
Zafran tersenyum menatap nomor Mirah di ponsel, foto profil Mirah sangat cantik dengan pose berdiri sambil menggendong anak kecil.
" Cantik." Gumam Zafran.
" Om..!" Panggil Dion.
" Om, Dion laper nih."
Zafran nampak terbuai sampai tak menanggapi panggilan keponakannya.
" Woyy Om..wahh kesambet setan budeg !"
" Euh? sembarangan lu kalau ngomong!"
" Lagian di panggilin juga!"
" Apa Dion?"
" Laper nih!"
" Ok kita mampir ke restoran!" Seraya memasukkan ponselnya ke dalam kantong.
Di balik tembok Erland berdiri bersembunyi, sedari tadi ia mengamati perbincangan Mirah dan Zafran tidak terlalu jelas apa yang bicarakan tapi yang Erland tahu Zafran
βmeminta nomor Mirah. Erland keluar setelah Zafran dan Mirah jauh dari pandangan Erland.
" Hahh..!"
Erland mendesah dengan nafas berat lalu menutup laptop nya tubuhnya disandarkan dikursi kebesarannya tangannya memijit keningnya, ia gelisah pikirannya mulai terganggu dengan pertemuan Zafran dan Mirah di sekolah.
" Apa mereka mulai saling kontak?"
Penasaran Erland meraih ponselnya membuka chat berlogo hijau, lalu mencari kontak Mirah, dilihat Mirah sedang online.
" Sudah malam begini Mirah sedang online?"
Erland kembali penasaran ibu jarinya beralih pindah pada kontak Zafran yang sama sedang online.
" Apa mereka sedang saling chat?"
" Brengsek!"
Erland meletakkan ponselnya kembali, rasa ragu belum tentu Mirah dan Zafran sedang online bukan berarti mereka saling chat.
Erland beranjak dari kursi kerjanya menuju rak kecil ia mengambil sebotol wine dan seloki, Erland ingin menikmati kesendiriannya dengan minum minuman beralkohol. Erland kemudian berdiri di koridor kamar apartemennya dan mulai menyesap wine yang cukup menghangatkan tubuhnya, sambil menikmati pemandangan kota di malam hari.
Ia merasa dirinya hampa ia terus memikirkan Mirah yang tak bisa lepas dari otaknya, ditambah kehadiran Zafran teman kerabat Papih nya mengakui suka dengan Mirah.
Erland membayangkan Mirah dan Zafran bagaimana kalau mereka menjalin hubungan apa dirinya sanggup melihat mereka.
Dret dret
Erland merogoh ponselnya didalam kantong ia mendapat pesan dari seseorang mengirim laporan. Erland tersenyum iblis melihat foto foto tersebut
" Kerja bagus!" Balas Erland mengetik di ponselnya.
Erland meneguk wine nya kembali sampai kandas sorot matanya tajam, rahang nya mengeras, setelah mendapat beberapa informasi.
" Hhm *****!"
Satu Minggu kemudian, Zafran sudah beberapa kali menghubungi Mirah baik menelepon atau chat, dengan basa basi menanyakan kabar Mirah menyelipkan kata kata mengandung arti memberi perhatian kecil pada Mirah.
π " Mirah.."
π " Ya Mas?"
__ADS_1
π " Eum..apa boleh...?"
Zafran menggantung ucapannya, ragu ragu ingin mengajak Mirah untuk bertemu dan jalan berdua.
π " Iya Mas?" Mirah mengernyitkan dahinya.
π " Apa boleh kalau ada waktu aku ingin mengajak mu ja-jalan!"
Mirah tersenyum mendengar ucapan Zafran yang gugup dan ragu, terkesan Zafran begitu lucu. Zafran memberanikan diri dalam hati Zafran pun dirinya sudah siap bila Mirah menolaknya, biarlah ia mengurungkan nya dan akan mencobanya lagi.
π" Jalan?"
π " Eum..Iyah, tapi..eum kalau kamu tidak bisa..-" Zafran menjeda.
π" Ya harus bisa! Hehehe.."
Mirah semakin ingin tertawa di buatnya, ya awal dari pertemuan nya dengan Zafran, terus terang Mirah selalu di buatnya tersenyum dengan kata kata banyolan Zafran.
π" Mas Zafran santai aja, gimana ya-"
Zafran sudah tahu jawabannya pasti Mirah menolak, namun itu hanya dugaan yang tidak pernah ia bayangkan.
π" Gimana, kau mau?"
π" Baik Mas aku mau!"
Betapa senangnya hati Zafran, raut wajahnya langsung berbinar seperti memenangkan sebuah lotre.
π " Baik aku jemput besok sore!"
βοΈβοΈβοΈ
" Terimakasih ya!"
" Untuk apa Mas?" Balasnya setelah menyuruput kopi creamy lattenya.
Mirah tersenyum menjawab dengan sedikit mengangguk.
" Aku senang kok Mas, Mas ini orang yang menyenangkan ternyata."
" Oya, kenapa begitu?"
" Ya sepanjang kita berbincang, Mas orangnya humoris..ya, aku selalu tertawa."
Zafran menatap lekat kedua bola mata Mirah, ada kesungguhan dengan ucapan Mirah benarkah ia semenyenangkan itu sangat menghiburnya kalau memang demikian, ia akan selalu siap membuat Mirah selalu tersenyum.
" Kalau memang begitu, aku akan selalu membuat mu tersenyum!" Ucapnya penuh arti.
Mirah yang tertawa lepas seketika terdiam wajahnya berubah kaku saat matanya bersirobrok dengan sepasang mata Erland menatap kearahnya sangat dingin.
" Tuan Erland ada di disini!" Ucapnya Pelan.
Mirah menjadi entah kenapa rasanya tidak nyaman dengan tatapan itu. Mirah langsung memutuskan tatapannya dengan Erland yang tak jauh dari meja Erland, mantan majikannya itu baru datang di restoran yang sama bersama Sarah tunangannya.
" Mirah.."
" Iya Mas?"
" Apa kau ingin makan sesuatu menu yang lain?" Tawar Zafran.
" Euh oh tidak sudah cukup!"
" Baiklah!"
Mirah merasa Erland masih terus menatapnya dan benar saja Mirah mengumpat melirik dengan ujung matanya, Sorot mata Erland seperti laser ke arah ke dua bola matanya. Mirah menunduk dan menjadi gelisah duduknya. Zafran melihat ketidak nyamanan Mirah yang tiba tiba.
__ADS_1
" Mirah kau kenapa?"
" Eum tidak apa apa Mas, sebaiknya kita pulang ya!"
Zafran mengangguk dirinya juga tidak bisa menahan Mirah untuk lama berkencan Mirah pasti teringat putrinya yang tidak bisa di tinggal terlalu lama di luar sampai malam.
" Pak Zafran!" Panggil Erland.
Erland menghampiri meja keberadaan Zafran dan Mirah ketika mereka beranjak ingin meninggalkan restoran, Zafran terkejut dengan suara Erland.
" Hai bro." Zafran menoleh
" Wah..wah kalian apa sedang berkencan?" Kepo Erland.
Raut wajah Zafran tersipu sipu, putra Damian Wijaya menggodanya.
" Ya begitu lah bro, ah kau pun sama, mana tunangan mu?"
" Dia di sana." Tunjuk Erland ke arah Sarah yang sibuk memesan makan minum.
Erland beralih menatap pada Mirah yang tertunduk.
" Apa kabar Mirah?"
Mirah mendongak membalas ucapan Erland yang sedang tersenyum padanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mirah menerima jabatan tangan Erland yang sudah setengah terangkat.
" Alhamdulillah kabar saya baik, Tuan."
Saat kedua nya saling bersalaman, Mirah merasakan genggaman Erland begitu kencang dan dengan sengaja genggaman itu lama di lepas Erland.
" Tuan sudah!"
Erland melepas genggamannya.
" Kenapa ingin pulang, bagaimana kalau kita bergabung, ya double date!"
Erland sengaja menahan Zafran dan Mirah, Erland seperti ingin menyalurkan rasa rindu pada Mirah berdekatan dengan Mirah menatap puas wajah Mirah walau ada Sarah di samping nya.
" Aku terserah pada wanita cantik ini."
" Euh, maaf Mas Zafran, tapi..-"
Mendengar panggilan Mas untuk Zafran, Erland seperti tidak suka kenapa Mirah tidak juga memanggil dirinya pun sama, Mirah selalu formal bila berhadapan dengan nya.
" Ayolah bro! kapan lagi?"
" Bagaimana Mirah?"
Mirah pun akhirnya setuju.
" Baiklah!"
Zafran dan Mirah kembali duduk sementara Erland memanggil Sarah untuk bergabung di meja Zafran saja, alasan Erland pada Sarah supaya lebih seru kencan ganda mereka.
Setelah mereka sudah satu meja, Erland tak henti henti menatap Mirah, wajah mantan Maid nya semakin cantik dan terlihat semakin dewasa. Apalagi make up tipis Mirah yang membuat Erland mengagumi Mirah, beda Dangan Sarah yang sangat glamour.
Perbincangan mereka di meja itu berjalan ada tawa dan pembicaraan serius Erland dengan Zafran hal bisnis yang membuat Mirah hanya diam, kadang Sarah menimpali nya. Mirah memang tidak mengerti hal bisnis pekerjaan Erland dan Zafran, Mirah menjadi kecil diantaranya.
" Kita berbicara bisnis memang sangat menyenangkan!" Ujar Sarah
" Makanya kau memang pantas menjadi calon istri Erland, sepaham dan cocok!"
Sarah tersenyum dan mengangguk setuju dengan pujian Zafran, padahal dalam benak Erland Sarah bukan kah kriterianya, ia lebih menyukai sosok yang bisa mendampingi nya kelak adalah wanita seperti Mamih nya, Ibu rumah tangga yang fokus hanya untuk keluarga. Sarah memang pintar Erland sendiri mengakui hal apapun masalah pekerjaan di perusahaan Sarah sangat lihai.
" Mirah kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mengerti dengan pembicaraan kami sedari tadi? ahh jelas saja kau tidak mengerti!" Ucap Sarah mengejek.
__ADS_1
" Eum ya saya..memang tidak ada bidang di situ, tapi kalau urusan bisnis saya bisa menjalani bisnis pakaian yang sudah beberapa bulan ini saya jalankan, bisnis kecil kecilan mencari tambahan, Mbak!"
Erland menatap kembali Mirah, ia menelisik arah pembicaraan Mirah, bisa saja ia akan membantu dan memberikan modal usaha kecil Mirah nanti, Erland menarik sudut sebelah bibirnya, ini akan menjadi agar ia bisa bertatapan muka dengan Mirah lagi.