
"Apakah ini tidak akan membuang-buang budget produksi acara kita?" Juliana mengutarakan rasa keberatannya. Sungguh, ia tidak ingin kalau acara mereka berantakan hanya karena Erina menginginkan tempat baru untuk mengubah suasananya.
"Benar, apakah ini tidak akan membuang-buang budget produksi acara kita?" Ran yang sejak tadi diam ikut menambahkan.
"Kalian tenang saja. Aku yakin semuanya akan aman. Lagipula kalau kita mengambil langkah besar dengan membuat keputusan berisiko, nantinya budget produksi acara kita akan bertambah setelah episode kali ini tayang. Apalagi ratingnya bisa dipastikan akan meroket setelah kita menggunakan restoran itu sebagai tempat syuting kita." Erina tampak percaya diri dengan keputusan.
"Tapi…"
"Baiklah, lakukan reservasi sekarang juga Lili!" tukas Erina tanpa menghiraukan Juliana yang hendak kembali mengajukan protes.
"Baik."
...*...
"Jadi dimana ruangannya?" tanya Liliana pada manajer restoran yang sempat dihubunginya lewat telpon ketika mereka melakukan reservasi untuk acaranya hari ini.
Woody, lelaki yang menjabat sebagai manajer restoran itu tampak berseri-seri setelah mendengar bahwa restorannya akan menerima reservasi dari salah satu acara reality show yang paling terkenal di seluruh penjuru Future City.
__ADS_1
"Ah, ya… silahkan ikut saya." Pria itu beranjak dari tempatnya, membawa mereka menuju ruang VIP di lantai tiga yang telah mereka siapkan untuk Erina dan seluruh crew acara mereka.
"Kami sudah menyiapkan ruangan seperti yang anda minta. Tempatnya luas dan hanya bisa di akses secara terbatas. Kami juga akan siapkan keamanan untuk memastikan tidak ada yang masuk ke dalam ruangan itu hingga kalian selesai syuting," jelas Woody.
"Senang mendengarnya," kata Erina yang sejak tadi berjalan bersama Liliana dan Juliana.
"Prioritas kami adalah memuaskan pelanggan." Woody semakin merekahkan senyum.
Erina sejak tadi tidak bisa berhenti memperhatikan setiap detail ruangan yang mereka lewati.
Restoran ini benar-benar memiliki gaya yang unik dan menarik. Tidak heran restoran ini begitu populer dan banyak dikunjungi, batin Erina yang terus melangkah.
Pintu itu berhadapan langsung dengan pintu lain yang kini dalam keadaan terbuka, menampakkan sebagai orang yang tengah duduk dengan mengenakan pakaian rapi berbalutkan kemeja dan jas.
"Ini adalah ruangannya." Woody menghentikan langkahnya di depan pintu yang dia maksud.
Erina dan yang lain segera masuk dan mengecek bagian dalamnya.
"Woah, ruangannya benar-benar nyaman," gumam Liliana.
__ADS_1
"Kau benar," lirih Juliana di sampingnya.
"Kau mengganti desain ruangannya atau memang sejak awal ruangannya seperti ini?" Erina menoleh pada si manajer.
"Sejak awal konsep ruangannya memang seperti ini. Tidak terlihat seperti ruangan restoran 'kan?" Woody menjawab.
"Ya. Dan aku senang! Ini baru namanya suasana baru!" Erina tersenyum senang. Benar-benar ini yang ia harapkan, suasana baru yang tampak begitu nyaman dengan desain yang tidak membosankan.
"Saya ikut senang kalau anda puas dengan desain ruangan kami."
"Kalau begitu, kami akan menggunakan ruangannya sekarang juga. Bisakah kau siapkan keamanan seperti yang kau bilang?" Liliana menoleh pada Woody.
"Oh, tentu. Akan saya siapkan secepatnya."
"Tolong siapkan beberapa pelayan juga agar ketika kami ingin memesan akan lebih mudah." Erina menambahkan.
"Baik. Kalau begitu saya permisi." Woody beranjak meninggalkan mereka di sana.
"Okay, ayo bekerja!"
__ADS_1
...***...