
" Selamat pagi Tuan!"
Erland langsung menoleh dilihat Mirah sudah sampai melihat pembantunya sudah datang matanya menatap Mirah dengan nafas yang ngos ngosan.
" Pagi, oh kamu sudah sampai."
" Maaf Tuan Ibu saya sampai tadi jam setengah 6 begitu sampai saya langsung berangkat, Tuan sudah Sarapan?"
" Belum kamu buatlah sarapan, saya akan berangkat ke kantor jam setengah 8 saja."
" Eum..baik Tuan, sebentar tidak lama kok!'
Mirah langsung berlalu ke dapur Mirah akan membuat telur mata sapi saja dan membuat roti juga kopi dan jus. Erland lagi lagi mencuri curi pandang ke arah Mirah yang sibuk membuat sarapan.
" Akww.."
Erland mendengar Mirah meringis sakit ia langsung bergegas menghampiri Mirah.
" Ada apa kenapa tangan mu?"
Mirah sedang menutup jarinya yang terlihat darah dengan tangan, matanya mencari tisu untuk menghentikan darah di jarinya akibat keiris pisau dapur.
" Tidak apa apa Tuan saya sudah biasa ke iris pisau.."
" Jangan lalai kamu terlalu terburu buru memotong sampai ke iris pisau, biar saya ambil obat kalau tidak darahnya terus mengalir."
Erland langsung menuju kotak obat ia mengambil plester dan Betadine.
" Sini mana jari nya?"
Sumirah ingin menolak tapi jari yang keiris pisau itu langsung di raih Erland.
" Tidak apa apa Tuan, biar saya saja sendiri!'
" Lihat ini luka irisan nya dalam pisau ini sangat tajam."
__ADS_1
" Maksudnya biar saya saja yang tutup dengan plester Tuan tidak usah repot repot!"
" Saya tidak mau makanan yang kamu masak kecampur dengan darah, mengerti!'
" Eugh..iya Tuan!' Mirah tidak bisa menolak Erlando yang ingin mengobati luka irisan kena pisau karena mata Erland menatapnya sangat tajam apalagi dengan jarak wajah keduanya begitu dekat.
Erland mulai mengobati luka di jari telunjuk Mirah dengan Betadine lalu di tutup dengan plester ia beralasan saja padahal ia ingin menyentuh jari jari Ibu cantik ini. Selama mengobati luka Mirah hanya diam tidak berani dan Erland merasakan menyentuh jari jari Mirah saja rasanya dadanya terus bergejolak.
" Sudah, lain kali hati hati kalau lagi mengiris dangan pisau."
" Tadi saya mau memotong jeruk buat jus Tuan, jeruknya licin.."
" Sudahlah jangan diteruskan buat jusnya air putih saja."
" Sarapannya sudah tersedia Tuan, trimakasih Tuan sudah mengobati luka saya."
" Hmm.." Erland mengangguk
" Tuan Sarapan dulu saya mau membereskan dapur."
" Sudah Tuan!"
" Ya sudah saya sarapan dulu kalau begitu."
Dikediaman Wijaya dalam kamar pribadi Friska dan Damian sebelum turun untuk sarapan Friska ingin membicarakan Erlando pada suaminya.
" Pih.." Tangan Friska seraya memasangkan dasi ke leher Damian.
" Heum..?" balas Damian sambil menatap Friska yang sedang serius memasang dasi.
" Mamih heran deh sama putra kita?"
" Heran kenapa ?"
Friska menatap sesaat wajah Damian. lalu kembali fokus memasangkan dasi.
__ADS_1
" Permintaan Erland kepada Mamih, Mirah yang akan mengurus apartemennya. kayaknya Mamih merasakan ada udang di balik bakwan deh Pih.."
Damian tertawa mendengar ucapan istrinya yang serius tapi ujung ujungnya ucapannya bikin ketawa dengarnya.
" Mamih ini serius bicaranya..!'
" Ini dua rius Pih malahan!"
Damian kembali tertawa.
" Memangnya ada apa dengan Erland?"
" Haduhh Papih kalau Mamih mah peka deh!"
" Peka kenapa?"
" Artinya Erland menyukai Mirah.'
" Eughh..? Mamih bisa liat dari mana?'
Setelah memasangkan dasi, Friska membantu memakaikan jas pada Damian.
" Yah nanti Papih lihat saja deh! kelakuan Erland?"
" Maksudnya Erland, apa sudah membuka hati untuk mendapatkan istri lagi?'
" Kalau itu Mamih belum bisa pastikan, cuma saja Erland sepertinya tertarik dengan Mirah."
" Papih sih terserah bagaimana pilihan putra kita saja Mih, kasihan Erland lama lama duda akut."
" Hush Papih nih! tapi Mirah kan masih punya suami, Pih! Mamih takut Erland kalau sudah suka sama perempuan berarti perempuan itu benar benar perempuan yang dia inginkan. Papih tahukan? sudah beberapa wanita yang tidak masuk ke hati Erland ia sudah lama menutup hati, tapi ini dengan Mirah..putra kita sepertinya tergoda."
" Papih percaya Erland Mih! dia bisa mengambil keputusan yang tepat, kita lihat saja nanti!'
" Tapi bagaimana kalau Erland yang ditolak Mirah, Pih! putra kita biasa menolak wanita yang tidak dia inginkan.'
__ADS_1