
"Dia belum menikah?"
"Belum. Menurut rumor yang kudengar, dia orang yang sangat sulit di dekati. Banyak sekali wanita yang mengantre untuk mendapatkan hatinya. Tapi tidak ada satupun yang bisa merebut hatinya."
Erina menarik senyum. Ini menjadi lebih menarik baginya.
Jadi, dia adalah orang yang dingin? Tidak pernah mengucapkan kata maaf, dan sulit untuk di dekati?
Ini semakin menarik!
Aku jadi ingin tahu, bagaimana dia memperlakukan kekasihnya nanti? Erina membatin. Senyuman sejak tadi tak pudar dari wajahnya.
"Kau kenapa?" Juliana yang sejak tadi menyimak, mulai berkomentar begitu melihat rekan kerjanya itu senyum-senyum sendiri seorang orang yang kurang waras.
"Huh? Tidak apa-apa." Erina tersadar dari lamunannya. Ia beralih fokus, meraih minumannya lalu meneguknya hingga habis.
Erina beranjak bangkit dari tempat duduknya. "Kerja bagus untuk hari ini. Kalian boleh kembali ke kantor duluan. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
"Memangnya kau mau kemana?"
__ADS_1
"Aku memiliki urusan yang harus aku selesaikan. Jadi kembalilah lebih dulu. Bye!" Erina berlalu meninggalkan Juliana dan Liliana yang kini terduduk di salah satu kursi.
Sejak tadi, mereka berbincang di lantai satu. Pekerjaan mereka sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.
Syuting haru itu berjalan lancar, dan mereka berhasil memikat perhatian para penonton.
...*...
Erina terdiam, matanya menatap lekat ke arah bangunan megah yang ada dihadapannya.
Namun untuk sekarang, namanya sudah digantikan oleh Raefal. Yang tak lain merupakan putranya yang menangani perusahaan untuk sementara.
Apakah sebaiknya aku menghubunginya? Erina membatin. Tatapannya beralih pada kartu nama di atas dashboard mobilnya.
Raefal Virendra. Semenjak menit-menit terakhir, Erina semakin dibuat penasaran oleh sosoknya. Apalagi setelah ia mendengar banyak hal dari Liliana dan Juliana mengenai dirinya.
Erina mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Menekan tombol berangka yang tampil pada layar ponselnya.
__ADS_1
Baru saja ia menekan beberapa nomor, perhatiannya tiba-tiba tersita oleh kehadiran sebuah mobil yang melaju dari arah samping tempatnya memarkir mobil.
Erina menoleh pada mobil yang baru saja tiba.
"Oh, ternyata itu orangnya. Dia juga baru kembali ke kantor? Bukankah rapat di White Rest sudah selesai sejak tadi, ya? Tapi kenapa dia baru kembali?" Erina bergumam pelan.
Matanya tertuju pada mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya berada. Raefal melangkah keluar bersama Agustina. Tidak lama, John melajukan mobilnya. Memindahkan benda itu ke lahan parkir lain.
"Sepertinya lebih baik aku temui dia secara langsung." Erina mengulurkan tangannya, hendak membuka pintu mobil.
Tapi lagi-lagi ia menghentikan kegiatannya begitu melihat seorang wanita yang mendadak berteriak sambil berlari menyerukan nama Raefal.
Erina mengurungkan niatnya keluar dari dalam mobil.
Matanya kembali tertuju pada sosok wanita yang baru saja tiba itu.
Erina memperhatikan sosoknya. Seorang wanita cantik yang tampak awet muda. Tubuhnya tinggi semampai, mengenakan pakaian rapi yang membentuk tubuh indahnya. Tidak lupa, ia mengenakan high heels dan berjalan dengan gemulai menghampiri Raefal yang berdiri bersama Agustina di sana.
Siapa wanita itu? Erina kembali duduk manis di kursi kemudi. Ia menyipitkan mata memperhatikan gerak-gerik menggelikan dari wanita itu.
__ADS_1
...***...