My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 31 - Tidak boleh melewatkannya?


__ADS_3

"Apa yang kulakukan? Aku malah mencaritahu mengenai Erina?"


Raefal menggeleng cepat. Ia meraih mouse komputernya lagi, hendak mengembalikan tab itu pada tampilan semula. Tapi ia berhenti begitu melihat salah satu judul artikel yang tampil dihadapannya.


"Erina adalah putri tunggal dari tuan Danesha? Pemilik DTS?"


Raefal menekan tulisan itu, membaca isi artikelnya yang memuat informasi tentang Erina yang ternyata adalah anak dari pendiri sekaligus CEO dari DTS, salah satu stasiun televisi terkemuka.


Tangannya bergerak terus menggulir hingga ke bagian bawah. Tanpa sadar, Raefal membaca seluruh artikel itu dari awal sampai akhir.


Raefal terdiam setelah membaca seluruh isi artikel yang ditemukannya.


"Jadi, Erina adalah putri dari CEO DTS?"


"Wanita itu?"


Raefal tak percaya dengan apa yang dibacanya. "Aku tidak menyangka ternyata wanita aneh seperti dia adalah anak dari seorang CEO? Terlebih DTS?"


Raefal terbengong untuk sesaat sebelum kemudian kembali menatap layar komputer dihadapannya.


Di akhir artikel, Raefal melihat sebuah iklan digital.


Raefal terdiam menatap iklan yang mendadak muncul menampakkan seorang wanita cantik di iklan tersebut.


Wanita itu mengenakan sebuah pakaian dari brand yang ia promosikan.


Ia bergegas menutup layar browsernya begitu sadar dirinya sudah benar-benar membuang waktu.


__ADS_1


...*...


"Bapak memanggil saya?" tanya pria itu pada Dariel Danesha, lelaki yang tak lain adalah CEO dari DTS.


"Bisakah kau membantuku? Pergi dan temui Erina lalu bawa dia ke LBS, minta mereka mendandaninya secantik mungkin. Pertemuan kali ini harus lebih sempurna."


"Baik pak, akan saya kerjakan. Kalau begitu saya permisi." Tan berbalik meninggalkan ruang kerja Dariel. Membiarkan pria itu sendiri terduduk di kursi kebesarannya.


"Huft~"


"Kalau tidak seperti ini, maka Erina akan berpenampilan seenaknya."


"Terkadang aku heran kenapa dia bisa begitu tomboy, padahal dia itu wanita…" gumam Dariel pelan.


Dariel memijat keningnya.


...*...


"Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini."


"Ini adalah kesempatan langka yang tidak akan aku dapatkan dua kali."


"Bertemu dengan produser Cody." Erina mengepalkan tangannya erat. Semangat membara membakar dirinya.


Baru pertama kali ia merasakan semangat menggebu-gebu seperti ini ketika ayahnya tuan Danesha mengajaknya pergi menghadiri pertemuan dengan kolega penting lain.


Yang membuat Erina sangat bersemangat adalah karena ia akan bertemu dengan Cody. Seorang produser senior yang sudah digemarinya sejak dulu.


"Aku harus meminta tanda tangan dan fotonya!" tutur Erina.

__ADS_1


...*...


"Lili!" panggil Erina begitu tiba di lobi dan secara tidak sengaja melihat Liliana yang juga baru saja tiba di kantor.


Wanita yang dipanggilnya itu lantas menoleh ke arah datangnya suara.


Erina menghampiri Liliana yang spontan berhenti setelah dipanggilnya.


"Kau baru saja tiba?"


"Ya, seperti yang kau lihat."


"Seperti yang sudah aku minta, hari ini kita tetap syuting di White Rest, ya."


"Okay. Aku juga sudah memberitahu yang lain kalau kita akan tetap melakukan syuting di White Rest."


"Bagus, kalau begitu kita hanya pergi berangkat 'kan?"


"Yup. Omong-omong, kau sudah bertemu dengan pak Danesha?"


"Ya, aku sudah bertemu dengan beliau."


"Syukurlah. Jadi, apa yang hendak beliau sampaikan padamu?"


"Itu…"


"Produser Erina!" panggil Tan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2