
"Rasanya lelah, tapi menyenangkan. Saking menyenangkannya, aku sampai sangat bersemangat dan tidak sabar untuk melakukan proses syuting bulan depan. Apalagi hanya tinggal beberapa waktu saja."
Erina melirik kalender yang tertempel di dinding tak jauh dari tempatnya berada.
"Aku ingin segera menuju ke bulan depan," gumamnya sambil tersenyum.
Tring!
Atensinya beralih ketika ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Erina merogoh benda itu dan menatapnya.
Notifikasi masuk. Tak lain adalah pesan dari seseorang yang satu kontak dengannya.
Erina membuka pesan yang baru saja masuk ikut guna membaca isinya.
Marciel: Erina, apakah kau memiliki waktu? Aku ingin bertemu denganmu.
Erina membenahi posisi duduknya ketika ia membaca isi pesan yang ternyata dikirim oleh Marciel. Ia tersenyum simpul.
Apakah dia sudah pulang?
Erina lantas membalas pesan dari lelaki yang menjadi teman baiknya itu.
...*...
__ADS_1
Raefal terdiam dalam lamunannya. Sudah berhari-hari berlalu, tapi dirinya sama sekali tidak bisa melupakan kejadian ketika ia bertemu secara tak sengaja dengan Erina di Scity Town.
Wanita itu benar-benar berhasil meninggalkan kesan aneh yang membuat Raefal sama sekali tak bisa melupakan kalimat yang terlontar dari bibirnya ketika dia berkata akan membuatnya terpesona.
Bayang-bayang wanita itu bahkan jadi lebih sering muncul dalam mimpi maupun lamunannya.
"Huft~ lagi-lagi aku tidak bisa fokus. Dia selalu saja muncul dalam benakku. Ada apa sebenarnya denganku?"
Raefal menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang tengah ia duduki.
"Tidak mungkin aku menyukainya 'kan?"
Raefal mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruang kerjanya. Entah kenapa, begitu mengatakan kalimat itu, ia langsung tersadar bahwa sejak tadi jantungnya berdebar.
Ia beranjak perlahan dari tempatnya. Berjalan menghampiri jendela kaca besar yang berada di ruangannya.
Pria itu berdiri menghadap pemandangan besar yang menjadi latar ruangannya.
Raefal termangu. Matanya secara tidak sengaja menangkap sosok Melody dalam Billboard yang terletak jauh di depan sana.
Aku terus memikirkannya apakah karena dia mirip dengan Melody? Tapi, tidak mungkin. Erina hanya mirip seperti Melody ketika dia berpakaian feminim, itu pun jika dilihat dari belakang.
Jelas-jelas, mereka adalah orang yang berbeda.
"Seharusnya aku berhenti memikirkan wanita itu. Aku harus sadar akan posisiku," gumam Raefal. Ia menunduk, enggan untuk menatap lebih lama sosok jelita dalam Billboard yang tengah berpose memamerkan pakaian yang tengah menjadi trending fashion akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengannya!" Samar-samar Raefal mendengar suara seorang wanita berteriak dari arah luar ruangannya.
Ceklek!
Tiba-tiba saja pintu terbuka, membuat perhatiannya langsung tertuju ke arah datangnya suara.
"Lepaskan aku!" Joy berusaha membebaskan diri dari Agustina yang mati-matian menghentikannya untuk masuk.
"Anda tidak boleh—"
"Raefal!" Wanita itu langsung berjalan menghampiri Raefal tanpa memperdulikan ucapan Agustina terlebih dulu.
Begitu tiba, ia segera meraih tangannya. Merangkul pria itu dengan begitu agresif.
Agustina yang melihat kejadian itu segera berlari menghampirinya.
"Maaf pak, saya sudah berusaha untuk memintanya keluar, tapi beliau memaksa untuk masuk," tutur Agustina.
Raefal beralih pandang pada wanita yang kini menempel padanya bak prangko.
Dari ekspresinya, terlihat jelas kalau Raefal benar-benar tidak nyaman dengannya.
"Untuk apa kau datang kemari!" Raefal berusaha membebaskan diri. Tapi sialnya wanita itu terlalu kuat memegangi lengannya.
...***...
__ADS_1