
Bulan berganti bulan, Erland dan Sarah menjalani hubungan sudah 6 bulan ini, Erland dan Sarah sering jalan dan berkencan berdua, Sarah bahkan sering menginap di kediaman Wijaya hanya saja Erland semenjak memutuskan menerima perjodohan ini tapi belum memberi kepastian kapan hubungan ini akhiri sampai ke jenjang pernikahan.
Erland sungguh patah hati sejak Mirah bekerja di sekolahan, tapi karena perjodohan ini Erland menghargai hubungannya dengan Sarah sampai Erland enggan menemui Mirah lagi walau hatinya sangat ingin sekali menemui Mirah. Erland memang sudah beberapa kali melihat Mirah di sekolahan tapi Erland hanya bisa menatapnya dari kejauhan saja.
Sejak itu pula Erland sangat irit bicaranya ia pun sudah merubah nomor akses apartemen nya, termasuk orang tuanya dan Darmi pun tidak tahu karena Erland sengaja tidak memberikannya. Ia hanya menjaga jangan sampai Sarah singgah ke apartemennya, Erland sudah lebih sering pulang ke mansion saja hanya sekali kali ia menempati apartemen itu. Baginya sekarang Apartemen hanya untuk menumpahkan kesedihan dan kegalauannya dan ingin menyendiri.
" Kak Erland aku sudah siap!"
Erland menatap pada busana yang di pakai Sarah, memang Sarah selalu memakai busana yang tidak pernah tertutup dan malam ini Sarah mengajak berkencan dengan busana yang sangat minim bagian atas terlalu terbuka hanya menutupi bagian pucuk pucuk ***********. Bila di turun kan sedikit saja pucuk payudara itu pasti nampak jelas. Erland enggan menegurnya biarlah memang sudah style Sarah begitu tapi bukan berarti ia bisa terangsang.
" Hhm.." Erland mengangguk.
Sarah lalu melingkarkan tangannya ke lengan kekar Erland. Malam ini Erland dan Sarah akan berkencan di sebuah restoran mewah, Erland memang selalu tidak pernah menolak ajakan Sarah tapi sedikitpun hatinya belum bisa menerima apalagi untuk mencintai Sarah.
Sampai di restoran itu Erland dan Sarah duduk dan seorang pelayan wanita muda datang menghampiri ke meja Erland.
" Selamat malam Tuan Nyonya."
" Hhm.." Erland sedikit mengangguk.
__ADS_1
Pelayan wanita itu lalu menyodorkan map menu makanan.
" Baik mohon tunggu! saya segera menyiapkan sajian untuk Tuan dan Nyonya.
Sarah di meja itu nampak begitu bahagia sekian kalinya Erland tidak pernah menolak berkencan Sarah menggenggam tangan Erland. Sampai pelayan datang genggaman tangan Sarah sesaat di lepas. Tapi begitu pelayan sudah mendekat ke meja Erland tiba tiba saja pelayan wanita kehilangan keseimbangan karena heels pada sepasang sepatu pelayan itu patah hingga sajian makanan dan minuman di tangan pelayan jatuh dan tumpah di meja sampai membasahi busana pada bagian bawah Sarah basah.
" Ohh..maaf Tuan Nyonya, saya tidak sengaja."
Pelayan wanita itu gelagapan dan langsung ketakutan kerena sudah berbuat kesalahan yang fatal baginya.
Sarah lalu berdiri dan memaki pelayan itu mentah mentah, ia sangat penuh amarah pada pelayan wanita itu. Erland pun sama sontak ikut berdiri kaget karena pelayan wanita menumpahkan sajiannya ke meja, tapi Erland lebih kaget lagi dengan kemarahan Sarah yang tidak bisa di kendalikan. Erland sebelum akan menenangkan Sarah lebih dulu mengontrol dirinya untuk tidak emosi Erland bertoleransi baginya itu biasa tapi tetap akan menegur pelayan itu untuk lebih hati hati saat bekerja.
" You idiot bodoh tolol atau buta..dasar pelayan kampungan! mana manager kamu? panggil kesini biar kau di pecat..bangsat kau!"
" Sarah sudah lah please!"
" Are you kidding me..? dia menumpahkan makanan dan minuman, lihat pakaian ku basah semua, Kak?" Kesal Sarah.
Erland menatap pakaian Sarah yang benar benar basah sampai meluber pada kulit di perut rata Sarah.
__ADS_1
" Iya..tapi sudahlah dia memang tidak senagaja, lihat sepatunya?"
Pelayan itu terus menunduk tubuhnya gemetaran.
" Lain kali hati hati bekerja!"
" Baik Tuan..!" Wajah pucat pelayan itu sedikit mendongak melihat wajah Erland dan mengangguk lalu menunduk kembali ia tidak berani menatap Sarah.
" Kita sudahi saja makan malam ini, ya!"
Sarah mengangguk tapi ia masih belum terima dengan kesalahan pelayan wanita itu. Sarah masih sangat kesal.
" Minggir kau *****!"
Sarah sambil menyenggol kencang bahu pelayan itu sampai langkah pelayan itu terdorong.
" Astaghfirullah!" Umpat Erland melihat pelayan itu di hempas Sarah.
Tangan Erland mengeluarkan dompet nya Erland tetap membayar semua sajian yang sudah tumpah itu, walaupun Sarah tidak terima kenapa di bayar.
__ADS_1
" Kakak kenapa harus di bayar?"
Erland diam enggan menjawab ia lalu menarik tangan Sarah keluar dari restoran itu.