My Sugar Daddy

My Sugar Daddy
Bab 34 - Hanya mengerjakan tugasku


__ADS_3

"Senang bertemu anda, nona!" katanya sambil tersenyum.


"Tapi aku tidak senang bertemu denganmu!" Erina dengan wajah pucat berusaha pergi. Tapi tampaknya akan sia-sia, apalagi Erina tahu begitu bagaimana Lin ini.


Lin, tidak akan membiarkannya lolos begitu saja. Maksudnya tidak sebelum dirinya benar-benar terlihat seperti apa yang diinginkan ayahnya.


"Girls!" Lin berteriak memanggil semua timnya.


"Yes, madame?" sahut beberapa wanita yang langsung muncul memenuhi panggilannya.


"Dandani dia!" Lin menunjuk Erina dengan tatapan intens.


Erina semakin pucat dibuatnya. Apalagi saat ia melihat berapa banyak orang yang akan membantunya berdandan kali ini.



...*...


Erina mengepalkan tangannya erat. Menahan emosi yang sudah memuncak dan nyaris meledak.

__ADS_1


"Siap!" Lin tersenyum melihat Erina yang kini tampak sangat cantik. Ia sudah mendandaninya sedemikian rupa hingga membuat Tan bahkan terkesima.


"Anda sangat cantik, nona." Tan ikut tersenyum melihatnya.


Erina mendelik ke arahnya dengan raut wajah kesal. Ia sungguh benci dengan penampilannya saat ini.


Erina menyambar ponselnya dan segera mencari nomor sang ayah guna protes atas apa yang telah dilakukannya.


Papa, kenapa tidak di angkat? Papa sengaja tidak ingin mengangkatnya karena tidak ingin mendengar ocehan ku 'kan? Menyebalkan. Erina menggerutu dalam hatinya.


"Arghh!" Erina kesal bukan kepalang. Dengan wajah merah, ia menoleh pada Tan yang sejak tadi berdiri menyaksikan prosesinya bertransformasi dari penampilan seorang wanita alpha menjadi wanita omega yang begitu mempesona.


"Pak Danesha sedang tidak bisa diganggu. Beliau akan menghubungi nona saat waktunya sudah dekat. Sekarang lebih baik kita kembali ke kantor."


"Aku tidak mungkin ke kantor dengan penampilan seperti ini! Menggelikan. Benar-benar bukan diriku." Erina menatap tubuhnya yang sudah berbalutkan gaun pendek yang begitu cantik.


"Anda tidak perlu insecure. Anda sungguh cantik, nona." Lin memujinya.


"Benar. Anda sangat cantik, dan saya yakin yang lain juga setuju dengan pendapat kami. Sekarang mari kita berangkat, anda masih harus pergi bekerja 'kan?" Tan meminta dua pria tadi untuk menariknya bangun dari tempat duduk.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Apa kata mereka kalau tau aku berpenampilan seperti ini!" Erina meronta. Tapi kalimatnya tak digubris sama sekali.


Dua pria tadi membawanya keluar salon dan memasukkan Erina ke dalam mobil.


Wanita itu tak dapat berbuat banyak. Terlebih ia mengenakan heels tinggi yang membuat geraknya terbatas.


"Terima kasih karena sudah menyelesaikan tugas dengan sangat baik. Pak Danesha pasti akan sangat senang melihat hasilnya." Tan berterima kasih padanya.


"Bukan masalah. Aku hanya mengerjakan tugasku, lagipula aku senang juga mendandani nona. Oh ya, katakan salamku pada tuan Danesha, dan ucapkan terima kasih karena telah mempercayakan hal ini padaku. Jika bisa, aku sangat ingin bertemu dengan beliau secara langsung untuk mengucapkan terima kasih. Tapi tampaknya beliau sedang sangat sibuk."


"Akan saya sampaikan pesanmu pada beliau." Tan berbalik meninggalkan LBS. Mengikuti Erina yang tadi sudah lebih dulu di seret paksa menuju mobil oleh dua pria kepercayaannya.


Lin hanya tersenyum seraya melambaikan tangan. Detik berikutnya, ia melihat Tan masuk dan meninggalkan area parkir.


Tan terduduk dengan tenang di samping Erina dalam mobil. Sementara keadaan begitu tenang, beda halnya dengan Erina yang kini tampak bersungut-sungut.


Perasaan wanita itu sangat bergemuruh.


...***...

__ADS_1


__ADS_2