
Lift sudah membawa Darmi dan Sumirah ke lantai 20, Darmi sangat tenang tapi Sumirah tetap saja gugup.
" Kenapa aku segugup ini sih?" Bathin Sumirah.
Ting
Pintu lift terbuka.
" Jam 6 kurang 5 menit kita tepat waktu." Ucap Darmi.
Keduanya melangkah agak di percepat agar cepat sampai. Setalah sampai di depan pintu Apartemen Sumirah tangan nya sedikit merapihkan seragam dan rambut.
" Ini nomor kode kamar Tuan, kau harus ingat jangan sampai lupa!"
Sebelum Darmi menekan angka angka kode akses kamar Apartemen Darmi mengingatkan Sumirah.
" Apa Tuan sudah bangun?'
" Pasti sudah bangun."
Pintu sudah terbuka Darmi dan Sumirah pun masuk, mata Sumirah langsung mengerjap lalu seketika pandangannya mengedari ruangan kamar apartemen itu ia kagum akan kemewahan ruangan Apartemen yang interiornya di desain bergaya lightning sangat eksklusif. Warna cat tembok paduan antara putih dan abu abu muda menyejukkan mata. Dalam ruangan itu begitu tenang dan adem dikulit tubuh.
Darmi matanya tertuju pada pintu kamar Erland yang masih tertutup ia ragu untuk mengetuk pintu membangun kan Tuan muda itu.
" Apa Tuan masih tidur?" Gumamnya pelan.
__ADS_1
" Nampak sepi Bu?" Sahut Mirah.
" Iya mungkin Tuan masih tidur, sebentar saya telpon Ibu Friska dulu."
5 menit Darmi menelpon Friska nampak kepalanya mengangguk angguk. Sumirah yang berdiri di samping Darmi hanya memerhatikan saja.
" Mirah.."
" Iya Bu Darmi?"
" Kita langsung ke dapur saja, Ibu Friska sedang menelpon membangunkan Tuan."
Mirah mengangguk.
" Ayo..!" Ajak Darmi.
" Selagi Tuan masih di dalam, Ibu akan menjelaskan pekerjaan untuk kamu."
Darmi kemudian mengecek lemari es melihat isi dalam lemari es itu, banyak bahan bahan stok seperti buah sayur daging dan macam macam minuman. Rupanya Tuan Erland sudah belanja stok makanan yang disimpan di lemari es itu.
" Kamu buatlah nasi goreng telur mata sapi setengah matang, Tuan sangat suka itu. Biar saya yang buat minuman jus."
" Baik Bu!'
Mirah langsung bergerak atas arahan Bu Darmi. Ia akan membuat nasi goreng biasa tangan nya mulai meracik bumbu nasi goreng. Sedangkan Darmi sedang membelah jeruk dan diperas dengan alat perasaan jeruk. 30 menit nasi goreng dan minuman jus segar telah selesai dan sudah di sajikan dimeja. Bertepatan Erland keluar dari kamar ia nampak sudah rapih berbalut pakaian kantor.
__ADS_1
Darmi yang mendengar suara pintu kamar itu, langsung menemui Erland.
" Selamat pagi Nak Erland."
" Ehh Bu Darmi, selamat pagi Bu Darmi."
Melihat Darmi sudah berada di apartemen Erland menyambut Darmi yang menyapa dengan senyuman. Erland pun tersenyum dan langsung memberi pelukan juga mencium pipi Darmi pelayan yang sudah di anggap Ibu sendiri.
" Bu Darmi kenapa tidak membangun saya?"
" Haduh Ibu takut menggangu tidur Nak Erland, Ibu gak tega."
" Tidak apa apa Bu Darmi, oiya bagaimana apa Ibu bersama orang baru yang akan bekerja di sini karena Mamih sudah memberitahuku sebelumnya."
" Iya Nak Erland, Sumirah sedang cuci piring..."
" Oh jadi namanya Sumirah, Erland mau bicara sama dia."
" Nak Erland sarapan dulu, Mirah buat nasi goreng telur mata sapi setengah matang."
Erland mengangguk lalu langkahnya akan menuju ke meja untuk Sarapan. Erland sama sekali tidak membayangkan bagaimana rupa dan sosok orang suruhan Mamih nya yang akan bersih bersih di apartemen. Namun ketika sudah sampai di meja dan ingin duduk matanya melirik pada wanita yang sedang berhadapan washtofel mencuci piring belum jelas karena membelakangi nya.
" Itu orangnya, Nak Erland biar bicara.dulu sebelum berangkat ke kantor."
Erland nampak biasa saja matanya kemudian hanya melihat sarapan yang di depannya. Darmi segera menghampiri Sumirah yang saat itu sudah selesai mencuci.
__ADS_1
" Mirah itu Tuan Erland, Tuan ingin bicara sama kamu dulu!"
" Iya Bu!"