
Brukk!
Erina mendaratkan tubuhnya di atas ranjang empuk dalam kamarnya. Rasa lelah menggelayuti tubuhnya, apalagi banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan seharian ini.
Pertama syuting di White Rest, lalu melanjutkan syuting di studio untuk acara lain yang ia tangani dan masih banyak lagi.
Seluruh energinya serasa terkuras habis seharian ini. Tapi setidaknya, hari ini dirinya merasa lebih tenang dari kemarin.
Vansh tidak datang ke kantor seperti kemarin. Mungkin karena dia tahu kalau Erina akan terus menghindarinya, atau mungkin dia memiliki banyak pekerjaan di kantor. Entahlah, Erina tidak tahu pasti.
Selain tentang Vansh, yang membuat Erina semakin merasa lebih baik adalah karena hari ini dia berhasil menghubungi Raefal dan memintanya untuk bertemu.
Besok, aku yakin dia akan datang dan menemuiku, pikir Erina sambil menatap langit-langit kamarnya dengan wajah merona.
Energinya seakan terisi kembali setelah ia mengingat bahwa besok adalah hari spesial. Dia akan bertemu dengan lelaki yang sudah berhasil menarik perhatiannya.
...*...
Gedung VCorp, keesokan harinya.
Raefal sibuk dengan layar komputer dan beberapa berkas yang harus diceknya. Memastikan tidak ada sedikitpun data yang kurang dari isi berkasnya.
__ADS_1
Hening. Tidak ada sedikit suara pun yang terdengar di dalam sana. Kecuali suara kertas dalam berkas yang sesekali dibukanya.
Ting!
Ponselnya berbunyi secara tiba-tiba. Menandakan bahwa sebuah notifikasi baru saja masuk pada ponselnya.
Raefal yang terlalu fokus, tidak menyadari hal itu. Ia menghiraukan sekelilingnya dan terus fokus pada berkas ditangannya.
Ting!
Lagi. Suaranya kembali terdengar, tapi masih belum juga dipedulikannya.
Ting! Ting! Ting!
Beberapa notifikasi lain terdengar setelahnya. Dan kali ini berhasil membuat konsentrasi seorang Raefal buyar.
Raefal menghela napas panjang berusaha mengatur emosinya agar tetap stabil.
Dengan malas, ia mengalihkan perhatiannya dari berkas dalam genggamannya pada benda persegi yang sejak tadi berbunyi.
Begitu layar menyala, Raefal langsung melihat beberapa pesan beruntun dari Erina. Wanita yang kemarin mendadak menelponnya dan meminta untuk bertemu, dengan cara yang memaksa.
"Ugh, dia lagi…" Raefal memijat pelipisnya. Hal lain yang paling ia benci selain gangguan ketika sedang bekerja adalah seorang wanita. Makhluk paling merepotkan yang pernah ada di muka bumi. Ya, setidaknya begitulah yang ia anggap selama ini.
__ADS_1
Semua wanita. Tanpa terkecuali. Bahkan ibunya, nyonya Virendra pun dianggapnya merepotkan. Apalagi ketika wanita yang menjadi ibunya itu mulai memperlakukannya layaknya seorang bocah berusia lima tahun.
Menjengkelkan! pikirnya.
Gadis aneh:
Aku sudah sampai di Black Cafe.
Aku menunggumu!
kau dimana?
Tidak lupa dengan janji temu kita hari ini 'kan?
Aku akan menunggumu hingga kau datang!
Raefal hanya membacanya tanpa niat untuk membalas. Setelah membacanya, ia kembali fokus pada berkas miliknya.
Tring~
Ponselnya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk pada nomor telponnya.
Raefal mendengus kesal. Ia yakin betul kalau orang yang sedang berusaha menghubunginya adalah Erina. Wanita itu benar-benar bertekad untuk bertemu dengannya, dan tampaknya tidak akan berhenti hingga ia benar-benar berhasil bertemu dengannya.
__ADS_1
Raefal meraih ponselnya dan langsung menekan tombol hijau. Ia ingin semua ini cepat selesai agar tidak terus berhubungan dengan Erina yang sejak kemarin mengganggunya.
...***...