
" Asalamualaikum.."
Mirah memberi salam ketika sampai dirumah sewa yang baru di tempati 2 hari lalu, Ibu Mirah sedang menemani cucunya menonton kartun, membalas salam Ratna.
" Waalaikumsalam.."
Mirah Salim kepada Ibunya wajahnya sangat bahagia walupun sedikit lelah tapi melihat putri nya anteng menonton tv sampai merasa putrinya tidak terganggu oleh Ibunya yang sudah pulang.
" Duhhh..anak Mama asik sekali nontonnya." Tangan Mirah membelai lembut pucuk kepala Intan.
Bu Warti tersenyum selama di tinggal Mirah bekerja cucunya tidak rewel, Intan nampak serius menonton sambil mengunyah cemilan di tangannya. Mirah duduk di samping Ibunya menemani sebentar untuk ngobrol sebelum membersihkan tubuhnya, mata Mirah mengedar nampak ruangan rumah sudah tertata rapih dan bersih karena sebelumnya rumah yang di sewa masih sedikit berantakan belum sempat selesai di benahi
" Siapa yang menata ruangan ini Bu?"
" Sepupumu lah di bantu Ibu sambil jaga Intan."
Mirah mengangguk, memang benar feeling-nya lebih nyaman bersama Ibu dan saudara sepupunya apalagi putrinya yang di tinggal bekerja akan terasa tenang.
" Lalu Endang dimana Bu?"
" Endang sedang bertemu dengan temannya kebetulan temannya juga sama sama berada di kota B. Katanya ia akan mendapat pekerjaan dari temannya.
" Ohh..syukurlah semoga dia bisa mendapat pekerjaan dan lancar."
" Ibu menyarankan juga sama sepupu mu kalau sudah mendapat pekerjaan tapi harus bisa kuliah juga, jaman sekarang susah mendapat kerja kalau cuma ijasah SMA saja apalagi Endang itu pintar di sekolah, sayangkan! kalau tidak kuliah masih banyak waktu untuk mengembangkan potensinya untuk memperbaiki ekonomi lah!"
Mirah kembali mengangguk setuju dengan ucapan Ibunya tapi sejurus kemudian jadi teringat dengan masa lalunya ketika Ayahnya masih ada mengharapkan Mirah untuk bisa kuliah tapi apa daya orang tuanya tidak sanggup membiayai Mirah kuliah, setelah lulus SMA Mirah mendapatkan pekerjaan tapi baru beberapa bulan sudah dilamar Hendra. Dan memori itu ujung ujungnya teringat dengan suami nya pernikahannya dengan Hendra berakhir tidak bahagia dan dirinya akan menyandang status janda.
Ibu Warti menatap Mirah yang duduk dengan kepala menunduk dan terdiam, Ibu Warti tahu apa yang sedang dipikirkan Mirah.
" Nak.."
__ADS_1
" Iya Bu..?" Wajah Mirah terangkat menatap Ibunya.
" Sudahlah! jangan pikirkan Hendra, mungkin dia sudah bahagia anggap saja jodoh mu cuma sampai di sini..tapi kalau Ibu mau berharap semoga Hendra sadar dan kembali padamu, Insha Allah kalau Allah memperkenankan kalian untuk bersatu kembali."
" Amiin Bu, Insha Allah.."
" Ya sudah mandilah Ibu sudah menyiapkan makan malam.."
Mirah memang selalu rindu masakan Ibu nya, Mirah tersenyum wajah murungnya sekejap ceria kembali.
" Iya Bu, masakan Ibu selalu enak ini yang buat Mirah kangen sama masakan Ibu, Mirah mandi dulu ya Bu!"
" Iya sana..mumpung Intan lagi anteng.." Ibu Warti menatap cucunya.
Malam hari di kala semua sudah tertidur, Mirah baru bangun rasa lelah menghampiri ketika selesai makan malam lalu bermain sebentar dengan Intan dikamar tidak terasa ia malah tertidur. Mirah bangun pukul 10 malam lalu menuju dapur dilihat sedikit cucian piring kotor Mirah langsung mencuci piring selesai mencuci ia meyiangi sayur dan di simpan dikulkas supaya pagi pagi sekali Mirah tidak memburu waktu memasak sarapan untuk mereka berempat. Selesai semua Mirah kembali ke kamar.
Tapi sebelumnya Mirah menengok sebentar ke kamar Ibu dan sepupunya, keduanya tidur terlelap. Mirah masuk kamar rasa kantuk belum menghinggapinya karena sudah tertidur dua jam. Ponsel jadul Mirah berdering ia melihat nama panggilan dari Erland, Tuan nya.
Mirah segera menekan tombol jawab, ia tidak mau suara dering ponsel membangunkan Intan.
π " Ha-halo selamat malam Tuan."
π " Malam..maaf menganggu tidur mu."
π " Tidak sama sekali Tuan, saya belum tidur kok, ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Di apartemen Erland memang belum tertidur ia masih berkutat di meja kerjanya. Ia hanya ingin menelpon Mirah, karena ia lembur dan ketika pulang ia tidak bertemu Mirah yang sudah lebih dulu pulang. Erland hanya ingin mendengar suaranya Mirah saja, alasan menelpon Mirah yaitu ingin di buatkan karedok.
π " Eghem..."
Suara Erland membenarkan suara di tenggorokannya.
__ADS_1
π" Begini Mirah, saya ingin makan karedok.."
π " Owh..iya Tuan, besok saya buatkan karedok untuk makan siang Tuan..ada lagi Tuan?"
π " Saya ingin sarapan bubur ayam besok pagi."
Membuat Mirah mikir keras kalau membuat bubur akan lama prosesnya, bisa bisa ia harus datang lebih pagi lagi.
π " Kamu tidak perlu repot repot membuat bubur ayam, beli saja di sebrang apartemen ada jualan bubur ayam langganan saya."
Tapi Erlando berubah pikirannya, bagaimana kalau ia makan bubur ayam berdua dengan Mirah pasti akan sangat menyenangkan sarapan pagi hari di luar lagi pula besok ia ke kantor agak siang.
π " Baik Tuan sebelum sampai saya akan mampir ketempat bubur Ayam, itu saja Tu-."
π" Atau..eumm..gini saja!"
π " Apa Tuan?"
π " Bagaimana kalau kamu dan saya sarapan bubur bersama, saya..hanya ingin suasana baru sarapan di luar..Jangan menolak saya Mirah!"
π" I-iya baiklah Tuan..!"
Mirah hanya menurut saja apalagi majikannya tidak menerima penolakan bisa bisa ia dipecat.
Erland tersenyum di balik pembicaraan diponsel, digertak sedikit saja Mirah langsung menurut.
π" Oke saya tunggu besok di depan apartemen!"
jangan lupa like dan komen dan hadiahnyaππππ
lanjutt..!
__ADS_1