
"Untuk apa anda datang kemari?!"
"Untuk apa? Menurutmu untuk apa lagi? Tentu saja aku kemari agar aku bisa makan siang bersamamu."
"Saya sedang tidak berselera makan, jadi silahkan pergi. Pintu keluarnya di sebelah sana." Raefal menunjuk pintu keluar dengan tangannya.
"Dengar? Pak Raefal benar-benar tidak ingin diganggu oleh anda, jadi silahkan pergi!" Agustina menarik tangannya sekuat mungkin, ia berani mengusir wanita itu karena benar-benar ingin menjaga mood atasannya agar tetap baik. Jika mood nya hancur, maka ketenangan di kantor ini juga akan ikut hancur.
"Diam! Kau ini lancang sekali!" Joy menepis tangannya kasar. "Raefal, lihat! Sekretaris mu ini kurang ajar padaku, marahi dia dan kalau perlu pecat dia agar tidak semena-mena lagi padaku."
"Itu tidak akan terjadi!" tukas Agustina.
"Anda yang justru bersikap lancang karena masuk begitu saja tanpa izin."
"Apa?" Joy terdiam. Ia speechless begitu mendengar kalimat Raefal barusan.
Agustina terkekeh mendengar ucapan Raefal. Pria itu memang ahli dalam memberikan pukulan telak pada wanita yang suka berkelit ini.
__ADS_1
"Sekarang ayo pergi, pak Raefal benar-benar sedang sibuk!" tutur Agustina sambil menarik lengan wanita itu. Namun lagi-lagi pegangan Joy pada Raefal yang terlalu erat membuatnya kesulitan.
"Aku tidak akan pergi sebelum makan siang bersama Raefal! Lebih baik berhenti menyentuhku!" tukas Joy kesal.
"Tapi pak Raefal sudah bilang kalau beliau tidak ingin makan siang bersama anda. Jadi lebih baik anda pulang."
"Jangan menyentuhku!" teriak Joy semakin kesal. Wanita itu menepis tangan Agustina kasar. "Raefal, ayo makan bersama. Aku sungguh lapar!" Joy merengek padanya.
"Sudah berapa kali saya bilang kalau saya tidak ingin makan dengan anda?!" Raefal mempertegas kalimatnya.
"Kau tidak pernah mau makan bersamaku padahal aku sudah jauh-jauh datang kemari."
"Oh ayolah, aku ingin makan bersamamu sekali saja."
"Saya tidak mau. Jadi silahkan pergi, ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Raefal menghentakkan tangannya, dan kali ini berhasil melepaskan diri dari Joy.
"Kau tidak mau makan denganku? Okay. Kalau begitu, aku juga tidak akan pergi dari sini." Joy menghampiri sofa yang ada di sana.
"Anda tidak boleh di sini!" Agustina benar-benar jengkel dibuatnya.
__ADS_1
Raefal menghentikan langkahnya lalu menoleh pada wanita yang selama ini terus mengganggunya.
"Huft~ anda benar-benar keras kepala dan suka sekali bernegosiasi," gumamnya sambil menghela napas.
"Pokoknya aku tidak akan melangkah satu senti pun kalau kau tidak mau makan bersamaku!"
"Kalau begitu biar saya yang pergi." Raefal menghampiri pintu keluar.
"Apa?!" Joy spontan beranjak dari tempatnya dan segera mengejar Raefal. "Aku ikut!" teriaknya sambil kembali menggandeng tangan Raefal.
"Kalau kau pergi, aku juga akan pergi. Aku akan terus mengikuti mu bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun, dan tidak akan berhenti sebelum kau mau menuruti keinginanku."
Raefal benar-benar jengkel dibuatnya. Ia mendelik ke arah wanita yang kini menggandeng tangannya tanpa permisi.
"Tidak bisakah anda tidak datang mengganggu saya sehari saja?"
"Tidak bisa. Karena aku memang tidak bisa hidup tanpamu." Joy menggeleng.
Raefal lagi-lagi menghela napas berat. Joy ini adalah bentuk parasit nyata yang sangat sulit dibersihkan. Mau dengan cara kasar atau halus, tetap saja bandel.
__ADS_1
...***...