
"Ah menyebalkan, aku paling tidak suka kalau kita harus tiba-tiba pindah lokasi syuting."
"Aku juga. Ini merepotkan."
"Sepertinya ada yang membuat mood Bu produser itu hancur. Beliau biasanya tidak akan mengubah lokasi kalau tidak ada yang membuat moodnya berantakan."
"Tapi siapa yang sudah membuat moodnya berantakan?"
"Mungkin saja beliau bertengkar lagi dengan kekasihnya."
"Tidak mungkin. Aku lihat kemarin hubungan mereka baik-baik saja. Aku melihatnya pergi bersama kemarin."
"Benarkah? Lalu apa yang terjadi, ya?"
Sekelompok orang. Anggota crew yang sedang bekerja di sana mendadak berbisik, menggosipkan pimpinan proyek acara reality show mereka. Erina.
Liliana yang mendengar perbincangan mereka samar-samar lantas menghampiri mereka.
"Kalian berkumpul di sini, apakah kalian sudah selesai mengerjakan tugas kalian?" tanyanya dengan wajah tak bersahabat.
"Eh?" Orang-orang spontan menoleh ke arah Liliana yang mendadak muncul dengan wajah tak bersahabat.
__ADS_1
"K… kami baru saja selesai," lirih salah satu dari mereka.
"Kalau begitu, untuk apa kalian di sini? Cepat siapkan mobil. Dalam beberapa menit lagi kita akan berangkat."
"Berangkat? Anda sudah menemukan lokasi yang tepat untuk syuting hari ini?"
"Sudah. Maka dari itu cepat siapkan mobil."
"Baik."
Semua orang beranjak dari tempatnya. Membubarkan diri masing-masing dan melakukan apa yang sudah diperintahkan Liliana.
...*...
Klap!
Liliana menghampiri orang-orang yang duduk di sana. Semuanya sudah menunggu kedatangan dirinya sejak tadi.
"Jadi, bagaimana?" tanya Erina yang benar-benar sudah tidak sabar menunggu berita yang dibawanya.
__ADS_1
"Aku sudah berhasil menemukan lokasi yang cocok untuk syuting kita hari ini." Liliana menyalakan tab yang sejak tadi digenggamnya.
Erina meraih tab itu dan menatap gambar sebuah restoran yang tampak begitu cantik dari bagian depan.
"Ini adalah White Rest. Restoran yang sedang banyak di perbincangkan oleh orang-orang. Tempatnya baru saja buka dan sedang populer di kalangan anak muda dan orang-orang kelas atas," jelas Liliana.
"Tempatnya cukup indah," gumam Erina yang kemudian menggeser fotonya. Ia melihat ada beberapa foto dan artikel berisi restoran yang mereka bahas.
"Ini benar-benar tempat yang cocok untuk saat ini. Kalau kita syuting di sini, maka kita bisa mendongkrak popularitas acara kita dan menaikkan ratingnya hingga ke puncak!" tutur Liliana.
Erina dan yang lain menoleh ke arahnya. "Kau benar!" Erina mendadak berbinar.
"Dengan kita menggunakan tempat yang sedang populer, maka rating acara kita akan terus memuncak! Kalau begitu, ayo kita lakukan reservasi di restoran ini untuk syuting hari ini!" ucap Erina berapi-api.
"Tunggu-tunggu! Jangan cepat mengambil keputusan." Juliana yang sejak tadi tidak memiliki kesempatan bicara akhirnya mulai mencoba untuk di dengar.
"Apa lagi yang harus kita tunggu? Kita harus tiba di sana secepatnya agar memiliki waktu untuk persiapan." Erina menoleh pada wanita yang baru berbicara itu.
"Begini, kalau ini adalah tempat yang sedang populer dan banyak dikunjungi oleh orang-orang kelas atas, bukankah akan sangat mahal untuk melakukan reservasi di sana? Selain itu pastinya tempatnya sudah banyak menerima reservasi dari tempat lain juga 'kan? Apakah ini tidak akan membuang-buang budget produksi kita?"
...***...
__ADS_1