My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 66 - Kemajuan


__ADS_3

"Kenapa?" Raefal mengalihkan pembicaraan. Entahlah, mulutnya bicara begitu saja tanpa ia sadari.


"Eh? Maksudmu? Apanya yang kenapa?" Erina tak mengerti sama sekali kemana arah pembicaraan pria itu.


"Penampilan anda…"


Erina tertegun, ia menatap dirinya sendiri secara spontan. Wajahnya langsung merona.


"Oh, penampilanku terlihat aneh, ya? Ini semua karena Liliana memintaku untuk mencoba baju yang dia pilihkan, padahal aku tidak—"


"Anda cantik!" potongnya yang lagi-lagi tanpa dia sadari.


"Apa?" Erina tertegun. Sungguh kalimat yang tidak pernah ia bayangkan akan terlontar dari mulutnya.



Psshh~


Wajah pria itu mendadak berubah merona.


Apa yang baru saja aku katakan?! Raefal merutuki dirinya. Entah ada apa dengan dirinya hari ini, pikiran dan tindakannya selalu saja saling bertolak belakang. Apalagi setelah bertemu dengan Erina seperti ini.


Erina merekahkan senyum mendengar kalimat pujiannya.


"Ehem, maksud saya. Kenapa penampilan anda berbeda dari pertama kali kita bertemu?" Raefal membenahi kalimatnya. Tapi tampaknya percuma, karena Erina sudah lebih dulu kegirangan dengan pujiannya tadi.

__ADS_1


"Terima kasih atas pujiannya. Itu sungguh berarti."


"Huh? Saya hanya bicara tanpa sadar."


"Walaupun kau bicara tanpa sadar, setidaknya cukup untuk membuatku senang. Karena dengan begitu, tandanya ada sedikit kemajuan."


"Kemajuan?"


"Walaupun hanya langkah kecil, tapi benar-benar senang kau mulai memperhatikanku," tutur Erina.


"Maaf, anda sepertinya salah paham dengan—"


"Tidak apa-apa! Cukup pelan-pelan saja. Aku akan pastikan pintu hatimu terbuka secara perlahan untukku…" Erina mendekatkan tubuhnya ke arah Raefal.


"Lihat saja. Aku pasti akan bisa mendapatkan hatimu, dan membuatmu terpesona olehku!" Erina mengeluarkan smirk-nya.


Deg!


Raefal terdiam tanpa kata. Melihat Erina menyeringai seperti itu entah kenapa membuat jantungnya berdebar pula. Apalagi, tatapannya yang intens, membuatnya teringat akan sosok dalam mimpinya.


"Erina!" Liliana menghentikan langkahnya begitu mendapati wanita itu berdiri bersama Raefal. Ia sempat kaget ketika melihat siapa yang berada dekat dengan Erina.


"Maaf, aku harus pergi. Lain kali jika kau dan aku senggang, ayo kita pergi kencan."


Erina berlalu menghampiri Liliana di sana. Sosoknya lantas menghilang tak lama begitu dia pergi.

__ADS_1


Raefal masih diam mematung ditempatnya.


Argh, ada apa denganku sebenarnya? Yang aku rindukan adalah Melody. Tapi kenapa yang selalu muncul dalam benakku justru adalah Erina?


Selain itu, kenapa aku juga berdebar hanya melihatnya saja? Apakah karena setiap kali aku melihatnya, aku teringat akan mimpiku?


Raefal memijat pelipisnya pelan. Ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa seperti ini.


...*...


Waktu berlalu. Sejak pertemuan dengan Raefal itu, Erina mulai disibukkan dengan syuting film yang sedang dikerjakannya.


Mereka sudah mulai melakukan proses persiapan, dan hanya tinggal pengambilan gambar yang akan dimulai beberapa bulan lagi.


Sejak mulai proses persiapan, Erina benar-benar sibuk. Ia bahkan sampai tidak memiliki waktu memikirkan hal lain selain pekerjaannya. Bahkan saking fokusnya, ia sampai lupa dengan tujuannya yang berusaha menarik perhatian Raefal.


Erina benar-benar memiliki waktu yang terbatas. Bahkan sampai tidak memiliki waktu berkumpul bersama dengan sahabatnya yang lain.


Brukk!


Erina menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada. Rasa lelah menggelayuti tubuhnya.


Kalau diingat-ingat lagi, ini adalah pekerjaan besar sejauh karir ku di dunia kerja, batinnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2