
Ah, benar-benar menyebalkan! Kenapa papa memintaku berdandan seperti ini? Aku 'kan masih harus bekerja sebelum berangkat. Padahal pakaian tadi sudah sangat sempurna.
Tapi bisa-bisanya dia meminta sekretaris Tan untuk mengantarkanku ke LBS dan mendandaniku.
Erina menggigit kuku jarinya dengan aura gelap yang kini menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ia benar-benar marah dan merasa tertipu karena mau saja di ajak Tan tanpa rasa curiga sama sekali.
Lain kali aku akan lebih berhati-hati pada Tan. Aku tidak boleh sampai kecolongan lagi. Erina mendelik pada pria yang dengan santai dan tak berdosanya malah sibuk dengan layar tabletnya.
Aku tampak mengerikan dengan mengenakan gaun seperti ini. Ini terlihat terlalu feminim, dan aku tidak menyukainya.
Dimana jati diriku yang sesungguhnya?!
Lagi-lagi Erina memekik dalam dirinya.
Drrttt…
Perhatian Erina pecah begitu mendengar ponselnya berbunyi. Ia segera mengecek panggilan yang baru saja masuk pada ponselnya.
Lili? Erina bergegas menekan tombol yang tertera di sana. Membuat sambungan telponnya terhubung dengan Liliana yang tengah mencoba menghubunginya.
"Halo, Erina?"
__ADS_1
"Ada apa, Lili?"
"Aku lupa mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus kau cek di sini. Bisakah kau datang sekarang?"
"Baik, aku akan segera ke sana. Kebetulan aku sudah selesai dengan urusanku."
"Sungguh? Syukurlah, kalau begitu aku menunggu."
"Ya. Sebentar lagi aku akan tiba. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Erina memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
"White Rest? Nona masih melakukan syuting di sana?"
"Ya. Jadi cepat antarkan aku ke sana. Ada yang harus aku selesaikan."
"Baik. Antarkan kami ke White Rest," tutur Tan pada pria yang mengemudi. Pria itu mengangguk sebagai jawaban dan mempercepat laju mobil mereka hingga tiba di White Rest.
...*...
"Ingat, jangan menghapus make-up anda! Kalau tidak, pak Danesha akan marah besar."
"Iya-iya, dasar cerewet!" tukas Erina sebal. Ia melangkah turun dari mobil.
__ADS_1
"Pak Danesha akan menghubungi anda saat akan berangkat."
"Aduh, iya Tan… cerewetmu itu melebihi nenek-nenek, ya!" kesal Erina yang membuat dua pria yang duduk di jok depan itu terkekeh mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu sampai nanti, nona." Tan beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Erina yang kini berdiri di tepi jalan.
Detik berikutnya Erina berbalik dan melangkah menuju pintu masuk White Rest. Restoran itu seperti biasanya di penuhi oleh pengunjung yang datang setiap harinya. Berdesakan hingga memenuhi meja.
Namun tetap tampak rapi dan nyaman karena mejanya dan ruangannya lebih besar dari banyaknya pengunjung yang datang.
Erina berjalan menyusuri tangga menuju lantai dimana Liliana dan pada crew sudah menunggunya untuk syuting hari ini. Kehadirannya saat dibutuhkan Liliana karena ada yang hendak dibahas oleh wanita itu mengenai pekerjaan mereka.
Aku tidak sempat membersihkan semua ini. Apakah lebih baik aku ke toilet sebentar? Erina menghentikan langkahnya.
Ia tidak nyaman berpenampilan seperti ini. Apalagi untuk bekerja. Erina baru akan melangkah menuju toilet. Berniat untuk membersihkan sedikit make-up yang memoles wajah cantiknya, tapi tiba-tiba…
Tep!
Sebuah tangan besar menepuk dan menarik pundaknya dari arah belakang. Erina tersentak dan refleks berbalik.
"Melody!" serunya.
Erina menoleh. Ia membulatkan mata saat sadar siapa yang kini berdiri dihadapannya.
...***...
__ADS_1