My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 19 - Bahagia?


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" tanya Liliana dengan raut wajah cemas. Erina hanya diam tanpa menjawab. Wajahnya merah padam, dan di dalam sana jantungnya berdebar hebat.


Entah kenapa, seharian ini Erina bersikap tidak normal. Beberapa kali, wanita itu melakukan hal konyol tanpa ia sadari.


Erina lebih banyak melamun, pekerjaannya jadi tidak fokus, dan hal itu membuat yang lainnya bingung akan sikap produser mereka yang tidak seperti biasanya.


"Erina!" Liliana mengguncang bahu wanita itu setelah tidak ada respon sama sekali darinya.


"Huh?" Erina tersadar dari lamunannya.


Bayangan Raefal yang tadi muncul dalam benaknya mendadak lenyap saat Liliana mengguncang bahunya kencang.


"Kau ini kenapa? Sejak tadi kau tidak fokus. Aku bicara denganmu dari tadi."


"Benarkah?" Erina menunjukkan wajah polosnya.


Liliana menghela napas panjang. Sudah ia duga kalau Erina memang tidak mendengarkannya sejak tadi.


"Apa yang mengganggumu? Kenapa kau bertindak tidak normal? Tidak biasanya kau seperti ini, dan kau juga tidak pernah sampai tidak fokus bekerja. Kau kenapa? Apakah kau sakit?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." Erina tersenyum simpul.


"Tidak mungkin. Wajahmu juga sangat merah." Liliana menempelkan punggung tangannya di kening Erina. "Keningmu juga panas, sepertinya kau demam. Apakah perlu aku antarkan kau pulang?"


"Aku sungguh baik-baik saja, Lili. Aku hanya sedang bahagia. Kau tahu sendiri 'kan, bagaimana aku kalau sedang bahagia?"


Liliana menaikkan sebelah aslinya. "Bahagia? Apa yang membuatmu begitu senang sampai-sampai tubuhmu sepanas ini?"


Liliana, dekat dengan Erina sudah seperti Erina dekat dengan sahabatnya yang lain. Liliana bisa dibilang tahu cukup jauh tentang Erina dan respon aneh tubuhnya ketika wanita itu terlewat bahagia. Seperti sekarang ini contohnya.


"Sepertinya… aku jatuh cinta lagi," gumam Erina.



"A… aku jatuh cinta lagi." Erina mengulang kalimatnya.


"Bagaimana bisa kau jatuh cinta padahal sudah jelas-jelas kau baru saja putus dari kekasihnya sebelumnya?" Liliana berucap dengan nada berat, ia masih syok dengan apa yang baru di dengarnya.


Jatuh cinta? Yang benar saja. Bagaimana bisa?! Erina baru saja putus dengan Vansh, lalu kurang dari kurun waktu dua hari, dia sudah bisa melupakan mantannya dan berpaling pada pria lain? Liliana tak mengerti kenapa Erina bisa begitu mudah melupakan seseorang yang sempat begitu berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


"Entahlah. Tapi yang jelas pertemuan pertamaku dengannya meninggalkan bekas yang begitu dalam di ingatanku." Erina kembali dibuat teringat akan kejadian pertama kali saat ia jatuh bertabrakan dengan Raefal.


Bukan first impression yang baik. Namun terkesan klise, apalagi kalau dirinya hidup dalam buku novel.


Liliana yang sedang berusaha mencerna apa yang diucapkan Erina barusan langsung dibuat beralih fokus saat ia mendapati Erina bangkit dari duduknya.


"Tolong gantikan tugasku untuk sementara waktu," kata Erina.


"Apa? Memangnya kau akan pergi kemana?"


"Ada yang harus aku lakukan. Kalau pria itu mencariku lagi, katakan saja kalau aku tidak akan pernah ingin bertemu dengannya lagi."


"Tapi…"


"Aku pamit dulu. Terima kasih, Lili. Aku sayang padamu." Erina memeluk Liliana sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Liliana yang masih berdiri dengan tubuh terpaku.


Otaknya lagi-lagi masih berusaha memproses setiap kejadian yang dialaminya. Sialnya otak Liliana selalu bergerak lambat saat dia syok.


...***...

__ADS_1


__ADS_2