
Erina: Sierra, aku dengar dari Laica kalau kau sedang ada di cafe di dekat toko buku yang biasa kita kunjungi bersama 'kan?
Erina: Kalau boleh aku ingin minta tolong. Beberapa jam yang lalu, Marciel mengirimkan pesan padaku dan memintaku datang ke taman tak jauh dari sana.
Erina: Tapi pesannya baru aku buka. Aku sudah berusaha menghubunginya, tapi dia tidak menjawab sama sekali.
Erina: Kalau kau bertemu dengannya, tolong katakan padanya aku tidak bisa datang.
Erina: Mengenai kesalahpahamanmu dengan Laica, akan ku jelaskan nanti ketika kita bertemu.
Beberapa pesan beruntun dari Erina yang tampaknya ingin bicara sejak tadi dengan Sierra tapi tak jadi karena ia sudah lebih dulu memutus sambungan telponnya.
"Aku tidak peduli! Kalian menyebalkan?!" teriak Sierra lagi dengan wajah kesal.
Suara melengkingnya membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Kasihan, padahal masih muda," bisik salah satu orang yang secara kebetulan melintas dihadapannya Sierra.
Sierra yang notabenenya memiliki pendengaran yang sensitif bisa dengan jelas mendengar bisikan mereka.
Sierra mendelik ke arah beberapa orang yang baru saja melintas itu dengan wajah kesal.
"Aku tidak gila!" teriaknya semakin naik pitam.
__ADS_1
Dengan langkah besar dia melangkah meninggalkan tempatnya, berlalu mencari tempat yang lebih tenang guna menjernihkan pikiran.
Sierra berjalan di sekitaran taman. Menghentikan langkahnya di tepi jalan guna menyeberang ke sebelah taman untuk mencari taksi kosong yang nantinya akan mengantarkan dia pulang.
Ketika sibuk menunggu lalulintas sepi, perhatian Sierra secara tidak sengaja tersita pada seorang pria yang duduk di bawah sebuah pohon di taman.
Lelaki itu duduk di sebuah bangku taman dengan keadaan menggigil hebat padahal tubuhnya berbalutkan mantel super tebal.
"Aneh," cibirnya.
"Kenapa dia duduk sendirian di sana? Sudah tahu kalau udara di luar sangat dingin, dia bahkan sampai menggigil seperti itu," gumamnya.
Sebuket bunga yang telah hancur berserakan di lantai tepat dihadapannya.
"Sepertinya lelaki itu sedang menunggu kekasihnya. Tapi kenapa bunganya berserakan di bawah begitu?"
Sierra terdiam sejenak. Ia mengerutkan kening saat menyadari hal yang mengganjal yang baru disadari yang sejak tadi.
"Tunggu dulu…"
Ia menyipitkan mata. Berusaha memperjelas sosok yang entah kenapa terasa tidak asing baginya.
__ADS_1
"Marciel?" Sierra membulatkan mata begitu sadar lelaki yang diperhatikannya sejak tadi adalah Marciel sahabatnya.
"Bodoh! Apa yang dia lakukan di situ." Dengan tergesa-gesa ia menyeberang ke arah taman dimana pria itu terduduk. Beruntung lalulintas langsung sepi ketika dirinya berjalan.
"Marciel!" panggilnya. Membuat sang empu yang terduduk dalam keadaan menggigil itu langsung mendongak ke arah datangnya suara.
"Sierra…" Marciel tertegun mendapati gadis itu muncul begitu saja. Refleks dirinya bangkit dari tempat duduknya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Bodoh!" makinya tanpa menghiraukan pertanyaannya.
"Huh?" Marciel menaikan sebelah alisnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sierra kini melontarkan pertanyaan yang sama dengannya.
"Aku sedang menunggu Erina. Aku dan dia janjian untuk bertemu di sini. Tapi sepertinya dia terlambat."
"Sejak kapan kau menunggunya?"
"Aku baru tiba…"
"Bohong! Hidungmu sampai merah begitu. Kau sudah menunggunya sejak berjam-jam yang lalu 'kan?"
"Bagaimana kau…" Marciel menggantungkan ucapannya. Jujur saja dia kaget.
__ADS_1
...***...