
Mendengar Tuannya akan menambahkan gaji, Mirah jadi berfikir gaji yang diterima nanti cukup untuk sewa tempat tinggal, ia akan merencanakannya.
" Bagaimana..?" Tanya Erland penasaran
" Saya bersedia Tuan."
" Baik saya harus kembali ke kantor.." Ucap Erland sambil beranjak dari sofa.
" Iya Tuan.."
" Sebelum kamu pulang, pastikan dalam apartemen sudah dalam keadaan baik."
" Tentu Tuan!"
" Saya duluan ya!"
" Iya Tuan!"
Dalam hati Erland inginnya keluar dari apartemen bersama Mirah tapi ini menjaga imagenya, Erland diam diam akan menunggu Mirah keluar sampai di jemput oleh supir Mamihnya. Sampai didalam mobil 10 menit Erland menunggu nampaklah Mirah baru keluar dari lift langkahnya terlihat begitu terburu buru. Dalam mobil itu mata Erland terus mengamati Sumirah sampai masuk mobil.
__ADS_1
Setelah mobil melaju, barulah Erland melajukan mobilnya menuju kantor. Selama dalam perjalanan menuju kantor sambil menyetir Erland membayangkan wajah cantik Sumirah.
" Ibu itu cantik benar benar cantik, huuff.."
Mirah sesampainya di mansion Wijaya langsung mencari Intan, ia sangat rindu dengan anaknya.
" Asalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.." Balas Darmi yang sedang berada di dapur.
" Bu Darmi dimana Intan?"
" Anakmu sedang tidur.."
" Tidak.. nakalnya sedikit wajarlah namanya juga anak anak."
" Syukurlah..trimakasih ya Bu Darmi sudah menjaga Intan.."
" Iya Sama sama, lalu bagaimana dengan kerjamu tadi?"
__ADS_1
Mirah menjawab sambil melangkah mengambil gelas dan mengisi air putih untuk minum.
" Baik baik saja Bu, Tuan Erland juga orang nya sangat baik, tapi Tuan Erland meminta saya untuk bekerja di apartemennya satu bulan."
" Satu bulan apa kamu bersedia?"
" Demi Intan Bu, saya bersedia, tapi saya juga harus bicara dulu pada Nyonya. Ngomong ngomong Nyonya Friska kemana Bu?"
" Nyonya sedang ke sekolahan tapi sebentar lagi pulang."
Di dalam kamar itu Mirah sedang menelpon Ibunya, Mirah sudah menceritakan semua masalah perkawinannya dengan Hendra kepada Ibunya apa yang telah terjadi antara dirinya dengan suaminya Hendra, Mirah menceritakan dengan isak tangis sang Ibu pun yang mendengarkan curahan hati putrinya sungguh sedih tidak menyangka kalau kehidupan rumah tangga putrinya tidak bahagia. Sebagai ibu ia hanya bisa memberi nasehat yang terbaik tapi keputusan tetap Mirah yang menentukan jalan hidupnya yang dipilihnya.
Ibu Mirah bersedia untuk membantu Mirah, datang bersama dengan sepupu Mirah ke kota B, selain itu Ibu Mirah juga sudah rindu kepada cucunya.
Dua hari saja Mirah sudah mendapatkan tempat tinggal yang cukup untuk berempat, Mirah mendapatkan tempat tinggal kontrakan dengan yang lumayan murah tapi nyaman. Maklum saja Mirah tidak belum sanggup membayar sewa tempat tinggal karena daerah kita B sangat mahal, itu pun dibantu oleh sahabatnya Lela.
Dan hari ini Mirah menunggu kedatangan Ibu dan sepupunya, Mirahpun sudah mengatakan pada Nyonya Friska bahwa ia sudah mendapatkan tempat tinggal dan Ibunya yang akan menjaga Intan selama Mirah bekerja. Ibu Friska memberikan bantuan pada Mirah untuk membayar sewa rumah tapi Mirah menolaknya karena bagi Mirah belum pantas saja baru beberapa hari kerja sudah mendapatkan bantuan dari Nyonya Wijaya. Biarlah itu masuk hitungan gajinya nanti setelah ia berkerja penuh.
Sebelum berangkat kerja Mirah sudah siap menunggu Ibunya datang pagi ini, dia sudah menghubungi Erland meminta ijin untuk datang telat setelah Ibunya datang ia akan berangkat bekerja.
__ADS_1
Erland sendiri dalam apartemen menunggu Mirah sampai barulah ia berangkat kekantor. Erland sambil menonton tv sudah berpakaian rapih hanya belum saja sarapan dan minum kopi bisa saja ia membuat sarapan sendiri karena sudah terbiasa cuma saja sarapan dan kopi yang di buat Mirah lain rasanya sangat nikmat.
Setelah Ibu dan sepupu Mirah datang Mirah baru bisa meninggalkan Intan ia hanya naik angkutan umum menuju apartemen. Mirah sudah sampai langkahnya begitu terburu buru waktu masih menunjukan 06.30 sampai di depan pintu apartemen Mirah sedikit merapihkan kembali rambut dan seragamnya.