
"Raefal!" Malvin beralih fokus pada lelaki yang baru saja tiba dan langsung menjadi pusat perhatian semua orang itu.
Raefal mendongak, bersamaan dengan Agustina. Menatap pria yang kini menghampirinya.
"Malvin? Sedang apa kau di sini?"
"Aku memiliki urusan di sini. Kau sendiri?"
"Aku kemari untuk berbelanja beberapa barang."
"Begitu rupanya. Omong-omong lama tidak jumpa, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik. Kau juga sepertinya baik."
"Seperti yang lihat," tutur Malvin. Pria itu lantas beralih fokus pada wanita yang berdiri di samping Raefal. "Oh ya, dia siapa?"
"Ini sekretaris ku, namanya Agustina." Raefal memperkenalkan.
"Salam kenal, saya Agustina," tutur Agustina memperkenalkan diri.
"Aku Raefal, salam kenal."
"Kalau begitu, aku permisi dulu."
__ADS_1
"Baiklah, aku juga akan mengecek sesuatu."
Raefal beranjak meninggalkan Malvin yang kini hendak mengecek Sunee.
Agustina terdiam memperhatikan wajah pria yang menjadi atasannya.
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar pak Raefal bicara sesantai itu, biasanya dia bicara begitu formal. Tapi sepertinya dengan pria itu berbeda, tampak jelas kalau sepertinya mereka berteman baik sejak lama. Agustina membatin.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Raefal yang merasa terganggu dengan tatapan Agustina.
"Huh? Oh, saya hanya merasa agak kaget saja karena bapak bicara santai pada pria tadi."
"Kami sudah lama berteman baik. Dulu ketika saya masih tinggal di Dreamtopia, dia sudah banyak membantu saya."
Mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba di bagian busana pria. Agustina mulai membantu Raefal mencarikan pakaian yang cocok untuknya. Sebagai seorang sekretaris, tentunya dia sudah paham betul apa saja yang disukai oleh atasannya.
...*...
Erina melangkah keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang tadi dipilihkan oleh Liliana.
Wanita yang menjadi rekan kerjanya itu sudah menunggu di luar ruang ganti sejak tadi. Begitu menoleh, Liliana langsung terdiam tanpa kata melihat wanita itu telah berbalutkan gaun cantik yang dia pilihkan.
__ADS_1
"Wah…" Liliana speechless bukan main. Ia sampai tidak bisa berkata-kata untuk menggambarkan kekagumannya terhadap penampilan Erina saat ini.
"A-apakah ini tidak terlihat aneh? Aku merasa agak kurang percaya diri," gumam Erina yang merasa ragu kalau penampilannya bagus.
"Oh astaga, nona sangat cantik!" Salah seorang pegawai di sana berteriak heboh membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Fokus semua orang tertuju ke arahnya, mereka tampak berbinar menatapnya dengan kagum. Wajah Erina mendadak merona ketika tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian.
"Lihat? Sudah aku bilang pakaian itu cocok untukmu," tutur Liliana sambil tersenyum ke arahnya.
"Aku benar-benar merasa kurang percaya diri dengan penampilan seperti ini. Apakah sungguh tidak terlihat konyol?"
"Astaga, anda sangat cantik! Bahkan anda tampak sangat mirip dengan Melody, salah satu model busana yang memamerkan pakaian kami," kata pegawai tadi.
"Aku jarang berpenampilan seperti ini, jadi aku kurang percaya diri." Erina tercengir ke arahnya.
"Anda sepertinya harus melihat diri anda di cermin, agar anda tahu seberapa cantiknya anda," tutur si pegawai itu.
"Oh, benar! Ayo ikut aku!" Liliana menarik Erina menuju arah cermin besar yang ada tidak terlalu jauh di sana. "Lihat! Pandangi dirimu dengan teliti agar kau bisa melihat seberapa cantiknya kau mengenakan pakaian ini."
Erina memandangi dirinya di cermin.
...***...
__ADS_1