
Tring~
Dering ponsel membuat fokus Raefal beralih pada benda persegi yang sejak tadi tergeletak di samping layar komputernya.
Pria itu beralih sejenak guna meraihnya dan melihat panggilan dari siapa yang baru saja masuk.
Unknown. Tulisan itu tertera pada layar panggilannya yang hanya menampakkan sederet nomor tak di kenal yang menandakan bahwa nomor itu tidak tersimpan pada kontaknya.
Nomor tidak di kenal? Raefal memandanginya sejenak sebelum kemudian menggeser tombol hijau yang dalam sekejap menghubungkannya dengan si penelpon.
"Halo, bisakah aku berbicara dengan Raefal Virendra?" Suara wanita di seberang sana langsung menyapanya begitu telpon mereka terhubung.
"Ya, itu saya sendiri. Ini siapa?"
"Oh, ternyata benar ini memang nomor pribadimu. Sebelumnya kenalkan, aku Erina. Apakah kau masih ingat denganku?"
"Erina?" ulang Raefal dengan nada bingung.
"Sudah kuduga kau tidak ingat denganku. Aku adalah wanita yang sempat kau tabrak beberapa hari yang lalu, ingat? Saat itu kau buru-buru dan kau memintaku untuk pergi ke rumah sakit sendiri karena kau tidak bisa mengantarkanku. Lalu kau memintaku untuk menghubungimu lagi 'kan?"
__ADS_1
"Oh ya, saya ingat. Jadi, anda telpon karena ingin menagih biaya perawatan? Berapa jumlahnya? Biar saya urus semuanya."
"Sebelumnya aku minta maaf karena baru sempat mengabarimu, akhir-akhir ini aku sibuk dengan pekerjaanku. Lalu, aku menelpon bukan karena itu. Dokter rumah sakit bilang kalau lukaku tidak terlalu parah dan aku langsung boleh pulang hari itu juga. Tidak perlu pikirkan biaya rumah sakitnya karena aku bisa mengungkapkan uangku sendiri."
"Lalu, kenapa anda menelpon?"
"Aku menelpon karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kalau bisa, aku ingin bertemu denganmu secara langsung."
"Huft~" Raefal menghela napas berat. Ini yang ia cemaskan jika melakukan kesalahan. Harus berurusan panjang dengan seseorang yang baru dikenalnya, dan ujung-ujungnya pasti merepotkan. Apalagi yang berurusan dengannya adalah seorang wanita.
Sudah kuduga, ini pasti akan merepotkan, batinnya.
"Ya."
"Jadi bagaimana?"
"Saya tidak bisa. Saya sibuk. Kalau memang ada yang ingin anda katakan, maka katakan saja sekarang."
"Aku tidak ingin mengatakannya di telpon."
"Kalau begitu, tidak perlu anda katakan. Akan saya tutup telponnya."
__ADS_1
"Tidak, tunggu! Oh ayolah, aku hanya ingin bertemu sebentar saja. Paling tidak sekitar lima sampai sepuluh menit saja sudah cukup. Aku sungguh tidak bisa bicara lewat telpon, lagipula kau pikir hanya kau saja yang memiliki kesibukan?"
"Dengar nona! Saya benar-benar tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan anda." Raefal menekan kalimatnya. Berharap dengan begitu, Erina mengerti kalau dia tidak ingin bertemu dengannya.
"Aku hanya meminta waktumu sebentar."
"Tapi untuk apa? Kenapa anda ingin bertemu dengan saya, dan apa yang ingin anda katakan?"
"Pokoknya tidak bisa aku katakan di telpon. Temui aku di Black Cafe besok siang. Aku menunggumu, dan aku tidak akan pergi sebelum kau datang. Ingat itu!" pungkas Erina cepat.
"Harus saya katakan berapa kali kalau…"
"Sampai jumpa besok siang. Oh ya, jangan lupa simpan nomorku." Tanpa permisi, wanita itu langsung memutus sambungan telponnya sebelum Raefal selesai bicara.
Tutt…
Sambungan telponnya terputus. Raefal memandang layar ponselnya yang menampilkan panggilan telah berakhir.
Benar-benar merepotkan. Dia bahkan sangat memaksa untuk bertemu denganku.
...***...
__ADS_1