
Erina berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya tiba di depan sebuah ruangan di lantai paling atas tempat dimana ruang kerja sang ayah berada.
Tiba di sana, Erina tidak dapat melihat keberadaan sekretaris ayahnya di meja.
"Sekretaris Tan tidak ada di mejanya, apa itu artinya dia sedang pergi bersama papa?" Erina beranjak menghampiri pintu. Mengetuknya pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk mendorong kenop pintu itu.
"Pak Danesha, anda mencari saya?" Erina mengedarkan pandangannya, mencari sosok sang ayah di dalam sana. Tapi begitu melihat ke dalam, ia sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan ayahnya di manapun.
"Sepertinya papa memang benar-benar sedang pergi dengan sekretaris Tan."
"Tapi kenapa papa ingin bertemu denganku, ya?"
Erina mengerutkan kening, berusaha mencaritahu apa yang diinginkannya ayahnya sampai memintanya untuk bertemu. Tapi berapa lama pun Erina memikirkannya, tetap saja ia tidak dapat menemukan jawabannya.
...*...
"Kau sudah menemui pak Danesha?" tanya Liliana begitu melihat Erina kembali setelah cukup lama pergi sejak kedatangannya ke kantor.
"Beliau tidak ada di ruangannya, sepertinya sedang pergi bersama sekretaris Tan. Aku juga sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak diangkat."
"Begitu rupanya…"
__ADS_1
"Apakah beliau benar-benar tidak bicara apa-apa padamu? Apa dia menjelaskan mengenai alasan kenapa ingin bertemu denganku?"
"Aku tidak tahu, Erina. Yang jelas, beliau meminta untuk bertemu. Itu saja yang aku tahu."
"Sepertinya aku harus coba menghubunginya lagi."
"Ya, lebih baik seperti itu."
...*...
Raefal terdiam seribu bahasa. Demi apapun, ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia tidak bisa fokus dalam bekerja.
Sejak pertemuannya dengan Erina siang ini, Raefal terus saja kepikiran mengenai setiap kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu. Tentang tingkah anehnya, yang benar-benar baru pertama kali Raefal temui dari seorang wanita.
Dia benar-benar wanita aneh yang pernah aku temui dalam hidupku, pikir Raefal.
Sugar daddy katanya? Yang benar saja…
Raefal menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha memfokuskan diri pada semua pekerjaannya lagi.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah memikirkan wanita aneh itu?"
"Seharusnya aku fokus bekerja!"
__ADS_1
Raefal memonolog. Ia kembali berusaha fokus pada pekerjaannya. Tapi sialnya tidak bisa.
Otaknya terus menolak, dan malah terus kepikiran akan Erina.
Sial! pikirnya. Raefal menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menengadahkan kepalanya. Menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Aku tidak bisa fokus," lirihnya.
Ting!
Pesan masuk membuat perhatiannya tersita. Raefal meraih ponselnya, mengecek notifikasi yang baru saja masuk.
Ia menekan notifikasi yang muncul. Layar sistem pada ponselnya membawa Raefal pada aplikasi perpesanan.
Begitu hendak menekan pesan yang baru masuk, perhatiannya mendadak tersita oleh tab pesan antara dirinya dan Erina beberapa saat yang lalu.
Alih-alih membaca pesan baru. Raefal justru malah membuka ruang obrolannya terakhir kali dengan Erina.
Di chat terakhir, Erina mengirimkan sebuah foto kartu nama dengan pesan teks di bawahnya yang berbunyi, "Aku lupa memberikan kartu namaku padamu. Tidak ada tujuan apapun, aku hanya ingin membalasmu karena sudah memberikan kartu namamu padaku."
Raefal menekan gambar itu. Menatap kartu nama yang di potret Erina dan dikirimkan padanya.
"Erina Danesha? Dia bekerja di DTS? Bukankah ini adalah salah satu stasiun televisi?" gumamnya.
__ADS_1
Raefal beralih dari ponselnya.
...***...