My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 27 - Lebih mendominasi


__ADS_3

"Aku tidak mengherankan hal itu," sahut Erina santai. Ia melipat kedua tangannya di atas meja dan mulai menikmati pembicaraan dengan Raefal ini.


Tampaknya Raefal sudah mulai merasa sedikit lebih tenang dan nyaman bicara dengannya. Atau mungkin, Raefal hanya sedang berusaha menutupi kekesalannya dengan menanyakan beberapa hal padanya?


"Kalau anda sudah tahu sejak awal, lalu apa yang mendasari anda untuk tetap menyatakan perasaan anda pada saya?…"


"…Bukankah seharusnya anda sudah tahu kalau anda memilih saya sebagai pendamping hidup anda, maka tidak akan pernah ada waktu untuk anda. Saya akan tetap menyibukkan diri dengan pekerjaan." Raefal berusaha membuat dinding diantara dirinya dan Erina.


Memperjelas situasi bahwa dirinya akan tetap memilih pekerjaan dan tidak akan pernah memiliki waktu untuk berhubungan dengan wanita. Bahkan kalau bisa, ia tidak akan pernah menikah.


Itupun kalau tuan Virendra tidak terus menanyainya mengenai pasangan hidup.


"Justru itu yang membuatku tertarik padamu." Erina tersenyum simpul. Sedangkan Raefal hanya bisa mengerutkan kening, tak mengerti dengan reaksi yang dia berikan.

__ADS_1



Reaksi Erina terhadap ucapannya berbanding terbalik dengan ekspektasinya.


"Dengar. Aku tahu kau adalah seorang workaholic, selalu menomor satukan pekerjaan di atas semuanya. Dan itu yang membuatku tertarik padamu. Sebenarnya aku juga adalah seorang workaholic…"


"…Aku mencintai pekerjaanku lebih dari apapun. Tapi terkadang aku juga membutuhkan seorang pendamping. Seseorang yang bisa… ya, setidaknya aku ajak keluar sesekali saat aku membutuhkan udara segar atau semacamnya…"


"…Jika kau menerimaku sebagai pasanganmu, aku tidak akan menuntut banyak hal. Aku tidak minta perhatian, aku tidak butuh kau menelponku tiap malam atau mengirimiku pesan untuk memastikan aku makan dengan benar atau tidak, dan aku tidak akan memaksamu menemuiku ketika kau sedang sibuk," jelas Erina panjang lebar.


Tidak butuh di perhatikan katanya? Yang benar saja. Bukankah wanita sering menuntut banyak perhatian dari pasangannya? Raefal tak mengerti.


"Kau pasti bingung 'kan?" tanya Erina.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti sebenarnya hubungan macam apa yang anda inginkan. Kalau hubungan seperti itu yang anda inginkan, lantas kenapa anda perlu repot-repot memikirkan pasangan? Maksud saya, bukankah lebih baik kalau anda tidak berhubungan dengan siapapun?"


Bagus. Kali ini Raefal berbicara lebih banyak dari sebelumnya. Sebuah peningkatan.


"Aku tahu ini aneh. Tapi aku benar-benar muak berhubungan dengan pria yang terlalu memperhatikanku. Aku ini orang yang mandiri. Bahkan bisa dibilang terlalu mandiri untuk seorang wanita…"


"…Kadang sesekali aku merasa bahwa aku tidak membutuhkan siapapun di sisiku. Maksudku, pasangan. Maka dari itu, ketika aku berhubungan dengan seorang lelaki terkadang aku terlalu bersikap cuek. Bisa dibilang rasanya berganti peran dengan pasanganku…"


"…Pria yang terlalu perhatian, dan aku yang terlalu dingin." Erina mengambil jeda sejenak. Meraih minumannya dan meneguknya perlahan.


"Aku sudah berhubungan dengan banyak pria, dan… ya, seperti itulah hubungan kami. Karena terus mendapatkan perlakuan yang sama, itu membuatku bosan. Maka dari itu, aku membutuhkan pria yang setara…"


"…Pria yang bisa lebih mendominasi hubungan denganku, lebih dewasa, dan bisa membuatku setidaknya memutuskan untuk mengirimkan pesan terlebih dulu padanya…"

__ADS_1


"…Sosok peran laki-laki yang aku butuhkan hanya agar aku bisa bersikap lebih seperti wanita."


...***...


__ADS_2