah beranjak dari duduknya dan mulai akan melangkah namun Erland menghentikan sejenak.
" Mirah..!"
" Iya Tuan!"
" Buatkan sarapan untuk saya..!"
" Baik Tuan.."
Mirah bergegas membuat sarapan untuk Erland, entah mengapa Mirah sangat senang masih di pinta oleh Erland untuk di buatkan sarapan. Mirah memanfaatkan waktu sebelum pergi untuk bisa berdekatan dengan Erland dirinya juga merasa seperti tidak mau jauh dari Erland. Sejak Ibunya mengatakan bahwa Erland menyukainya, Ya Mirah memang merasakannya ada cinta di mata Erland dari cara tatapan Erland kepadanya. Hanya saja ia mengabaikan karena sadar ia tidak pantas.
" Tuan sarapan nya sudah jadi."
" Terimakasih Mirah..sarapan lah bersama!"
Mirah ragu, tapi ini yang Mirah kesempatan untuk hari ini sarapan pagi bersama Erland, Mirah akhirnya mengangguk.
" Baik Tuan.."
Mereka berdua sarapan pagi dengan tenang, tidak ada yang mau lebih dulu membuka pembicaraan, hingga di meja itu Mirah dan Erland menjadi kaku. Sarapan mereka mulai habis Erland dan Mirah tiba tiba saja secara bersamaan memulai.
" Mirah Tuan.."
" Kamu mau katakan sesuatu, duluan saja!"
" Ah.saya mau katakan apa Tuan mau tambah lagi sarapannya?"
" Owh tidak Mirah, cukup!"
" Euh.em, Tu-tuan tadi mau katakan apa?"
__ADS_1
Kini giliran Erland akan bicara, ia ingin mengungkapkan perasaanya tapi Erland menarik kembali bagi nya ini sudah terlambat mengingat perjodohannya dengan Sarah.
" Saya..-"
" Kenapa Tuan?"
" Euh trimakasih ya! Kamu masih bersedia membuatkan sarapan!"
" Owh..tidak apa apa Tuan, tapi seandainya kalau memang Tuan membutuhkan saya di apartemen Tuan tidak usah sungkan, anggap saja itu sambilan saya Tuan."
" Oiya bisa..nanti kapan kalau saya butuh saya akan menghubungi mu."
Mirah beranjak lalu tangannya membenahi piring kosong Erland lalu di bawa ke wastafel dan mencuci piring piring itu, selesai Mirah pun pamit pada Erland.
" Tuan saya pamit pulang."
" Euh iya Mirah, dan ini gaji dari saya selama kamu bekerja."
Mirah menerima amplop yang sangat tebal dari Erland.
" Euh terimakasih banyak Tuan!"
" Iya sama sama Mirah, sampai ketemu nanti."
Mirah akhirnya melangkah dan segera ingin meninggalkan apartemen namun belum sampai pintu Erland memanggil.
" Mirah!"
" Iya Tuan."
" Hati hati di jalan!"
__ADS_1
" Iya Tuan, Tuan juga hati hati di jalan dan sukses selalu!"