
" Asalamualaikum..Intan!" Panggilnya begitu tiba di rumah masih pagi.
" Mama..!"
Intan begitu mendengar suara Ibunya sudah berada di depan pintu wajahnya anak kecil itu kangsung ceria dan menghampiri, kedua tangan Mirah direntangkan ingin menggendong Intan.
" Waalaikumsalam..! Lho Mir, kau sudah pulang?" Jawab Warti.
" Iya Bu, kata Tuan Erland kalau Sabtu dan Minggu libur dia lupa memberitahukan pada Mirah sebelumnya."
Warti Ibu Mirah hanya ber oh ria, dan sama sama ikut senang Mirah bekerja ada hari liburnya.
" Baik banget majikan mu itu, syukurlah kalau begitu ada istirahatnya."
" Iya Bu, lima hari saja bekerja ."
" Lalu apa kamu masih berminat untuk bekerja di sekolah?"
" Iya Bu, kan bekerja di apartemen hanya sementara saja, tadi juga Tuan Erland mau mengajak Mirah kesekolahan, tapi Mirah tolak Bu, alasan Mirah mau ajak jalan intan..eh malah Tuan Erland menawarkan Mirah biar diantar saja sama beliau."
" Lalu kamu tidak mau?"
" Iyalah Bu, lagian buat apa coba mau antar Mirah dan Intan ke mal?"
" Majikan kamu sudah menikah?"
" Maaf Bu, Mirah masih menutupi sama Ibu, sebenarnya Tuan Erland statusnya duda jadi di apartemen itu dia hanya tinggal sendiri."
__ADS_1
Ibu Mirah langsung menangkap bagaimana situasi nya diapartemen bagaimanapun pasti hanya berdua saja Mirah dengan majikanya.
" Mirah takut ibu melarang Mirah bekerja dengan Tuan Erland, Bu!" lanjut Mirah
" Nak Ibu percaya kamu, bekerjalah dengan sepenuh hati kamu cintai lah apapun pekerjaan itu selagi halal, tidak usah mendengar omongan orang selama kamu berada di jalan yang benar."
Mirah pun tersenyum mendengarnya, Ibu Mirah sangat pengertian.
" Terimakasih Bu, Mirah janji Mirah akan menjaga nama baik Mirah, ini semua demi Intan dan juga Ibu, Ibu sabar saja setelah selesai Mirah akan pindah bekerja diperpustakaan sekolah."
" Tapi, Ibu merasa..apa tidak berlebihan majikan kamu itu, kok mau mengantarkan kamu jalan?"
" Entahlah Bu.. Mirah hanya biasa biasa saja pada Tuan Erland." Jawab Mirah polos.
" Ya sudah, hanya ibu mengingatkan saja cepat lah selesaikan urusan kamu dengan Hendra."
" Memang nya kamu sudah gajian?"
" Belum sih! Cuma tadi Tuan Erland memberikan Mirah upah sebelum pulang, lumayan Bu!"
Dikediaman keluarga Wijaya.
Friska berada di halaman belakang sedang duduk santai bersama Damian membaca surat kabar sambil menikmati teh herbal, Friska menutup pembicaraannya setelah bercakap cakap lewat ponselnya, rupanya Friska merencanakan pertemuan anak gadis teman Friska yang sama sama pengusaha kaya untuk di jodohkan dengan putranya.
" Mamih telpon siapa sih?" Tanya Damian seraya tangannya melipat koran.
" Itu Pih teman Mamih klien Papih juga, Bu Ardie Handoyo
__ADS_1
" Ada apa Mamih telpon dia?"
" Papih jangan marah ya, semoga Papih sepaham dengan Mamih."
" Apa Mih?"
" Hari ini kan Erland pulang, besok Mamih ingin mempertemukan Erland dengan Sarah Handoyo.."
" Mamih bermaksud ingin menjodohkan Erland dangan Sarah, memang Erland mau?"
" Kan kita coba dulu Pih, kali aja nyangkut..!"
" Yahh..Papih sih terserah pada Erland, dan kita jangan memaksa dia."
" Pih..Mamih ini cemas, Erland kan suka sama Mirah yang masih bersuami, Mamih tidak mau Erland di juluki pebinor!"
" Apa itu?"
" Perebut bini orang!"
" Astagfirullah! tapi kalau Sarah tidak mau bagaimana, Mih?"
" Mamih sudah kirim foto Erland ke Sarah, dan Sarah mau Pih, Sarah kan sudah selesai kuliahnya di Australia, ya bukan kaleng kaleng deh untuk di jodohkan Erland, masih gadis pula. Kita juga sudah kenal kan sama Sarah dari masih kecil."
" Ok..kita tunggu Erland pulang, lalu kita bicarakan ini sama Erland."
" Semoga saja berhasil, kan gak dosa, Pih!"
__ADS_1
Damian pun mengangguk setuju dengan istrinya tentang rencana perjodohan.