
Melihat tingkah istri dan Anak nya, membuat Damian ketawa, Mirah pun juga menutup mulutnya menahan ketawa.
" Papih ini malah ketawa!"
Damian langsung diam dirinya juga tidak bisa berbuat apa apa ia percaya putranya tidak mungkin berbuat macam macam dengan Mirah.
" Papih bantuin Erland dong!" Seraya tangannya menahan pukulan bertubuh tubi bahkan dapat cubitan dari Mamihnya
" Gak Papih diem di situ!"
" Ya ampun Mamih, Mamih kenapa jadi ngereog sih!, Mirah bantuin saya!"
" Nyonya..!"
" Apa ? diam di situ!" Tunjuknya pada Mirah.
Mirah jadi serba salah mencoba ingin menjelaskan pada Friska.
" Mih..iya iya ampon dah!"
" Kamu berduaan dikamar, awok awok ya!"
" Euh awok awok apaan sih Mih?"
" Mamih sudah! nanti kepala Mamih sakit!" Damian mengingatkan.
" Mamih..Mamih percaya Erland, kami berdua memang dikamar tapi bukan berarti kami berbuat Mih!"
__ADS_1
Friska akhirnya lelah memukuli putranya, bahkan mulai terasa sakit tangannya, tubuh putranya sangat keras ototnya.
" Aduhh..sakit juga ya tangan Mamih mukulin kamu..ya sudah kalian ikut Mamih, Mamih mau sidang kamu berdua!"
" Sidang apa sih Mih, kayak MPR DPR aja sidang!" Balas Erland.
Friska lalu menggiring Erland dan Mirah keluar dari kamar sampai di sofa mereka berdua pun menurut saja.
" Kalian berdua duduk! Papih sini duduk di sebelah Mamih!" Perintah Friska.
Bertiga pun menurut dan duduk bersama, tapi kemudian mata Friska menatap seragam Mirah yang basah.
" Mirah kenapa baju kamu basah begini?"
" Ini Nyonya dari tadi saya mau jelaskan, tapi demi Allah Tuan Nyonya, Tuan Erland dan saya tidak berbuat macam macam yang Nyonya pikirkan, maaf Nyonya Tuan."
" Tuh Mamih dengar sendiri kan!"
" Nyonya tadi itu saya.."
Mirah mulai menceritakan kenapa mereka bisa berduaan di kamar, Erland dan Mirah mengklarifikasi hal yang sepele di besar besarkan kepada Friska dan Damian.
" Begitu Mih ceritanya.." Ucap Erland.
Friska pun jadi lega dengan penuturan Mirah dan Erland, mereka masih menjaga batasan dan belum pernah sampai terjadi apa apa selama Mirah bekerja di apartemen, Erland sangat menghargai Mirah, jadi tidak ada yang perlu di kuatirkan pada Friska dan Damian.
" Tapi sekali lagi Mamih tekan kan, kalian harus punya batasan, juga Mirah kau pun masih bersuami!" Ucap Friska tegas.
__ADS_1
Walau demikian ada sepenggal di hati Erland tidak terima Mirah masih bersuami, Erland harus menahan diri dan harus menerima kenyataan itu, kalau saja merebut istri orang tidak berdosa Erland pasti akan melakukan nya.
" Tapi kamu tetap bekerja di apartemen, selesai itu kau akan bekerja di sekolah,"
" Iya Nyonya, terimakasih!"
" Maafin Mamih dan Papih yaa! sudah berburuk sangka pada kalian."
" Saya yang harusnya minta maaf pada Nyonya dan Tuan!"
" Kalau begitu Mamih dan Papih pulang dulu!, ayo Pih!"
Friska dan Damian berdiri dan akan kembali pulang.
" Erland Papih pulang dulu, benar apa yang dikatakan Mamih..jaga sikap kalian!"
" Iya Pih!" Balas Erland mengangguk.
Damian selama berjalan disamping Friska keluar dari apartemen itu, merasakan ada yang lain pada sikap putranya, dari tatapan Erland pada Mirah berbeda, putranya itu sepertinya memang benar benar menyukai Mirah.
" Mih.."
" Heum..?"
" Jadi menurut Mamih bagaimana, sikap anak kita sepertinya memang suka pada Mirah."
" Hahhh.." Friska membuang nafas pelan.
__ADS_1
" Yekan Papih lihat sendiri dan Mamih sangat tahu sifat Erland dari dulu apa yang putra kita inginkan harus didapatkan, itu yang Mamih khawatirkan, Pih?"
Damian mengangguk, putranya memang agak keras kepala.