
Sarah beranjak dari kursi dan mulai aksinya mendekati Erland lalu menempelkan bokongnya bersandar di sisi meja, Erland melirik sebentar tidak menggubrisnya lalu fokus pada pekerjaannya menatap lembaran ditangannya. Merasa didiamkan Sarah mengedari ruangan Erland yang begitu nyaman, ruangan kantor Erland lebih besar dari pada ruang kantor Daddy nya.
" Hemm nice office!"
Gumam Sarah kagum, lalu matanya menatap Erland yang terus bekerja sangat serius, Erland kini sedang menatap layar laptopnya tanpa merasa terganggu dengan Sarah yang masih bersender di sisi mejanya. Sarah malah semakin jadi tingkahnya, bokongnya yang bulat naikkan menjadi duduk di atas meja kedua tangannya diletakkan di sisi kanan kiri lalu menyilangkan kaki kembali sengaja menampakkan kedua pahanya. Sarah terus menggoda Erland.
Erland mulai merasa jengah dengan posisi Sarah duduk dengan begitu sensual nya, terlihat dari ujung matanya walau ia tetap menatap layar laptop. Sarah ingin tahu apakah Erland akan lemah dengan cara ia duduk menyebabkan rok mini nya yang ketat terangkat sampai setengah pahanya.
" Apakah kau tidak ada pekerjaan? Selain mengganggu Sarah?"
Erland yang sedari tadi hanya mendiamkan Sarah, mulai bersuara.
" Tidak juga begitu! Kak bagaimana kalau kita makan siang berdua?"
__ADS_1
Sarah menunggu jawaban Erland, tapi belum juga di jawabnya.
" Sialan gue di cuekin, untung saja ganteng dan kaya, jangan menyerah Sarah keep fight!" Bathin Sarah sekaligus menyemangati dirinya.
Menit pun berjalan hingga waktunya jam untuk istirahat bertepatan Erland menutup laptopnya, Sarah masih terduduk menunggu Erland bekerja walau ia sudah bosan, ketika Erland beranjak dari kursi Sarah pun ikut beranjak.
" Apa Kakak ingin makan siang? Kita makan bareng ya! Aku sudah lapar!"
" Ke apartemen? Kalau gitu aku ikut Kakak saja, makan siang di apartemen Kakak.
Membuat Erland malah semakin jengah, Erland menarik dalam, terus terang saja kalau Sarah sampai ikut ke apartemennya ia akan tidak nyaman.
" Lain kali saja ya, kita makan di luar, ayo Kakak antar pulang."
__ADS_1
Sungguh ini adalah penolakan yang di rasakan Sarah, karena tak ada satupun laki laki yang pernah menolaknya, hanya Erland yang membuat ia jadi insecure.
Setelah mengatakan Erland berlalu tanpa menunggu jawaban dari Sarah mau atau tidak di antar pulang, Erland tidak peduli. Sarah pun hanya mengekori Erland sampai keluar dari ruangan kantor.
Sampai sore harinya di kediaman Hendra, di tempat tidur itu Hendra masih terbaring lemah ia sungguh tidak punya tenaga karena sakit di lambungnya, dan kini ia merasa nafasnya terasa sesak wajahnya semakin pucat, sebelum nya ia memaksakan dirinya membersihkan kotoran muntah dilantai kamar karena ia tidak mau jika Ratna sudah pulang lantai kamar itu masih kotor.
Hendra tidak bisa makan dan minum, baru makan sedikit saja ia kembali muntah ia sempat mencari persediaan obat di kotak obat namun obat itu sudah habis. Hendra kembali rebahan ditempat tidur saja, sialnya lagi batere ponselnya habis dari semalam ia belum sempat mengisi batere. Padahal Ia ingin menghubungi siapa pun untuk bisa menolongnya, Hendra hanya terdiam tidak bisa melakukan apa apa mau berjalan tidak kuat tidurpun gelisah dadanya terasa sesak.
Hingga menjelang magrib tubuh Hendra semakin drop, Ratna yang di tunggunya belum juga kembali. Ratna sama sekali tidak menelponnya untuk menanyakan keadaannya saja pun tidak, Hendra kini merenung akan nasibnya, dalam kamar yang gelap itu Hendra merintih kesakitan, pikirannya mulai tertuju pada istrinya dan anaknya, Mirah dan Intan putrinya.
Hendra ingin menelpon Mirah tapi ponselnya mati. Ia teringat dengan kata kata Mirah, benar kata Mirah kalau sudah begini dalam keadaan sakit tidak ada yang mau mengurusnya. Hendra kini dirundung rasa menyesal. Ratna rupanya hanya memanfaatkan saja, dirinya kini merutuki kebodohannya. Mirah istrinya yang baik dan penuh perhatian malah di abaikan dan di campakkan begitu saja olehnya. Hatinya campur aduk ia sungguh malu dan apabila dirinya meminta Mirah kembali lalu melihatnya sudah terbaring sakit, rasa nya tidak pantas. Mata Hendra sudah mulai sayu nafasnya pun terdengar berat dengan suara terdengar pilu Hendra memanggil.
" Mirahhhh!"
__ADS_1