My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 26 - Prioritas utama


__ADS_3

"Sebenarnya hal penting yang ingin aku katakan sudah kukatakan sejak awal," tutur Erina.


"Maksud anda?" Raefal mendongak begitu mendengar penuturannya.


Di awal? Pikiran Raefal langsung tertuju pada adegan awal kedatangannya ke dalam ruangan itu.


"Ya, itu yang ingin aku katakan." Erina berbicara seolah bisa tahu dengan jelas apa yang ada dalam benaknya.


Dia memaksaku datang kemari hanya ingin melamarku? Benar-benar wanita aneh. Selain itu, cara dia melamarku benar-benar lebih aneh dari permintaannya, pikir Raefal yang kemudian menyuapkan kembali makanannya ke dalam mulut.


Ia kembali melirik pada cincin yang dibuat Erina di atas meja dekat piring miliknya.


"Anda memaksa saya datang hanya untuk itu?" tanya Raefal.



"Sebenarnya tidak juga. Tadinya aku ingin kita bisa mengenal lebih dekat satu sama lain sambil menikmati hidangan yang aku pesan. Tapi melihat situasinya, tampaknya aku sudah membuatmu merasa kurang nyaman sejak awal. Jadi ya, apa boleh buat? Lebih baik kita nikmati saja hidangannya. Dan lain kali saja kita saling mengenal lebih jauh."


"Kenapa anda bicara seperti tadi?"

__ADS_1


"Maksudmu yang mana?"


"Maksud saya, kenapa anda tiba-tiba mengajak saya berhubungan? Bukankah itu aneh? Kita baru saja kenal, dan bahkan pertemuan kita baru dua kali."


Dua kali? Tampaknya saat dia menabrakku di White Rest waktu itu benar-benar tidak dia sadari. Erina menatapnya datar. Sungguh mengecewakan.


"Kita sudah bertemu tiga kali." Erina berusaha memberitahunya.


"Tiga?"


"Dua kali kau menabrakku, dan ini adalah pertemuan ketiga kita. Pertemuan pertama adalah saat kau jatuh di atasku, lalu pertemuan kedua adalah ketika kau sedang berjalan di koridor White Rest dan menabrakku hingga tubuhku terhantam dinding. Ingat?"


Ia tertegun begitu sadar dengan kejadian itu. "Jadi yang waktu itu saya tabrak adalah anda?"


"Kau tidak ingat? Parah! Padahal wajah kita begitu dekat saat itu."


"Saya hanya tidak menyadarinya."


"Ya, tentu saja kau tidak menyadarinya karena kau langsung pergi begitu sadar kau menabrakku. Omong-omong tidak bisakah kau bicara secara non-formal?"

__ADS_1


"Tidak."


"Okay…"


Sepertinya dia memang tidak suka bicara secara non-formal. Atau mungkin karena aku baru kenal dengannya selama beberapa hari, maka dari itu dia tidak ingin bicara secara non-formal denganku? Erina membatin.


"Saya masih tidak mengerti. Mengapa anda bisa suka pada saya hanya dalam hitungan hari…"


"…Selain itu, anda langsung melamar saya tanpa berpikir panjang lebih dulu. Bukankah ini terlalu gegabah?" Raefal mulai mengutarakan apa yang selama beberapa saat yang lalu terus saja terngiang dalam benaknya.


Pertanyaan yang sejak tadi terus meminta untuk diutarakan akhirnya berhasil terlontar dari mulutnya.


"Alasannya hanya satu. Karena kau menarik, dan berbeda dari kebanyakan pria yang pernah aku temui. Itu saja."


"Menarik? Bagaimana anda bisa menganggap saya menarik?"


"Yang membuatmu menarik karena sejak awal kau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata maaf setelah menabrakku, bahkan sampai saat ini. Lalu beberapa kali aku melihatmu, sepertinya kau adalah tipikal pria yang sangat gila kerja dan sangat mencintai apa yang kau kerjakan sampai kau bisa sekaku ini dalam berkomunikasi."


"Pekerjaan memang menjadi prioritas utama dalam hidup saya. Bahkan di atas segalanya," tutur Raefal tegas.

__ADS_1


...***...


__ADS_2