
"Sebenarnya kita akan kemana?" tanya Erina sambil menatap Tan yang kini duduk disampingnya.
Mereka berada dalam mobil. Sejak meninggalkan kantor, Erina di bawa ke dalam mobil yang langsung melaju begitu saja.
"Anda akan tahu begitu kita tiba." Tan hanya tersenyum simpul, kemudian kembali fokus pada layar tablet dalam genggamannya.
Ada yang tidak beres. Entah kenapa tapi perasaanku mendadak tidak enak, pikir Erina yang merasakan keganjilan sejak tadi.
Mereka terus melaju hingga akhirnya tiba di tempat parkir. Erina menoleh keluar jendela.
Ia membulatkan mata begitu melihat apa yang kini berdiri dihadapannya.
LBS atau Lilac boutique & Salon. Salah satu salon yang juga memiliki butik pribadi langganan keluarganya.
Erina benci tempat ini! Demi apapun, tempat ini adalah tempat yang paling ingin ia hindari dalam hidupnya.
"Kita sudah sampai." Tan menoleh pada Erina. Pria itu lagi-lagi tersenyum penuh arti.
Erina mulai berubah pucat.
__ADS_1
Sial! Aku kecolongan, pikirnya.
"Mari ikut saya." Tan melangkah keluar dari dalam mobil dengan dua pria yang sejak tadi berada di jok depan.
"Tidak! Aku tidak akan ikut. Aku tidak akan ke sana!" teriak Erina histeris.
Satu pria masuk kembali dan membantu membujuk Erina untuk keluar. Pria lain membuka pintu mobilnya tempat disisi mana ia duduk.
"Aku tidak ingin ke sana!" teriak Erina sambil terus memberontak saat pria itu berhasil membuka pintu dan menarik tangannya.
"Anda harus bersiap. Pak Danesha yang memintanya sendiri." Tan berucap dengan tenang.
Pria itu berhasil menarik Erina keluarga dari dalam mobilnya.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Erina terus meronta.
Dua pria itu langsung mengangkat tubuh Erina. Membuat kakinya melayang di udara. Salah satu pria itu membekap mulut Erina agar tidak berteriak.
Semua orang yang berlalu-lalang di sekitar jalan sana seketika menoleh ke arah mereka. Membuat mereka jadi pusat perhatian.
"Hmph!" Erina terus berusaha berteriak sambil berontak.
__ADS_1
"Lebih baik anda menurut daripada pak Danesha marah. Ayo masuk!" Tan dengan santainya berjalan menuju pintu masuk dengan dua pria yang kini membawa Erina. Keduanya tampak bergeming menanggapi Erina yang terus memberontak berusaha melarikan diri.
Tan membawanya masuk ke dalam sana.
"Nona Lin!" panggil Tan begitu tiba di dalam.
Wanita yang dipanggilnya itu lantas bergegas menghampiri mereka.
"Lepaskan aku!" teriak Erina begitu dua pria tadi berhasil mendudukkan di atas salah satu kursi yang ada di sana. "Sudah aku bilang, aku tidak ingin—akh…" Erina berusaha bangkit, tapi dua pria tadi menahannya.
"Tolong kerjakan sesuai permintaan pak Danesha," kata Tan pada Lin.
"Siap, dengan senang hati aku akan mengerjakannya." Lin tersenyum simpul lebar. Ia segera menghampiri Erina.
Brakk!
Erina tercekat saat Lin tiba-tiba memutar kursinya dan mendorong tangannya hingga berhantaman keras dengan sandaran kursi yang didudukinya.
Erina mendongak, beradu tatap dengan Lin dengan wajah pucat. Wanita yang ditatapnya tersenyum penuh arti.
"Senang bertemu dengan anda lagi, nona." Lin kegirangan. Memang sudah menjadi ciri khas wanita itu yang selalu ceria.
__ADS_1
"Tapi aku tidak!"
...***...