
Raefal berjalan menyusuri koridor menuju lantai dua Black Cafe, tempat dimana Erina memintanya untuk bertemu.
Setelah banyak pertimbangan, akhirnya ia memutuskan untuk datang dan memenuhi panggilan si gadis aneh yang memaksanya untuk bertemu.
Dengan langkah kasar, Raefal terus berjalan di belakang si pelayan yang mengantarkannya menuju ruangan VIP tempat Erina berada.
"Ini ruangannya. Silahkan." Pelayan itu menghentikan langkahnya, mempersilahkan Raefal untuk masuk ke dalam ruangan yang dimaksudnya.
Raefal berdiri di depan pintu. Ia memantapkan hatinya lebih dulu, dan mengatur seluruh emosinya agar tetap stabil menghadapi wanita yang hendak ditemuinya.
Si pelayan membukakan pintu untuknya. Selanjutnya, Raefal melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Klap!
Pintu di tutup pelan. Raefal tertegun begitu melihat bagian dalam ruangan yang di pesan oleh Erina.
Apa ini? Raefal tak mengerti ada apa dengan dekorasi ruangan ini yang pasti, tempat ini benar-benar tidak seperti bagian bawah cafe dimana menggunakan dekorasi yang tidak semewah ini.
Ia terus melangkah dengan perlahan, hingga akhirnya tiba di depan sebuah meja yang di tata rapi.
__ADS_1
Meja itu di desain dengan sama anehnya seperti hiasan ruangannya.
Meja makan romantis. Mungkin adalah istilah yang lebih cocok untuk mendeskripsikan meja makan yang dilihatnya.
Raefal tak mengerti. Sosok yang dicarinya raib entah kemana. Erina tidak ada di sana seperti yang di ucapkan oleh si pelayan.
"Apa yang sebenarnya dia inginkan?" Raefal mengeluarkan ponselnya, hendak menelpon Erina.
Ia berbalik untuk keluar dari ruangan. Begitu menoleh, ia langsung di buat terkejut oleh kemunculan Erina yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya dengan posisi yang begitu dekat.
"Hai tampan, nikah yuk!"
Raefal tak berkata-kata. Tubuhnya mendadak membatu seperti patung dengan otaknya yang berusaha memproses setiap kejadian yang tengah dialaminya.
Erina mendongak, beradu tatap dengan Raefal yang kini masih nampak terkejut dengan apa yang dilakukannya secara spontanitas itu.
"Jujur saja, saat pertama kali aku bertemu denganmu, kau sudah menarik perhatianku. Bayanganmu terus hadir dalam benakku. Awalnya aku tidak menyadari akan perasaan ini. Tapi beberapa waktu terakhir, aku mulai sadar…"
__ADS_1
"…Hatiku berdebar setiap kali ingat akan sosokmu. Dan aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta padamu." Erina tersenyum simpul ke arahnya.
"Jadi, maukah kau menikah denganku?" tutur Erina.
Raefal masih dalam kondisi speechless. Ia benar-benar kaget dengan apa yang diucapkan Erina barusan.
Matanya beralih menatap bunga plastik yang batangnya di bentuk melingkar pas untuk satu jari.
"Tidak, tunggu!" Raefal menarik tangannya dari tangan Erina cepat setelah otaknya berhasil mencerna semua yang terjadi.
Raefal menekan tombol merah pada ponselnya begitu sadar telponnya masih berusaha menghubungi nomor Erina.
"Apa maksud semua ini?" Raefal memasang wajah serius. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Menurutmu apa? Tentu saja aku melamarmu." Erina berucap dengan santainya.
"Anda bercanda 'kan?"
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku bercanda? Aku memang benar-benar suka padamu, dan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku."
__ADS_1
"Hentikan semua ini. Saya tidak memiliki banyak waktu. Jadi langsung saja, apa yang anda inginkan?"
...***...